Konflik Timur Tengah Dongkrak Harga Aluminium, Peluang Baru bagi Emiten INAI

katadata.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

Harga aluminium global melonjak ke level tertinggi dalam hampir empat tahun seiring meningkatnya konflik di Timur Tengah yang memperburuk prospek pasokan aluminium dari kawasan tersebut. Kondisi ini membuka peluang baru bagi perusahaan aluminium yang tercatat di pasar modal Indonesia, PT Indal Aluminium Industry Tbk (INAI).

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) secara intraday pada Senin (9/3), harga saham INAI sempat melonjak 12,12% ke level 222 pada pukul 09.23 WIB. Valuasi sahamnya senilai Rp 591,52 juta. Saham INAI menghijau di tengah anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini. Indeks turun 3,42% ke level 7.326 pada pukul 9.57 WIB.

INAI adalah produsen aluminium ekstrusi di Indonesia yang berdiri sejak 1971 dan menjadi bagian dari Maspion Group. Perusahaan ini memproduksi berbagai profil aluminium untuk kebutuhan konstruksi, otomotif, komponen elektronik hingga panel surya.

Produk perusahaan antara lain pintu dan jendela bermerek Homelux serta berbagai komponen aluminium untuk industri. Perseroan mulai melantai di bursa sejak 1994.

Selain INAI, Indonesia juga memiliki produsen aluminium berskala besar yakni PT Indonesia Asahan Aluminium atau Inalum. Perusahaan ini merupakan produsen tunggal aluminium ingot di Indonesia dengan kapasitas produksi mencapai 250.000 ton per tahun.

Cakupan bisnis Inalum meliputi produksi alumina, pengolahan kalsinasi kokas, peleburan aluminium, hingga pemasaran dan distribusi produk turunannya. Perusahaan juga mengoperasikan pembangkit listrik secara mandiri untuk mendukung kegiatan produksi.

Melalui MIND ID, Pemerintah Indonesia saat ini menguasai 100% saham Inalum.

Meski belum menjadi perusahaan terbuka, Inalum sempat membuka peluang untuk melakukan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) di BEI. Namun saat ini perusahaan masih fokus pada pengembangan fasilitas pengolahan dan pemurnian aluminium serta proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat.

Chief Financial Officer (CFO) Inalum, Ken Permana mengatakan, perusahaan masih mengeksplorasi berbagai sumber pendanaan, termasuk fasilitas perbankan dan penerbitan obligasi di pasar modal.

“Untuk pasar modal kami juga akan eksplor instrumen obligasi baik domestik maupun global terlebih dahulu, baru kemudian lihat potensi equity capital market,” kata Ken kepada Katadata.co.id, Selasa (24/2).

Sementara itu, Danantara juga mendorong perusahaan BUMN untuk melantai di bursa guna meningkatkan nilai perusahaan. Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengatakan pihaknya tengah menjalankan strategi penciptaan nilai termasuk menentukan perusahaan yang berpotensi melakukan IPO.

Namun untuk tahun ini Danantara belum merencanakan penawaran umum perdana saham BUMN.

Harga Aluminium Tertinggi sejak 2022

Merujuk Bloomberg, di pasar global, harga aluminium melonjak hingga 1,6% menjadi US$ 3.499,50 per ton di London Metal Exchange, level tertinggi sejak April 2022.

Kenaikan ini terjadi setelah harga aluminium melonjak hampir 10% sepanjang pekan lalu akibat perang yang mengganggu pengiriman dari kawasan Teluk Persia. Wilayah tersebut menyumbang sekitar 9% pasokan aluminium global.

Para pembeli aluminium di AS kini bergegas mencari pasokan alternatif dari Asia setelah setidaknya dua smelter besar di Timur Tengah, masing-masing di Qatar dan Bahrain yang terpaksa menghentikan pengiriman.

Analis Shuohe Asset Management Co, Gao Yin, mengatakan konflik yang berkepanjangan berpotensi semakin mengganggu pasokan aluminium global.

“Perang yang berkepanjangan akan semakin mengganggu pasokan aluminium,” kata Gao Yin dikutip dari Bloomberg, Senin (9/3).

Di sisi lain, harga minyak mentah juga melonjak sekitar 20% pada Senin karena konflik tersebut turut menghambat produksi energi. Lonjakan ini meningkatkan kekhawatiran terhadap dampak perang terhadap perekonomian global dan mendorong investor menghindari aset berisiko.

Pada perdagangan di Shanghai, harga aluminium naik 0,7% menjadi US$3.467,50 per ton. Sebaliknya, harga tembaga turun 1,8% menjadi US$12.637 per ton dan nikel merosot 3,1% menjadi US$16.920 per ton.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Harga Emas Antam Hari Ini Melemah Tajam, Buyback Turun Rp65.000/Gram
• 5 jam lalumedcom.id
thumb
Danantara dan Kementerian PKP Tinjau Lokasi Proyek Hunian MBR di Cikarang
• 3 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Koalisi Sipil Nilai Instruksi Siaga 1 Panglima TNI Inkonstitusional
• 21 jam lalujpnn.com
thumb
Garuda Indonesia Berencana Hentikan Penerbangan di Bengkulu karena Minim Penumpang
• 20 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Dinkes Sulbar Intensifkan Surveilans Campak di Pasangkayu
• 14 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.