Washington: Amerika Serikat (AS) dan Israel dilaporkan berselisih terkait serangan besar-besaran Israel terhadap fasilitas minyak Iran.
Seorang pejabat senior AS menyebut serangan tersebut “bukan ide yang baik," sementara Washington menyampaikan pesan tajam berupa “WTF” setelah mengetahui skala operasi tersebut, menurut laporan Axios.
Insiden ini menjadi perbedaan besar pertama antara kedua sekutu sejak perang dimulai pada 28 Februari.
Serangan udara Israel terhadap infrastruktur minyak Iran pada Sabtu dilaporkan jauh lebih luas daripada yang diperkirakan Washington, meski Amerika Serikat telah diberi tahu sebelumnya. Seorang penasihat Presiden AS Donald Trump mengatakan Trump “tidak menyukai gagasan” menyerang depot minyak.
Serangan udara terbaru Israel memicu kebakaran besar di beberapa wilayah Tehran, dengan kobaran api terlihat dari jarak jauh dan asap tebal menyelimuti sebagian ibu kota Iran.
Menurut pernyataan Israel Defense Forces (IDF), depot bahan bakar yang diserang digunakan oleh pemerintah Iran untuk memasok energi kepada berbagai pihak, termasuk unit militernya.
Seorang pejabat militer Israel mengatakan serangan itu juga dimaksudkan sebagai peringatan agar Teheran menghentikan serangan terhadap infrastruktur sipil Israel. AS Terkejut dengan Skala Operasi Meski militer Israel memberi tahu Amerika sebelum serangan dilakukan, pejabat AS mengaku terkejut dengan luasnya operasi tersebut.
“Kami tidak berpikir itu ide yang baik,” kata seorang pejabat senior AS, seperti dikutip India Today, Senin, 9 Maret 2026.
Seorang pejabat Israel lainnya mengatakan pesan yang disampaikan Washington setelah serangan tersebut adalah “WTF," mencerminkan keterkejutan AS terhadap skala operasi militer Israel.
Meski targetnya berupa depot bahan bakar dan bukan fasilitas produksi minyak, pejabat AS khawatir gambar kebakaran besar di lokasi penyimpanan energi dapat mengguncang pasar energi global dan mendorong harga minyak semakin tinggi.
Seorang penasihat Trump mengatakan presiden AS tidak menyukai serangan tersebut karena berpotensi meningkatkan harga energi.
“Presiden tidak menyukai serangan itu. Ia ingin menjaga minyak tetap tersedia, bukan membakarnya. Dan hal itu mengingatkan orang pada harga bensin yang tinggi,” kata penasihat tersebut kepada Axios.
Baik Gedung Putih maupun IDF menolak memberikan komentar resmi terkait laporan itu. Iran Ancam Balasan Sementara itu, Iran memperingatkan bahwa serangan berkelanjutan terhadap infrastruktur energinya dapat memicu serangan balasan di kawasan.
Juru bicara Khatam al-Anbiya Central Headquarters mengatakan Teheran sejauh ini menghindari menyerang fasilitas energi regional, tetapi bisa mempertimbangkan kembali keputusan tersebut.
Ia memperingatkan bahwa jika Iran mulai menargetkan fasilitas energi di kawasan, harga minyak global bisa melonjak hingga 200 dolar AS per barel.
Di sisi lain, harga minyak dunia telah menembus 100 dolar AS per barel untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga setengah tahun akibat meningkatnya konflik di Timur Tengah.
Trump sendiri mengecilkan lonjakan harga tersebut, menyebutnya sebagai “harga kecil yang harus dibayar demi perdamaian dunia."
Konflik yang kini memasuki minggu kedua telah menyebar ke berbagai wilayah Timur Tengah yang penting bagi produksi dan transportasi energi global.
Kekhawatiran pasar terutama tertuju pada Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi dunia, yang telah ditutup Iran bagi Amerika Serikat, Israel, dan sekutu Barat di tengah pertukaran serangan rudal dan drone di kawasan Teluk.
Baca juga: Israel Serang Depo Minyak di Teheran, Tandai Eskalasi Baru dengan Iran




