Pakar : Trump Menekan Iran dan Venezuela, Menunggu Keruntuhan Rezim Partai Komunis Tiongkok

erabaru.net
4 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Operasi militer Amerika Serikat terhadap rezim yang dianggap dekat dengan Partai Komunis Tiongkok (PKT) seperti Iran dan Venezuela telah memberi tekanan besar kepada Beijing. Seorang pakar Israel mengatakan bahwa tujuan Trump adalah membuat rezim PKT di belakang negara-negara tersebut akhirnya terurai dan runtuh.

Trump Menghancurkan “Tatanan Lama” yang Dibangun PKT

Pendiri dan CEO The Israel Innovation Fund, Adam Scott Bellos, menulis artikel opini di The Jerusalem Post berjudul “Oxygen War: Tatanan Baru yang Tidak Pernah Diperkirakan oleh PKT

Artikel tersebut menyebut bahwa geopolitik ibarat sistem jaringan pipa. Jika jaringan ini berubah, maka semua hal yang bergantung padanya juga berubah—uang, aliansi, ideologi, serta cara rezim beroperasi.

Menurut artikel itu, sistem politik terburuk di dunia seperti PKT mengira dapat terus “mengelola” situasi tanpa batas melalui sanksi setengah hati dan pernyataan diplomatik. Namun tatanan baru jauh lebih keras: ia bergantung pada harga dan sumber daya.

Jika “oksigen murah” diputus—seperti pendapatan minyak, jalur penghindaran sanksi, dan jalur strategis yang tidak dijaga—maka rezim yang bergantung pada sistem lama bukan hanya akan goyah, tetapi bisa kehabisan napas dan runtuh.

Artikel tersebut menyatakan bahwa pandangan dunia Trump dan Marco Rubio bukan sekadar memperbaiki gejala, melainkan menghancurkan seluruh jaringan sistem, termasuk hubungan antara pelabuhan dan kilang minyak, kapal tanker dan perusahaan cangkang, serta ideologi dan aliran dana.

Target mereka bukan hanya Iran atau Venezuela, tetapi membuat Tehran, Caracas, Moskow, dan pendukung di belakangnya—PKT—menghadapi biaya operasi yang tak tertahankan hingga akhirnya runtuh.

AS Memimpin “Medan Perang Energi Baru”

Artikel tersebut menyebut bahwa setelah diktator Venezuela Nicolás Maduro ditangkap oleh Amerika Serikat, perubahan paling nyata bukan pada retorika, tetapi pada jalur logistik energi.

Pada Februari, ekspor minyak Venezuela mencapai sekitar 737.000 barel per hari. Perubahan paling penting adalah arah ekspornya:

Selain itu, perdagangan minyak kini didominasi oleh pedagang yang mendapat izin dari AS.

Selama bertahun-tahun PKT tidak hanya membeli minyak mentah Venezuela, tetapi juga berperan sebagai pembeli terakhir yang menopang rezim Venezuela. Ketika jalur ini menyempit, Venezuela tidak hanya kehilangan pendapatan, tetapi juga kehilangan waktu, daya tawar, dan keyakinan bahwa Beijing selalu akan menyelamatkannya.

Negara-negara lain kini mulai memperhatikan situasi ini dan menilai ulang hubungan mereka, karena jika perlindungan dari PKT tampak tidak lagi kuat, maka semua pihak akan mulai memeriksa kembali “kesepakatan loyalitas” tersebut.

Iran Menjadi Target Berikutnya

Artikel itu juga menyebut bahwa Iran selama ini memanfaatkan posisinya secara geografis dan menjual ketegangan kawasan untuk mengubah ideologi menjadi alat tawar.

Namun hanya dalam beberapa hari, pasukan gabungan AS dan Israel disebut telah menghancurkan sistem energi Iran.

Iran kemudian mengumumkan penutupan Selat Hormuz. Perusahaan asuransi membatalkan perlindungan risiko perang, dan kapal tanker mulai menghindari jalur tersebut.

Artikel tersebut menekankan bahwa perang modern tidak perlu merebut wilayah untuk mengubah tatanan dunia. Cukup membuat jalur perdagangan lama menjadi terlalu mahal atau berbahaya.

Ketika eksportir penting dunia terpaksa segera mengubah rute pengiriman, yang terjadi bukan sekadar ketidakstabilan regional, tetapi perubahan pada sistem ekonomi global.

