JAKARTA, KOMPAS.com - Tren busana Lebaran 2026 kembali diramaikan fenomena unik di media sosial.
Kali ini, publik dibuat penasaran dengan istilah gamis "bini orang” yang viral dan banyak diburu menjelang Hari Raya.
Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Andreas Budi Widyanta mengatakan, tren seperti gamis "bini orang” menunjukkan bagaimana masyarakat terpengaruh arus tren.
Baca juga: Tren Baju Lebaran 2026: Dari Gamis “Istri Sah” hingga “Bini Orang” Ramai Diburu
Banyak orang akhirnya ikut membeli bukan semata karena kebutuhan, tetapi karena dorongan takut ketinggalan tren atau fear of missing out (FOMO).
“Mayoritas masyarakat kita seringkali suka pada tren. Kalau tidak mengikuti tren itu, orang merasa ketinggalan zaman,” ujar Widyanta saat dihubungi Kompas.com, Senin (9/3/2026).
Meski namanya terdengar nyeleneh, model gamis tersebut justru memiliki desain sederhana.
Umumnya tanpa payet atau bordir mencolok, dengan potongan longgar dan rok bertingkat yang membuat tampilan jatuh dan anggun.
Namun di balik viralnya tren tersebut, membuat orang penasaran untuk mencoba sesuatu yang sedang ramai di kalangan.
“Daripada ketinggalan zaman, orang akhirnya ingin merasakan juga seperti apa gamis itu,” kata dia.
Baca juga: Tren Gamis Bini Orang Vs Istri Sah di Tanah Abang, Pilih yang Mana?
Strategi marketing
Widyanta menilai, fenomena viralnya gamis "bini orang” juga tak terjadi secara kebetulan.
Dalam banyak kasus, tren semacam itu muncul dari strategi pemasaran yang dirancang untuk menarik perhatian publik.
Ia menyebut strategi tersebut memanfaatkan viralitas media sosial untuk memperluas penyebaran informasi produk.
“Proses marketing seperti ini sebetulnya bukan kebetulan, tetapi by design,” ujar Widyanta.
Momentum Ramadhan sering dimanfaatkan pelaku bisnis untuk mendorong konsumsi masyarakat melalui berbagai strategi promosi.
Di sisi lain, fenomena ini juga menunjukkan bagaimana ekonomi bekerja di balik momen-momen ritual keagamaan.