Program Migrasi Tenaga Kerja RI Terampil Skema Low Cost ke Jepang, Fokus Caregiver dan Perawat

idxchannel.com
13 jam lalu
Cover Berita

Program Migrasi Tenaga Kerja Terampil Skema Low Cost resmi diluncurkan di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo.

Program Migrasi Tenaga Kerja RI Terampil Skema Low Cost ke Jepang, Fokus Caregiver dan Perawat. (Foto Istimewa)

IDXChannel – Program Migrasi Tenaga Kerja Terampil Skema Low Cost resmi diluncurkan di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo. Inisiatif ini menargetkan penghapusan biaya migrasi yang selama ini selalu membebani para calon pekerja dari Indonesia.

Biaya migrasi yang kerap mencapai puluhan juta rupiah membuat partisipasi global workforce dari Indonesia terbilang rendah dibanding negara lain.

Baca Juga:
Investasi di Jakarta pada 2025 Tembus Rp270 Triliun, Serap 487.000 Tenaga Kerja

Skema baru difokuskan pada penempatan caregiver dan perawat ke Jepang. Indonesian Diaspora Network United (IDN-United) menggandeng Kaikoukai Healthcare Corporation untuk menjalankan program tersebut.

Penandatanganan kemitraan ini disaksikan langsung oleh Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Jepang, Kartini Sjahrir.

Baca Juga:
Indonesia-Inggris Komitmen Garap Pembangunan 1.582 Kapal Nelayan, Bisa Serap 600 Ribu Tenaga Kerja

Program ini mempertemukan kebutuhan tenaga kesehatan Jepang dengan potensi lulusan Indonesia. Jepang menghadapi peningkatan permintaan tenaga kesehatan akibat penuaan populasi.

Baca Juga:
Mandiri Institute: Pasar Tenaga Kerja RI Mulai Pulih, Tapi Vertical Mismatch Masih Tinggi

Sementara itu Indonesia memiliki banyak lulusan diploma tiga keperawatan setiap tahun. Proyeksi menunjukkan surplus lulusan mencapai 176.000 orang hingga 2030. Peluang besar tersebut selama ini terhambat biaya migrasi tinggi. Karena itu skema low cost dirancang membuka akses kerja lebih luas.

Biaya migrasi selama ini yang mencapai puluhan juta rupiah per kandidat mencakup pelatihan bahasa, administrasi, dan perjalanan keberangkatan. Beban finansial tersebut membuat banyak lulusan gagal berangkat ke luar negeri. 

Akibatnya, tingkat partisipasi pekerja Indonesia relatif rendah dibanding negara lain. Program baru ini berupaya menekan bahkan menghapus biaya tersebut. Pembiayaan dilakukan melalui kolaborasi dengan pengguna tenaga kerja di Jepang.

Melalui skema ini, pelatihan bahasa Jepang dilakukan secara intensif. Program berlangsung di Politeknik Kesehatan dan institusi pendidikan keperawatan mitra. Peserta ditargetkan mencapai kompetensi bahasa Jepang level N4 sebelum keberangkatan.

Selain itu, administrasi migrasi dan tiket perjalanan juga dapat ditanggung. Karena itu kandidat berpotensi mengikuti seluruh proses tanpa biaya pribadi. Model tersebut diharapkan meningkatkan jumlah pekerja Indonesia di Jepang.

Jepang sendiri membuka kuota caregiver bagi Indonesia dalam jumlah besar. Total kuota mencapai 135 ribu pekerja sepanjang periode 2024 hingga 2029. Rata-rata peluang mencapai sekitar 27 ribu tenaga kerja setiap tahun.

Namun, tingkat pemenuhan dari Indonesia masih berada di bawah lima persen. Kondisi tersebut menunjukkan peluang besar masih terbuka. Program migrasi low cost diproyeksikan mempercepat pemenuhan kuota tersebut.

Perwakilan Kaikoukai Healthcare Corporation Tetsuya Yamada menilai kerja sama ini strategis. “Indonesia memiliki sumber daya tenaga kesehatan sangat kompeten,” ujar Tetsuya.

Menurutnya skema low cost menciptakan sistem perekrutan lebih adil. Program ini juga memperkuat hubungan profesional antara Indonesia dan Jepang.

Chairman IDN-United Edward Wanandi menegaskan, komunitas diaspora dapat membuka akses pasar kerja global bagi talenta Indonesia. Mereka juga membangun kepercayaan dengan mitra di negara tujuan. “Biaya migrasi ditekan agar partisipasi pekerja meningkat,” kata Edward.

Ketua Yayasan Usaha Bakti Diaspora Fify Manan, mengungkapkan, pihaknya memfasilitasi pelatihan serta komunikasi dengan institusi pendidikan kesehatan. Tahap percontohan dimulai sejak Desember 2025 dengan tiga puluh peserta. Implementasi awal direncanakan mulai Juni 2026 di tujuh institusi pendidikan.

Ke depan program ditargetkan melibatkan jaringan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan. Selain Jepang, perluasan juga direncanakan ke Jerman, Australia, dan Inggris.

(Dhera Arizona)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Persib vs Persik: Maung Bandung Berpesta, Andrew Jung Cetak Brace
• 2 jam lalumedcom.id
thumb
ASICS Dorong Perempuan Aktif Lewat Peluncuran NAGINO Collection, Intip Yuk Beauty!
• 10 jam laluherstory.co.id
thumb
Kualitas Udara PontianakTerburuk Pagi Ini, Sangat Tidak Sehat
• 18 jam lalukatadata.co.id
thumb
Kejagung Ungkap Inisial YH, Anggota Ombudsman yang Rumahnya Digeledah di Kasus Ekspor CPO
• 10 jam lalukompas.com
thumb
Menteri Koperasi dan Ketum KB PII Tinnjau Stand Etawalin INRA Expo 2026
• 11 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.