Jalur Kehidupan PKT Terpukul

Artikel itu menulis bahwa kini perhatian seharusnya tertuju pada Chinese Communist Party. Beijing disebut sebagai “bank sentral” bagi banyak rezim otoriter—bukan karena simpati, tetapi karena mampu membeli sesuatu yang tidak bisa dijangkau negara lain serta membiayai proyek yang tidak bisa diasuransikan pihak lain.

PKT membeli lebih dari 80% ekspor minyak Iran, sering kali dengan harga sangat murah. Hal ini memungkinkan kilang yang bersedia beroperasi secara tertutup memperoleh keuntungan dari minyak yang dikenai sanksi.

Hubungan tersebut menjadi jalur kehidupan ekonomi Tehran sekaligus alat pengaruh strategis bagi Beijing: energi murah dan pengaruh geopolitik.

Namun ketika ekspor menjadi tidak stabil dan jalur strategis berubah menjadi medan perang, diskon harga bukan lagi keuntungan, melainkan beban. Beijing juga telah memberi sinyal bahwa mereka akan mengambil langkah untuk mengamankan pasokan energi.

Meski demikian, analis mengatakan PKT telah membangun berbagai mekanisme penyangga—cadangan energi, kontrol harga, dan kelebihan pasokan—yang memungkinkan mereka menahan dampak jangka pendek.

Namun inilah jebakannya: ketahanan jangka pendek dapat menutupi risiko jangka panjang.

Artikel itu menekankan bahwa strategi PKT yang terus menopang rezim yang terkena sanksi dapat menyebabkan isolasi global. Isolasi ini tidak selalu diumumkan secara resmi, tetapi bisa terbentuk secara bertahap.

Hubungan Rusia–Tiongkok Akan Diuji

Artikel tersebut juga menyebut hubungan antara Rusia dan Tiongkok sangat erat karena kebutuhan untuk bertahan hidup. Namun hubungan ini bukan didasarkan pada kesetiaan, melainkan tekanan.

Jika isolasi terhadap Beijing pada akhirnya menjadi beban bagi negara-negara di sekitarnya, maka Moskow mungkin harus membuat pilihan yang dingin yakni tetap menjadi sekutu PKT, atau menjadi kekuatan besar pertama yang melepaskan diri dari orbit Beijing.

Artikel tersebut menegaskan bahwa ini bukan perang melawan rakyat, melainkan konflik antara sistem politik.

Demokrasi Barat didasarkan pada keyakinan bahwa:

Sebaliknya, ideologi seperti komunisme, fasisme, atau ekstremisme agama memandang manusia sebagai “bahan bakar” bagi revolusi, kekaisaran, atau kekuasaan penguasa.

Rezim-rezim tersebut menekan oposisi dan menggunakan kekerasan melalui pihak lain, namun sebenarnya tidak stabil. Mereka bertahan dengan energi murah, celah sanksi, dan jaringan keuangan yang mendapat keuntungan dari kekacauan—dan era itu disebut sedang mendekati akhir.

Kesimpulan

Artikel tersebut menutup dengan menyatakan bahwa PKT membangun sebuah “imperium diskon”, sebuah sistem yang dapat membeli minyak yang disanksi dunia dan menyebut dirinya “netral”.

Namun dalam “perang oksigen” yang baru ini, yang penting bukan bagaimana suatu negara menyebut dirinya, tetapi siapa yang akan membayar harga ketika jaringan energi runtuh.

Dalam dunia yang akan datang, tulis artikel itu, Beijinglah yang kemungkinan harus membayar harga tersebut.

Editor penanggung jawab: Tang Ying


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Profil Sheila Dara Aisha, Istri Setia Vidi Aldiano yang Mendampingi hingga Akhir Hayat
• 23 jam lalugrid.id
thumb
Nabilah O’Brien: Saya Hancur Saat Ditetapkan Tersangka, Sedih, Bingung
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Presiden Prabowo Silaturahmi dengan Purnawirawan Ajudan dan Pengawal  
• 15 jam laluidxchannel.com
thumb
Resmi! Mojtaba Khamenei Ditunjuk Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Disambut Riuh Warga
• 9 jam lalukompas.tv
thumb
Polda Metro Jaya: Belum Ada Pengajuan Penangguhan Tahanan dari Richard Lee
• 7 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.