PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mencatat pertumbuhan pendapatan sepanjang 2025, meskipun laba bersih mengalami penurunan. Emiten berkode saham PGEO tersebut membukukan total pendapatan sebesar USD432,73 juta atau sekitar Rp7,35 triliun (estimasi kurs Rp16.988 per USD).
Angka itu meningkat 6,29% secara tahunan dibandingkan pendapatan pada periode yang sama tahun 2024 yang tercatat sebesar USD407,12 juta. Namun demikian, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk justru turun 14,2% menjadi USD137,69 juta, dari capaian 2024 sebesar USD160,49 juta.
“Capaian ini menunjukkan kinerja PGE yang tetap berada pada jalur yang sehat, mencerminkan fundamental keuangan Perseroan yang kuat. Kondisi tersebut turut didukung oleh kinerja operasional yang mencatatkan produksi tertinggi sepanjang sejarah atau all-time high dengan kenaikan produksi sebesar 5,6 persen pada 2025," kata Direktur Keuangan PGEO, Yurizki Rio.
Dari sisi neraca, total aset PGEO tercatat meningkat menjadi USD3,03 miliar dari sebelumnya USD2,99 miliar. Liabilitas perusahaan USD988,88 juta, sedikit naik dari posisi sebelumnya USD988,65 juta. Sementara itu, ekuitas meningkat menjadi USD2,04 miliar dari USD2 miliar. Perseroan juga mencatat kas dan setara kas sebesar USD718,50 juta.
Baca Juga: PGEO Tuntaskan Pemipaan Sumur Produksi Kamojang, Tambah Kapasitas 23,8 MW
Di tengah kinerja tersebut, Direktur Utama PGEO, Ahmad Yani, menegaskan perusahaan menargetkan pertumbuhan berkelanjutan dengan memaksimalkan potensi panas bumi nasional.
“PGE memiliki visi untuk berkembang menjadi world leading geothermal producer. Artinya, tidak hanya unggul dari sisi kapasitas terpasang, tetapi juga diakui sebagai geothermal center of excellence di tingkat global," ujarnya.
Untuk mewujudkan target tersebut, PGEO menjalankan tiga strategi utama, yakni menjaga keandalan operasional pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) eksisting dengan kapasitas total 727 megawatt (MW) yang dikelola secara mandiri, mempercepat ekspansi bisnis, serta mengembangkan sumber pendapatan masa depan atau future revenue streams. Seluruh strategi ini dijalankan dengan prinsip kehati-hatian, disiplin investasi, serta komitmen terhadap aspek ESG.
Yurizki menambahkan, perusahaan kini fokus memperkuat pertumbuhan jangka panjang melalui berbagai proyek quick win yang bertujuan meningkatkan kapasitas terpasang sekaligus produksi panas bumi. Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat kinerja keuangan perusahaan secara berkelanjutan.
“Di saat yang sama, PGE juga terus memperluas kapasitas terpasang melalui sejumlah proyek strategis di berbagai wilayah kerja panas bumi. Dalam jangka panjang, Perseroan menargetkan kapasitas terpasang hingga 3 gigawatt (GW) yang telah teridentifikasi dari 15 Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) yang dikelola," ujar Yurizki.
Baca Juga: PGE Jajaki Pasar Global, Flow2Max Siap Dipasang di Lapangan EDC Filipina
Sejumlah proyek strategis pun tengah dikembangkan untuk mendukung target tersebut. Di antaranya pengembangan Lumut Balai Unit 3 dan 4 dengan kapasitas 2×55 MW, Hululais Unit 1 dan 2 sebesar 110 MW, serta Lahendong Unit 7 dan 8 masing-masing 2×20 MW ditambah Binary Unit berkapasitas 10 MW. Selain itu, PGEO juga mengembangkan proyek co-generation dengan total kapasitas mencapai 230 MW.
Perseroan juga memperkuat sinergi dengan BUMN lain guna mempercepat pengembangan energi panas bumi. Pada Agustus lalu, PGEO menjalin kerja sama dengan PT PLN Indonesia Power untuk mengembangkan 19 proyek panas bumi eksisting dengan total kapasitas 530 MW. Melalui kolaborasi tersebut, potensi tambahan kapasitas diperkirakan dapat mencapai hingga 1.130 MW dari wilayah kerja yang telah berproduksi maupun area prospektif baru.
Langkah ini sekaligus mempertegas peran PGEO dalam mendukung target peningkatan kapasitas pembangkit energi baru terbarukan hingga 76% pada periode 2025–2034 sebagaimana tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).





