Taktik Transisi Cepat Bernardo Tavares Masih Mandek! Persebaya Surabaya Butuh Marselino Ferdinan

harianfajar
5 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, SURABAYA — Stadion Segiri di Samarinda menjadi panggung yang tidak bersahabat bagi Persebaya Surabaya. Dalam pertandingan yang berjalan cepat dan keras, Green Force harus menerima kenyataan pahit: kalah telak 1–5 dari Borneo FC.

Bagi Persebaya, kekalahan itu bukan sekadar kehilangan tiga poin. Ia juga mencatatkan sebuah rekor yang tidak pernah terjadi sejak klub tersebut kembali ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia pada 2018—kebobolan lima gol dalam satu pertandingan.

Gol-gol tuan rumah datang hampir tanpa jeda. Juan Villa membuka keunggulan pada menit ke-15 lewat tembakan keras dari luar kotak penalti, lalu kembali mencetak gol keduanya pada menit ke-59. Setelah itu, Borneo FC semakin leluasa menekan. Mariano Peralta menambah gol pada menit ke-62, disusul Koldo Obieta pada menit ke-68, sebelum Marcos Astina menutup pesta gol pada masa injury time.

Di tengah tekanan itu, Persebaya hanya mampu mencetak satu gol hiburan melalui bek asal Brasil, Leo Lelis, pada menit ke-73.

Bagi kapten Persebaya, Bruno Moreira, pertandingan tersebut terasa jauh dari gambaran yang mereka bayangkan sebelum laga dimulai.

“Ini bukan pertandingan yang biasa bagi Persebaya. Kami datang ke sini untuk meraih tiga poin. Kami tidak mengira akan kebobolan lima kali dan hanya mencetak satu gol. Namun, inilah sepak bola,” ujarnya dalam konferensi pers setelah pertandingan.

Pernyataan itu mencerminkan keterkejutan yang dirasakan para pemain. Namun di balik kekalahan telak tersebut, terdapat sejumlah persoalan taktis yang mulai terlihat di tubuh Persebaya musim ini.

Pelatih Bernardo Tavares mencoba menjelaskan bagaimana lima gol tersebut bisa terjadi.

Menurut pelatih asal Portugal itu, sebagian besar gol lawan lahir dari situasi yang terjadi sangat cepat—momen-momen ketika timnya gagal bereaksi dengan cukup sigap.

Gol pertama, misalnya, datang dari tembakan jarak jauh Juan Villa. Padahal, menurut Tavares, kekuatan tendangan pemain tersebut sudah dibahas sebelumnya dalam sesi analisis pertandingan.

Gol kedua lahir dari situasi bola mati melalui tendangan bebas. Sementara gol ketiga tercipta dari skema serangan balik yang membuat lini pertahanan Persebaya kehilangan keseimbangan.

“Tiga gol pertama terjadi sangat cepat. Itu membuat pemain kami kehilangan fokus,” kata Tavares.

Gol keempat bahkan datang setelah salah satu bek Persebaya, Risto Mitrevski, terjatuh di depan kotak penalti—sebuah momen kecil yang langsung dimanfaatkan oleh pemain Borneo FC.

Situasi semakin rumit ketika Persebaya mencoba bangkit setelah gol Leo Lelis memperkecil skor menjadi 2–4. Tavares meminta para pemainnya untuk bermain lebih menyerang demi mengejar ketertinggalan.

Namun keputusan itu justru membuka ruang yang lebih besar bagi serangan balik lawan.

“Ketika kami keluar menyerang untuk menambah gol, justru seperti inilah hasilnya,” kata Tavares.

Meski demikian, ia tidak sepenuhnya menyalahkan para pemainnya. Bagi Tavares, Borneo FC memang tampil sangat efektif malam itu.

Tim tuan rumah bermain agresif, memenangkan banyak duel, serta memiliki banyak opsi jalur umpan ketika membangun serangan.

Namun di sisi lain, kekalahan tersebut juga memperlihatkan persoalan lain yang mulai terasa di tubuh Persebaya: lemahnya transisi permainan.

Dalam sistem yang diterapkan Tavares, transisi cepat—baik dari bertahan ke menyerang maupun sebaliknya—menjadi salah satu kunci utama. Tetapi dalam pertandingan melawan Borneo FC, fase tersebut justru menjadi titik lemah.

Ketika kehilangan bola, lini tengah Persebaya sering terlambat menutup ruang. Sebaliknya, saat mencoba menyerang, aliran bola tidak cukup cepat untuk menembus pertahanan lawan.

Akibatnya, lini depan terlihat terisolasi.

Bruno Moreira, yang selama ini menjadi tumpuan serangan Green Force dengan koleksi sembilan gol musim ini, juga tidak mampu memberikan dampak berarti. Berdasarkan statistik pertandingan, ia bahkan tidak mencatatkan satu pun tembakan ke arah gawang.

Dari 50 sentuhan bola yang ia lakukan sepanjang pertandingan, hanya dua dribel yang berhasil. Ia juga kehilangan bola sebanyak delapan kali.

Bagi pemain asal Brasil itu, performa tim memang tidak berjalan sebagaimana mestinya.

“Ini jelas bukan pertandingan yang biasa bagi Persebaya. Kami tentu kecewa, tetapi pertandingan sudah selesai dan kami harus menerima hasil tersebut,” katanya.

Kini Persebaya harus segera bangkit. Kompetisi Super League masih panjang, dan Green Force masih memiliki sejumlah pertandingan penting di depan.

Salah satu laga berikutnya adalah saat mereka menjamu Persita Tangerang di Stadion Gelora Bung Tomo pada awal April.

Bagi Bruno Moreira dan rekan-rekannya, kekalahan di Samarinda harus dijadikan bahan refleksi.

“Saya rasa semua pemain perlu merefleksikan pertandingan ini. Pelatih akan melakukan analisis lebih detail dan berdiskusi bersama kami. Kami akan melihat apa yang sudah berjalan baik dan memperbaiki apa yang masih kurang,” ujarnya.

Di tengah proses evaluasi itu, muncul pula satu wacana yang mulai ramai dibicarakan: kebutuhan Persebaya terhadap gelandang kreatif yang mampu menghidupkan transisi permainan.

Sosok seperti Marselino Ferdinan kerap disebut sebagai tipe pemain yang bisa memberi warna baru di lini tengah—pemain yang mampu menghubungkan pertahanan dan serangan dengan lebih cepat.

Apakah Persebaya benar-benar membutuhkan figur semacam itu, atau justru cukup dengan memperbaiki struktur permainan yang ada, masih menjadi pertanyaan.

Yang jelas, kekalahan di Samarinda telah menjadi pengingat keras: tanpa transisi yang solid, bahkan tim dengan ambisi besar pun bisa runtuh dalam satu malam pertandingan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Holywings Masuk Bisnis Properti Lewat Holywings Collection
• 23 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Pembukaan Hari Ini IHSG Melemah ke Level 7.240
• 9 jam lalumedcom.id
thumb
Adaro Andalan (AADI) Raih Laba USD760,18 Juta pada 2025, Turun 37%
• 13 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Mobil Pajero Terjebak 1,5 Jam di Jalur Jip Lava Tour Merapi Imbas Banjir
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Prabowo Kumpulkan Mantan Ajudan dan Pengawal era Kostrad-Kopassus di Hambalang
• 21 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.