Sering Makan Saat Stres atau Sedih? Bisa Jadi Kamu Alami Emotional Eating

kumparan.com
14 jam lalu
Cover Berita

Pernah nggak sih, saat sedang stres atau sedih tiba-tiba ingin makan sesuatu? Atau ketika merasa tertekan, justru mencari makanan sebagai pelampiasan? Ternyata kebiasaan ini cukup umum terjadi dan dikenal dengan istilah emotional eating.

Emotional eating adalah perilaku makan yang dipicu oleh emosi, bukan karena rasa lapar. Menurut dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Reisi Nurdiani, banyak orang tanpa sadar menjadikan makanan sebagai pelarian ketika menghadapi stres atau cemas.

Emotional eating itu salah satu bentuk perilaku makan yang merujuk pada kecenderungan seseorang mengonsumsi makanan karena kendali emosi, bukan karena lapar,” ujarnya dalam IPB Podcast yang tayang di kanal YouTube IPB TV seperti dikutip dari laman IPB University, Senin (9/3).

Menurut Reisi, pemicu emotional eating tidak selalu emosi negatif, perasaan bahagia juga bisa membuat seseorang makan lebih banyak, misalnya sebagai bentuk perayaan. Namun, masalah bisa muncul jika kebiasaan ini terjadi terlalu sering dan menjadi cara utama untuk mengatasi stres.

Beberapa tanda emotional eating antara lain makan meski tidak lapar, sulit mengontrol porsi, hanya menginginkan makanan tertentu, serta muncul rasa bersalah setelah makan. Jika kondisi ini sering terjadi, Reisi menyarankan untuk berkonsultasi dengan psikolog terlebih dahulu sebelum mendapat pendampingan dari ahli gizi.

Reisi menjelaskan bahwa secara umum ada tiga jenis perilaku makan, yaitu emotional eating, external eating, dan restrained eating. Pada emotional eating, seseorang makan karena dipengaruhi emosi.

Sementara, external eating terjadi karena adanya rangsangan dari luar, seperti melihat makanan yang terlihat menggoda. Adapun restrained eating berkaitan dengan kebiasaan membatasi makan secara sadar, biasanya karena ingin menjaga berat badan.

Menurut Reisi, emotional eating paling sering terjadi pada remaja hingga dewasa awal. “Pada masa remaja dan dewasa awal, performa tubuh sedang baik, tetapi tekanan juga tinggi, sehingga peluang terjadinya emotional eating menjadi lebih besar,” katanya.

Jika tidak dikendalikan, kebiasaan ini bisa berdampak pada kesehatan. Sebab, orang yang mengalami emotional eating biasanya cenderung memilih comfort food yang tinggi gula dan lemak. Jika dikonsumsi berlebihan dalam jangka panjang, hal ini dapat meningkatkan berat badan, memicu obesitas, hingga meningkatkan risiko penyakit degeneratif.

Bahkan dalam kondisi tertentu, emotional eating juga dapat berkembang menjadi gangguan makan seperti Binge Eating Disorder.

Cara Mengendalikan Emotional Eating

Reisi menekankan bahwa langkah pertama untuk mengatasi emotional eating adalah belajar mengelola emosi dengan baik. “Yang pertama adalah kita harus mampu mengendalikan emosi, karena itu pemicu utamanya,” katanya.

Selain itu, ia juga menyarankan untuk menerapkan pola makan dengan gizi seimbang serta konsep mindfulness eating. Konsep ini mengajak seseorang untuk makan secara sadar dan memahami manfaat makanan bagi tubuh.

Beberapa cara lain yang juga bisa membantu antara lain rutin berolahraga, melakukan relaksasi, mencari dukungan dari orang terdekat, serta mengatur jadwal aktivitas sehari-hari agar stres lebih terkendali.

Pada akhirnya, penting untuk diingat bahwa makanan bukanlah solusi utama untuk mengatasi stres. Dengan mengelola emosi dan memahami kebutuhan tubuh, hubungan dengan makanan pun bisa tetap sehat dan seimbang.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
TERPOPULER: Kondisi Terakhir Vidi Aldiano Sehari Sebelum Meninggal hingga Penyakit Lain yang Diderita Selain Kanker
• 1 jam laluviva.co.id
thumb
Satgas Kumpulkan 2.684,51 Kubik Kayu Hanyut Pascabanjir Sumatera
• 8 jam lalukompas.com
thumb
Menlu China Desak AS-Iran Hentikan Perang: Senjata Adalah Alat Malapetaka
• 23 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Diduga Depresi Putus Cinta, Pemuda di Tasikmalaya Nekat Tegak Racun Tikus Campur Kopi
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
10 Tahun Setia, Prilly Latuconsina Ungkap Soal Film Terakhirnya di Danur: Last Chapter
• 9 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.