Bisnis.com, JAKARTA - Iran menunjuk putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei (56 tahun) sebagai pemimpin tertinggi yang baru.
Mojtaba Khamenei, memenangkan pemungutan suara di Majelis Pakar Iran. Bloomberg yang mengutip kantor berita semi-resmi Iran menyebut Mojtaba telah terpilih semenjak kemarin tetapi pemerintah menunda pengumuman tersebut. Terpilihnya putra Khamenei ini sendiri mendapat dukungan dari pasukan Korps Garda Revolusi Islam Iran. Korps yang memiliki pengaruh besar dalam kelanjutan perang Iran Vs Amerika-Israel itu berjanji untuk sepenuhnya patuh kepada pemimpin baru dalam sebuah pernyataan.
Di tengah penetapan pemimpin baru, Iran terus mengirim serangan rudal dan drone ke pangkalan Amerika di seluruh Teluk Persia dan Israel. Negara Persia itu mengatakan mereka memiliki kemampuan untuk mempertahankan perang selama berbulan-bulan.
Dalam pertempuran hari ke-9, Israel menyerang tangki minyak di Teheran dan jaringan listrik. Sementara itu Pemerintah Bahrain mengatakan bahwa pabrik desalinasi air di Bahrain mengalami kerusakan material akibat serangan pesawat tak berawak Iran, dan menambahkan bahwa tidak ada dampak pada pasokan air.
Perkembangan terbaru ini telah membuat harga minyak melonjak jauh di atas US$100 per barel pada pembukaan perdagangan. Kontrak berjangka indeks ekuitas AS turun seiring dimulainya kembali perdagangan di Asia, sementara dolar menguat.
Melansir Bloomberg, Senin (9/3/2026), harga minyak mentah Brent meroket hingga 20% menjadi US$111,04 per barel pada pembukaan perdagangan, sementara West Texas Intermediate naik hingga 22%.
Baca Juga
- Investor Ramai-Ramai Tarik Dana, BlackRock Batasi Pencairan HLEND
- Rencana Obligasi per Maret Capai 20 Emisi, Sektor Keuangan Mendominasi
- RI Adukan Uni Eropa Dispute ke WTO Soal Sawit
Lonjakan harga ini menyusul langkah para produsen minyak besar, seperti Uni Emirat Arab dan Kuwait, yang mulai mengurangi produksi karena kapasitas penyimpanan penuh akibat penutupan Selat Hormuz. Irak juga telah menutup sebagian produksinya sejak pekan lalu.
Perang di Timur Tengah tidak menunjukkan tanda-tanda mereda setelah serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran lebih dari sepekan lalu. Penghentian pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur laut sempit yang biasanya menangani sekitar seperlima pasokan minyak dunia, serta serangan terhadap infrastruktur energi telah mendorong kenaikan harga minyak mentah dan gas alam.





