JAKARTA, KOMPAS.com - Di lorong sepanjang 500 meter, puluhan pedagang Pasar Ular, Plumpang, Koja, Jakarta Utara, terlihat sedang duduk termenung menanti para pembeli di depan kiosnya masing-masing.
Sebagian pedagang lagi berusaha mencari kesibukan dengan membereskan barang dagangan atau membersihkan kaca etalasenya.
Setiap kali ada pengunjung, para pembeli silih berganti menawarkan berbagai dagangannya mulai dari baju, celana, tas, ikat pinggang, dompet, kaca mata, koper, sepatu, topi, dan lain sebagainya.
Barang-barang dagangan itu tersusun rapi di setiap kios para pedagang.
Baca juga: Redupnya Kejayaan Pasar Ular Jakut yang Dulu Jadi Favorit Artis
Untuk barang yang harganya mahal seperti tas, jam tangan, dan sepatu, terlihat disimpan lebih apik di dalam etalase kaca agar tidak terkena debu.
Sementara untuk pakaian seperti celana, kaus, dan kemeja, terlihat digantung rapih mengelilingi tembok setiap kios para pedagang.
Pedagang bernama Ajis Subeni (55) telah menggantungkan hidupnya di Pasar Ular selama 29 tahun.
Dulu, ia memiliki empat toko yang selalu ramai dikunjungi pembeli setiap harinya.
Ajis pernah menjual pakaian bermerek seperti Lee, Louis Vuitton (LV), dan lainnya dengan harga miring.
"Barangnya dapat dari distributor pertama, misal Louis itu dari manajernya. Jadi, harganya murah," tutur Ajis ketika diwawancarai Kompas.com di lokasi, Jumat (6/3/2026).
Selain harganya murah, barang-barang impor yang ada di Pasar Ular juga banyak yang limited edition dan belum masuk pusat perbelanjaan mewah.
Tak heran bila kondisi Pasar Ular dulu di tahun 1990-an, selalu ramai dan dipadati para pembeli dari berbagai kalangan, termasuk artis papan atas.
Kondisi Pasar Ular akan semakin ramai ketika bulan Ramadhan atau menjelang perayaan Idul Fitri, karena banyak orang yang mencari baju baru.
Saking ramainya pengunjung, sampah bekas makanan dan minuman bekas pengunjung juga selalu menumpuk di sepanjang lorong Pasar Ular setiap sore hari.
Baca juga: Sepi Pembeli, Puluhan Toko di Pasar Ular Tanjung Priok Tutup