Luas Lahan Tembakau Garut Bertambah jadi 3.782 Hektare

bisnis.com
13 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, GARUT — Luas areal tanaman tembakau di Kabupaten Garut menunjukkan peningkatan pada 2025. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat luas lahan tembakau rakyat di daerah tersebut mencapai 3.782,15 hektare, naik dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat 3.244,89 hektare.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Garut, Sidik Edi Sutopo, mengatakan kenaikan luas areal tersebut menunjukkan bahwa komoditas tembakau masih menjadi salah satu tanaman perkebunan rakyat yang cukup penting bagi perekonomian petani di wilayah Garut.

Menurut Sidik, peningkatan luasan lahan tersebut juga menggambarkan adanya minat petani untuk mempertahankan bahkan memperluas budidaya tembakau, terutama di wilayah yang memiliki kondisi agroklimat yang cocok untuk tanaman tersebut.

“Data yang kami himpun menunjukkan adanya kenaikan luas areal tembakau di Kabupaten Garut pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa komoditas tembakau masih menjadi salah satu pilihan usaha tani masyarakat,” ujarnya, Senin (9/3/2026).

Dia menjelaskan, komoditas tembakau di Garut umumnya dibudidayakan oleh petani perkebunan rakyat yang tersebar di berbagai kecamatan, terutama di wilayah dataran tinggi dengan kondisi tanah yang subur dan suhu relatif sejuk.

Berdasarkan data tersebut, beberapa kecamatan tercatat memiliki areal tembakau cukup luas. Kecamatan Selaawi menjadi salah satu wilayah dengan lahan tembakau terbesar dengan luas mencapai sekitar 323,90 hektare pada 2025, sedikit meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat 323,87 hektare.

Baca Juga

  • Aturan Bakal Direvisi, 2,5% Pajak Rokok untuk Berantas Rokok Ilegal Cs
  • Industri Rokok Dukung KPK Tindak Tegas Produsen Rokok Ilegal
  • KPK Ungkap Modus Perusahaan Rokok Pakai Cukai Ilegal di Kasus DJBC

Selain Selaawi, kecamatan lain yang juga memiliki areal tembakau cukup besar antara lain Banyuresmi dengan luas sekitar 305,90 hektare, Sukawening sekitar 284,75 hektare, serta Cibatu yang mencapai 277,35 hektare.

Di wilayah lain, Kecamatan Samarang tercatat memiliki luas areal tembakau sekitar 161,60 hektare, sementara Pasirwangi sekitar 149,30 hektare dan Wanaraja sekitar 145,85 hektare. Kecamatan Sucinaraja juga tercatat memiliki areal tembakau yang cukup luas dengan total sekitar 127,20 hektare.

Adapun Kecamatan Cisurupan memiliki luas lahan tembakau sekitar 129,45 hektare, sedangkan Sukaresmi tercatat sekitar 163,35 hektare.

Sidik menjelaskan, persebaran lahan tembakau di Garut sebagian besar berada di kawasan yang memiliki karakteristik tanah vulkanik yang subur. Kondisi tersebut dinilai sangat mendukung pertumbuhan tanaman tembakau yang membutuhkan struktur tanah gembur serta iklim yang relatif sejuk.

Selain wilayah dengan lahan besar, sejumlah kecamatan lainnya memiliki luasan tembakau dalam skala menengah. Kecamatan Leuwigoong misalnya tercatat memiliki luas sekitar 79,50 hektare, sementara Cilawu sekitar 71,75 hektare.

Beberapa kecamatan lain seperti Kersamanah, Cibiuk, dan Cigedug juga tercatat memiliki areal tembakau meskipun dalam luasan yang lebih terbatas.

Sementara itu, sejumlah kecamatan memiliki luas lahan tembakau relatif kecil. Di antaranya Pangatikan dengan luas sekitar 13,18 hektare, Malangbong sekitar 12,26 hektare, serta Kadungora yang tercatat sekitar 9,65 hektare pada 2025.

Kecamatan Cikelet dan Mekarmukti juga tercatat memiliki areal tembakau yang sangat terbatas, masing-masing sekitar 4,30 hektare dan 1,55 hektare.

Sidik menambahkan bahwa perbedaan luas areal tembakau antar kecamatan dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi lahan, ketinggian wilayah, hingga preferensi petani terhadap jenis komoditas yang dibudidayakan.

“Tidak semua wilayah memiliki karakteristik lahan yang sama. Ada daerah yang lebih cocok untuk tembakau, sementara wilayah lain lebih fokus pada komoditas pertanian lain seperti padi, hortikultura, atau tanaman perkebunan lainnya,” katanya.

Dia juga menyebutkan, data luas areal tanaman perkebunan rakyat seperti tembakau menjadi salah satu indikator penting dalam melihat dinamika sektor pertanian daerah. 

Informasi tersebut dapat digunakan sebagai dasar bagi pemerintah daerah maupun pelaku usaha dalam merumuskan kebijakan dan strategi pengembangan komoditas pertanian.

Menurut Sidik, sektor pertanian masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian di Kabupaten Garut. Selain tembakau, daerah ini juga dikenal sebagai sentra berbagai komoditas perkebunan dan hortikultura yang menjadi sumber penghidupan masyarakat di pedesaan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sempat Live Bareng Bigmo Saat Penetapan Tersangka, Ini Kata Wali Kota Solo
• 4 jam lalusuara.com
thumb
AS Habiskan Rp101,2 Triliun dalam Sepekan Perang Melawan Iran
• 16 jam laluokezone.com
thumb
Kemenag Atur Pelaksanaan Takbiran di Bali saat Idulfitri Berbarengan Nyepi
• 22 jam lalurctiplus.com
thumb
Jalan Nasional Trans Sulawesi di Donggala Siap Sambut Pemudik
• 21 jam lalurepublika.co.id
thumb
Drone Iran Serang Bahrain, 32 Orang Terluka Termasuk Bayi Dua Bulan
• 15 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.