Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap lebih dari 700 ribu anak di Indonesia terdeteksi mengalami gejala gangguan kesehatan mental berdasarkan hasil skrining awal program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin mengatakan data tersebut diperoleh dari skrining terhadap sekitar 7 juta anak dari total target sekitar 25 juta anak.
“Jadi kita skrining tahun pertama kan 7 jutaan. Angkanya hampir 10%, hampir 10% ya," kata Budi dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Senin (9/3).
"Jadi 4,4% (338.000) itu ada gejala cemas atau anxiety disorder gitu ya. Nah, 363.000 atau 4,8% lebih parah lagi itu punya gejala depresi atau depression disorder,” ungkap dia.
Ia menjelaskan gangguan kesehatan mental pada anak memiliki berbagai jenis, tapi yang paling banyak ditemukan dari hasil skrining tersebut adalah kecemasan dan depresi.
“Jadi mental disorder tuh banyak deh macam-macam. Ada anxiety disorder, depression disorder, ada eating disorder, ada neurobehavior disorder, banyak jenis-jenisnya gitu, banyak penyakitnya juga. Nah, yang paling umum adalah anxiety sama depression. Gitu tuh sudah hampir 10%,” ujarnya.
Budi mengatakan temuan tersebut menunjukkan bahwa masalah kesehatan jiwa pada anak sebenarnya cukup besar, hanya saja selama ini belum banyak terdeteksi karena minimnya skrining.
“Nah, ini menunjukkan bahwa oh ternyata masalah kesehatan jiwa itu besar sekali, yang selama ini kita nggak pernah bisa deteksi aja,” katanya.
Selain itu, pemerintah juga mencatat peningkatan tren remaja yang memiliki pikiran maupun percobaan bunuh diri berdasarkan survei kesehatan global pelajar.
“Yang berpikir untuk bunuh diri itu naik dari 5,4% ke 8,5%, jadi naik 1,6 kali. Yang mencoba, naiknya lebih tinggi dari 3,9% sampai 10,7%,” kata Budi.
Menurut dia, sejumlah faktor menjadi pemicu utama gangguan kesehatan mental pada anak, mulai dari konflik keluarga hingga tekanan sosial di lingkungan sekolah.
“Yang nomor satu, surprisingly bukan dari psikologi anaknya tapi dari keluarganya ya. Jadi kalau keluarganya keluarga konflik, kemudian ada masalah di pola pengasuhan, itu menjadi salah satu penyebab yang paling tinggi untuk bunuh diri,” ujarnya.
Ia menambahkan faktor lingkungan seperti perundungan dan tekanan akademik juga menjadi penyebab besar masalah kesehatan mental pada anak dan remaja.
“Yang kedua adalah lingkungannya tuh. Lingkungan tuh saya lihat yang perundungan dan tekanan akademik,” kata Budi.
Untuk menekan risiko tersebut, Kemenkes akan memperluas skrining kesehatan mental di sekolah agar masalah kesehatan jiwa pada anak dapat terdeteksi lebih dini.
“Mudah-mudahan dari 7 juta bisa naik 14 juta terus 25 juta, kita jadi bisa tahu secara lebih dini siapa anak-anak yang memiliki potensi masalah kesehatan jiwa,” ujarnya.
Selain skrining, pemerintah juga membuka layanan bantuan darurat bagi anak yang mengalami tekanan psikologis agar dapat segera memperoleh dukungan dan penanganan.
"Dan kita juga tetap akan membuka layanan bantuan darurat jadi kalau mereka mengalami mereka bisa call kita ya,” ujar Budi.
Salah satu layanan yang disediakan pemerintah adalah layanan konseling krisis melalui hotline kesehatan.
“Ada Healing 119 ini kayak call center-nya kita kalau ada anak-anak yang merasa ingin bunuh diri dia bisa telepon ke sini,” katanya.





