Frekuensi pesawat tempur Cina di perbatasan udara Taiwan mulai surut sejak awal tahun ini. Selama 10 hari terakhir bulan ini belum ada pesawat tempur asal Negeri Panda yang mengitari Naga Kecil Asia.
AFP mendata hanya ada dua pesawat asal Cina yang mendekati kawasan udara Taiwan berdasarkan Kementerian Pertahanan Cina. Angka tersebut susut dari 86 pesawat tempur yang mengitari Taiwan pada Maret 2025.
Seperti diketahui, pesawat tempur asal Cina kerap melintasi Zona Identifikasi Pertahanan Udara atau ADIZ milik Taiwan setidaknya sejak 2023. Tingkat kejadian pelanggaran ADIZ oleh pesawat Negeri Panda melonjak saat Presiden Taiwan Lai Ching-te menjabat pada Mei 2024.
Secara rinci, jumlah pesawat tempur asal Cina yang melintasi ADIZ Taiwan mencapai 153 unit pada tahun pertama Presiden Lai. Rata-rata frekuensi jet tempur asal Negeri Tirai Bambu per bulan sekitar 10 unit pada tahun lalu.
Angka tersebut susut menjadi sekitar 5 jet tempur pada Januari dan Februari 2026. Peneliti Institute for National Defense and Security Research Chieh Chung menilai susutnya frekuensi pesawat tempur Cina disebabkan oleh selesainya latihan penerbangan jarak jauh militer Cina.
Chieh mendata pemerintah Cina telah melakukan beberapa latihan militer besar untuk mengintimidasi Presiden Lai. Langkah tersebut dinilai sebagai bentuk ketidaksetujuan Cina atas perjanjian dagang produk pertanian terbesar dalam sejarah Taiwan senilai US$ 11 miliar dengan Amerika Serikat.
Dalam pemerintahan Presiden Lai, Taiwan telah berusaha memperkuat pertahanannya dari agresi militer Cina. Sebab, Lai menolak klaim Taiwan sebagai salah satu kawasannya dan menunggu pengakuan internasional sebagai negara de facto, terpisah dari Cina.
"Sebagian besar pilot pesawat tempur kini dapat mendedikasikan waktu lebih banyak ke latihan taktik dibandingkan latihan pribadi untuk meningkatkan jam terbang," kata Chieh.
Di sisi lain, Senior Fellow di S. Rajaratnam S. Rajaratnam School of International Studies at Singapore's Nanyang Technological University, Drew Thompson mengatakan tidak terlalu mengkhawatirkan berkurangnya agresi udara dari Cina.
Seperti diketahui, Presiden Cin Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald J Trump dijadwalkan melakukan pertemuan secepatnya akhir bulan ini, Selasa (31/3). Pertemuan antara Kepala Negara Negeri Panda dan Negeri Paman Sam terakhir kali terjadi pada 2017.
Di samping itu, absennya jet tempur asal Cina berbarengan dengan sehari sebelum serangan Amerika Serikat ke Iran. Selain itu, Cina telah menginstruksikan produsen minyak mentah di Negeri Tirai Bambu untuk menghentikan ekspor produk jadinya akibat disrupsi pasokan minyak mentah dari Teluk Persia.
Karena itu, Thompson menilai minimnya penjelasan dari berkurangnya frekuensi jet tempur Cina di ADIZ Taiwan cukup mengkhawatirkan. Alhasil, kesalahpahaman akan terus menonjol dalam hubungan Cina-Taiwan dan Cina-AS.
"Kesalahpahaman akan terus menjadi hal yang menonjol, bahkan mungkin menjadi ciri yang menentukan dalam hubungan lintas-Selat antara Cina dan Taiwan serta hubungan Amerika Serikat–China," kata Thompson.




