Momentum Peringati Hari Musik Nasional, Rieka Roslan Desak Perbaikan Tata Kelola Royalti

suarasurabaya.net
8 jam lalu
Cover Berita

Memperingati Hari Musik Nasional, Rieka Roslan musisi sekaligus penulis lagu menekankan pentingnya perbaikan tata kelola industri musik Indonesia, terutama terkait kesejahteraan pencipta lagu dan perlindungan hak cipta.

Rieka menyoroti isu royalti yang hingga kini masih menjadi perjuangan berat bagi para musisi. Menurutnya, penghormatan terhadap sebuah karya seni tidak boleh hanya berhenti pada apresiasi verbal, melainkan harus menyentuh aspek ekonomi yang berkeadilan.

“Jangan mikir bahwa pencipta itu harus menjadi seni. Berarti kalau gitu Anda juga boleh makan di restoran tanpa bayar. Kenapa saat penulis lagu sekarang bergerak untuk mendapatkan haknya, semua dinilai seperti kita mata duitan? Padahal sedang mengupayakan untuk mendukung keberlangsungan. Musik adalah hiburan, tapi jangan sampai yang bikin tidak terhibur,” ujar mantan vokalis The Groove ini saat on air di program Wawasan Suara Surabaya, Senin (9/3/2026).

Rieka menambahkan bahwa tata kelola musik Indonesia saat ini harus segera diperbaiki, agar mampu memberikan hak yang layak kepada mereka yang meluangkan waktu untuk berkarya.

Ia mencontohkan banyan nasib para penulis lagu yang hidup dalam garis kemiskinan di hari tua mereka, akibat sistem royalti yang tidak berjalan semestinya.

“Saya mempunyai data banyak sekali penulis lagu dulu-dulu yang kehidupannya sakitnya enggak bisa berobat, meninggal dalam kondisi tidak tertolong karena memang kurang biaya. Jangan diulangi dong,” tegasnya.

Menurutnya, momentum hari besar musik ini harus menjadi titik balik agar ekosistem musik Tanah Air tidak hanya kuat sebagai tuan rumah di negeri sendiri, tetapi juga mampu menjamin masa depan para pelakunya.

Kondisi industri yang belum berpihak pada pencipta lagu ini, diakuinya mulai berdampak pada produktivitas seniman. Bahkan setelah berkarier selama tiga dekade, ia mengaku sempat kehilangan gairah untuk melahirkan karya baru karena merasa apresiasi ekonomi yang diterima melalui royalti sangat tidak sebanding dengan proses kreatif yang dilakukan.

“Jujur, setelah saya 30 tahun ini dan saya menyimak hasil royalti yang saya dapatkan, saya jadi malas nulis lagu seperti itu. Karena untuk apa menulis kalau akhirnya seperti ini?” ucapnya.

Melalui momentum Hari Musik Nasional ini, dia berharap adanya sinergi yang lebih kuat antara pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan dan para pelaku industri. Agar, aset tidak hanya dilihat secara nilai, tapi juga mampu menghidupi para penciptanya.

“Musik adalah hiburan, tapi yang bikinnya tidak terhibur. Harapan saya, penciptanya juga harus sejahtera, semuanya harus sejahtera,” jelasnya.

Terkait langkah pemerintah mendorong musik dangdut agar diakui oleh UNESCO, Rieka memberikan dukungan penuh. Ia menyamakan posisi musik dengan aset budaya lain seperti batik dan kebaya, yang harus dikukuhkan identitasnya sebagai milik Indonesia.

“Satu yang tidak akan habis aset Indonesia adalah budaya. Karena budaya itu walaupun bisa diduplikasi, jiwanya kan enggak bisa. Ini adalah aset negara yang diturunkan oleh Tuhan kepada manusia yang harus dijagain. Tapi manusianya ini harus dijagain juga agar sejahtera,” tegas Rieka.

Lebih lanjut, pada kesempatan itu Rieka turut memaparkan pengamatannya terkait fenomena pengulangan tren di mana musik Indonesia kembali mengambil esensi dari era 80-an dan 90-an. Baginya, musik adalah sebuah estafet yang terus berputar mengikuti zaman, namun tetap memiliki titik temu pada kualitas lirik dan rasa.

“Musik itu menurut aku berputar terus dan kembali ke titik dahulu lah. Musik mengambil lagi esensial tahun 80-90 sekarang ini ya. Musik itu adalah estafet, tinggal giliran aja sekarang siapa yang lagi di atas, siapa sekarang yang lagi mampu mencetak hits. Tapi itu pengulangan kok, genre musiknya pun, penyanyinya pun, pengulangan semuanya,” ungkapnya.

Rieka juga membandingkan kemudahan musisi muda di era digital saat ini, dibandingkan eranya merintis karier dulu yang masih menggunakan pita rekaman. Ia menilai teknologi saat ini memberikan ruang yang sangat luas bagi kreativitas tanpa harus bergantung sepenuhnya pada label besar.

“Anak-anak sekarang sih lebih mujur, lebih mudah. Kalau dulu kan harus dalam bentuk kaset atau CD. Sekarang tinggal jempol bermain, musik jadi. Dulu TV menuntut kita mengeluarkan yang industri mau, label juga seperti itu. Kalau sekarang bisa YouTube naikin sendiri, digital tinggal daftar sendiri, bikin video juga mudah pakai handphone,” pungkasnya. (bil/iss)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kegelisahan Shireen Sungkar Sebelum Vidi Aldiano Berpulang, Pesan WA Tak Dibalas di Hari Meninggalnya Sang Sahabat
• 8 jam lalugrid.id
thumb
Kaledonia Baru Berpeluang Cetak Sejarah Lewat Play-off Piala Dunia 2026
• 20 jam lalutvrinews.com
thumb
Datangi Ponpes Sukabumi, Bahlil Disebut Kancilnya Golkar
• 23 jam lalukompas.com
thumb
Mantan Pelatih Timnas Indonesia Ini Resmi Mualaf, Sang Anak Ungkap Rasa Bangga
• 9 jam lalutvonenews.com
thumb
KAI dan Kejaksaan Agung Perkuat Sinergi Pengelolaan Aset dan Pengembangan Layanan Kereta Api
• 23 menit lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.