CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Majelis Pakar Iran resmi memilih Ayatollah Sayyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru Republik Islam Iran. Ia menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel.
Keputusan tersebut diambil oleh Majelis Pakar yang beranggotakan 88 ulama senior.
Mojtaba Khamenei dikenal sebagai ulama yang selama bertahun-tahun berada di lingkaran kekuasaan ayahnya. Meski jarang tampil di ruang publik, ia disebut memiliki pengaruh besar di balik layar dalam pengambilan keputusan politik di Iran.
Selama kepemimpinan Ali Khamenei, Mojtaba dipercaya menjalankan sejumlah tugas penting dan memiliki hubungan erat dengan berbagai institusi strategis negara, termasuk aparat keamanan dan jaringan ekonomi yang berada di bawah pengaruh elite pemerintahan.
Pengaruhnya semakin kuat karena kedekatannya dengan Garda Revolusi Iran (IRGC). Hubungan ini memberinya akses langsung ke jaringan politik dan militer yang menjadi tulang punggung kekuasaan Republik Islam Iran.
Sejumlah sumber menyebut Mojtaba juga berperan sebagai “penjaga gerbang” bagi ayahnya, yakni tokoh yang mengatur akses terhadap pemimpin tertinggi Iran.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pernah menyebut Mojtaba sebagai pilihan yang “tidak dapat diterima”.
Nama Mojtaba Khamenei juga pernah masuk dalam daftar sanksi pemerintah Amerika Serikat. Pada 2019, Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi terhadapnya dengan alasan ia mewakili pemimpin tertinggi Iran dalam “kapasitas resmi meskipun tidak pernah terpilih atau diangkat ke posisi pemerintahan”.
Sanksi tersebut menyoroti peran Mojtaba yang selama ini bekerja di kantor ayahnya dan memiliki pengaruh signifikan terhadap berbagai kebijakan strategis negara.
Sebagai pemimpin tertinggi, Mojtaba Khamenei akan memegang kekuasaan tertinggi dalam sistem pemerintahan Iran termasuk dalam menentukan arah kebijakan luar negeri, militer, dan program nuklir.
Selama ini, negara-negara Barat menekan Iran agar membatasi program nuklirnya karena dikhawatirkan digunakan untuk mengembangkan senjata nuklir. Namun pemerintah Iran berulang kali menegaskan bahwa program tersebut hanya untuk tujuan sipil.
Mojtaba tidak lepas dari kritik meski secara sah telah terpilih menjadi pemimpin tertinggi Iran. Para pengkritik menilai ia belum memiliki kualifikasi keagamaan setingkat ayatollah.
Saat ini, gelar yang dimilikinya adalah Hojjatoleslam, satu tingkat di bawah pangkat ayatollah yang sebelumnya disandang oleh ayahnya serta Ruhollah Khomeini, pendiri Republik Islam Iran.




