Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 16.919 per Jumat, 6 Maret 2026. Posisi rupiah itu melemah 33 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 16.886 pada perdagangan Kamis, 5 Maret 2026.
Sementara perdagangan di pasar spot pada Senin, 9 Maret 2026 hingga pukul 09.31 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 16.986 per dolar AS. Posisi itu melemah 61 poin atau 0,36 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 16.925 per dolar AS.
- Pixabay/IqbalStock
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pemerintah berupaya mengerek tax ratio alias rasio pajak usai hal itu menjadi salah satu pertimbangan lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings, yang menurunkan prospek (outlook) Indonesia dari stabil menjadi negatif.
Adapun dalam satu dekade terakhir, tax ratio Indonesia selalu berada di kisaran 9-10 persen terhadap PDB. Bahkan, angkanya cenderung menurun seperti yang terjadi pada tahun lalu dari 10,08 persen pada 2024 menjadi 9,31 persen pada 2025.
Fitch sendiri memproyeksikan bahwa rasio pendapatan negara terhadap PDB Indonesia hanya akan mencapai rata-rata 13,3 persen terhadap PDB selama periode 2026-2027, jauh tertinggal dari median negara setara di kategori 'BBB' yang berada di level 25,5 persen.
Pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan, salah satu upaya yang sedang didorong untuk mengerek penerimaan bersama Kementerian Keuangan adalah implementasi pembaruan sistem inti administrasi perpajakan alias Coretax.
Revisi prospek dari Fitch tersebut menjadi perhatian khusus pemerintah, yang akan mengevaluasi dan memperbaiki arah kebijakan ke depan terutama dalam memitigasi risiko dari sisi penerimaan negara yang dinilai lemah oleh Fitch.
Selain itu, pemerintah menanggapi sorotan Fitch terhadap tingginya belanja sosial pemerintah, khususnya program MBG yang menelan porsi 1,3 persen terhadap PDB untuk periode 2025-2029. Hal itu dinilai Fitch menjadi motor penggerak utama beban pengeluaran.
"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 16.850-Rp 17.100," ujarnya.





