Geliat Tradisi Berbagi Kala Ramadan, Merangkai Kebahagiaan dalam Keranjang Parsel

suara.com
2 jam lalu
Cover Berita
Baca 10 detik
  • Rumah produksi Jogja Parcel mengalami peningkatan signifikan dalam penyusunan parsel menjelang Lebaran.
  • Karyawan menghadapi tantangan ketelitian saat menyusun item mudah pecah dan proses pembungkusan plastik.
  • Jogja Parcel menawarkan puluhan variasi parsel dengan harga Rp150 ribu hingga Rp1,5 juta bagi pelanggan.

Suara.com - Lebaran selalu punya cara untuk merekatkan kembali jemari yang jarang berjabat. Salah satunya melalui bingkisan parsel yang dikirim dengan penuh doa.

Di balik kemilau pita warna-warni dan plastik pembungkus yang bening, ada kesabaran yang diuji di setiap sudut ruang produksi.

Seorang karyawan tampak duduk bersimpuh, dikelilingi oleh tumpukan keranjang rotan yang mulai terisi penuh. Tangannya dengan cekatan menyusun botol sirup merah, biskuit kaleng, dan aneka camilan.

Ia memastikan setiap item berdiri kokoh di atas alas kardus atau rotan yang telah disiapkan. Di sekitarnya, pita warna-warni berserakan di dalam kotak, menunggu giliran untuk disematkan.

Ketelitian di Tengah Puasa

Kesibukan ini sudah terlihat di rumah produksi Jogja Parcel sejak beberapa minggu terakhir.

"Kesulitannya itu pas bikin parsel di dalam keranjang yang agak kosong itu. Jadi harus dialasin dulu, bikin satu-satu alasnya pakai kardus, terus nanti dikasih item-item biar terlihat cantik," kata salah seorang tim produksi, Ratri Indriastuti, ditemui Suara.com, Senin (9/3/2026).

Tak hanya itu, Ratri bilang tantangan lain muncul saat menyusun parsel yang berisi keramik. Bahan yang mudah pecah membuat proses penataan harus dilakukan dengan ekstra hati-hati.

"Terus sama waktu nyusun parsel keramik, karena ya harus hati-hati biar nggak retak atau pecah," ucapnya.

Selain menyusun isi parsel, proses pembungkusan turut membutuhkan ketelitian tinggi. Plastik pembungkus harus ditarik dengan presisi agar tidak robek serta tetap tampak rapi hingga sampai ke tangan pembeli.

Baca Juga: Senin 9 Maret 2026 Puasa Hari ke Berapa? Simak Perbedaan Versi Pemerintah, NU, dan Muhammadiyah

"Paling susah wrappingnya, karena ditarik harus hati-hati biar enggak sobek, kalau sobek ngulang lagi," tuturnya.

Menyusun parsel bukan sekadar menumpuk barang, melainkan seni menjaga keamanan produk. Ratri mengakui bahwa konsentrasi sering kali teruji, apalagi saat bekerja di tengah suasana Ramadan.

"Kalau sampai menjatuhkan (pecah) belum pernah. Cuma kalau salah pasang, misalnya yang harusnya di sebelah sini jadi ketuker gitu pernah sih. Apalagi pas puasa gini. Jadi laper, ngantuk, haus gitu," ujarnya.

Namun, dengan keahlian yang sudah diasahnya sejak tahun 2023, waktu produksi kini lebih efisien. Untuk parsel ukuran kecil, Ratri hanya membutuhkan waktu sekitar setengah jam.

Namun, untuk parsel besar yang jarang dibuat, ia bisa menghabiskan waktu hingga satu setengah jam karena harus melihat contoh desain agar tidak terjadi kesalahan.

"Ya yang jelas kalau menurut saya pribadi, yang dibutuhkan itu ketelitian sama kehati-hatian aja sih. Kesabaran, iya," tuturnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bencana Mahal! Meninjau Ulang Dampak Intervensi Militer AS di Dunia
• 4 jam lalusuara.com
thumb
Usai Meikarta, Pemerintah Siap Bangun Rusun Subsidi di Depok pada Juni 2026
• 20 jam lalubisnis.com
thumb
Banjir Masih Rendam 16 RT dan 2 Ruas Jalan di Jakarta
• 8 jam laluliputan6.com
thumb
Harga Minyak Naik Tajam Imbas Perang Iran-AS, Trump Tak Khawatir
• 5 jam laluidxchannel.com
thumb
Lentera Kalbu: ‘Move On’ dari Dosa Masa Lalu
• 21 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.