Presiden AS Donald Trump menanggapi lonjakan harga minyak melalui platform Truth Social. Trump mengatakan pergerakan harga minyak itu hanya jangka pendek dan merupakan harga kecil yang harus dibayar.
Trump menilai harga minyak dunia akan turun ketika hal yang disebutnya sebagai ancaman nuklir Iran berhasil dihancurkan.
"Harga minyak jangka pendek, yang akan turun dengan cepat ketika penghancuran ancaman nuklir Iran berakhir, adalah harga yang sangat kecil yang harus dibayar untuk AS, dan dunia, keamanan dan perdamaian. Hanya orang bodoh yang akan berpikir berbeda," tulis Trump di platform Truth Social miliknya, dikutip dari AFP, Senin (9/3).
Meski harga minyak naik, Trump tetap melanjutkan operasi perang. Ia menyatakan AS akan mempertimbangkan menyerang wilayah dan kelompok di Iran yang sebelumnya tidak masuk daftar target.
Perang antara AS dan Israel dengan Iran membuat harga minyak melonjak tinggi. Saat ini, harga minyak dunia sudah mendekati level USD 120 per barel.
Dikutip dari Bloomberg pada Senin (9/3), lonjakan harga itu terjadi akibat pemangkasan produksi beberapa produsen minyak di Timur Tengah, penutupan Selat Hormuz, dan AS yang mengancam akan meningkatkan eskalasi konflik.
“Level psikologis minyak di USD 100 mungkin hanya target harga jangka pendek sebelum bergerak ke level yang lebih tinggi jika konflik terus berlanjut. Produksi minyak dipangkas karena fasilitas penyimpanan penuh akibat kapal tanker tidak dapat memuat kargo,” kata Andy Lipow, Presiden Lipow Oil Associates.
Harga Brent melonjak hingga 28 persen menjadi USD 118,73 per barel dan menjadi kenaikan dalam satu hari yang terbesar sejak April 2020. Sementara West Texas Intermediate (WTI) sudah menyentuh USD 115,25.





