Minat Menabung Warga Sulsel Meningkat, DPK Tembus Rp145 Triliun

terkini.id
5 jam lalu
Cover Berita

Terkini, Makassar — Kinerja sektor jasa keuangan di Sulawesi Selatan menunjukkan tren positif pada awal tahun. Hal ini tercermin dari pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK), penyaluran kredit, hingga peningkatan jumlah investor di pasar modal.

Hingga Januari, total DPK perbankan tercatat mencapai Rp145 triliun, atau tumbuh sekitar 7,83 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut tercatat lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit yang berada di kisaran 5,6 persen.

Kondisi ini berdampak pada rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) yang mengalami sedikit penurunan.

Penurunan tersebut kata Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) wilayah Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar) Mochammad Muchlasin mengatakan bukan disebabkan oleh berkurangnya penyaluran kredit, melainkan karena pertumbuhan simpanan masyarakat yang lebih tinggi dibandingkan kredit.

“Artinya minat masyarakat untuk menabung pada awal tahun ini relatif lebih tinggi dibandingkan permintaan kredit,” ungkap Mochammad Muchlasin dalam paparan perkembangan sektor jasa keuangan.

Meski demikian, kata dia penyaluran kredit tetap menunjukkan pertumbuhan positif. Kualitas kredit juga masih terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) sekitar 3,76 persen.

Dari sisi komposisi simpanan, DPK didominasi oleh tabungan yang mencapai sekitar 59 persen atau Rp86 triliun. Sementara porsi giro berada di kisaran 15 persen, dan sisanya berasal dari deposito.

Kredit Produktif Masih Dominan

Dalam penyaluran kredit, sektor produktif masih sedikit lebih besar dibandingkan kredit konsumtif. Hingga Januari, kredit produktif tercatat mencapai sekitar Rp91,50 triliun.

Komposisi kredit relatif seimbang, yakni sekitar 52 persen kredit produktif dan 47 persen kredit konsumtif. Pada segmen konsumtif, porsi terbesar masih berasal dari pembiayaan untuk rumah tangga.

Namun beberapa sektor masih menjadi perhatian karena mengalami penurunan. Salah satunya adalah sektor konstruksi yang sejak tahun lalu hingga awal tahun ini masih menunjukkan tren koreksi sekitar 9 persen.

Selain konstruksi, sektor jasa kemasyarakatan, sosial, dan budaya juga mengalami penurunan. Sementara beberapa sektor lain seperti akomodasi justru mencatat pertumbuhan.

Pembiayaan dan Penjaminan Tumbuh

Di sektor lembaga pembiayaan, peningkatan juga terlihat baik dari sisi jumlah nasabah maupun nilai pembiayaan. Data hingga November menunjukkan pertumbuhan cukup signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Salah satu segmen yang mengalami peningkatan adalah pembiayaan berbasis emas, yang kini tercatat telah melampaui 3 juta nasabah.

Sementara itu, dari sisi penjaminan kredit, nilai penjaminan di Sulawesi Selatan mencapai sekitar Rp1,7 triliun. Pertumbuhannya cukup tinggi, meskipun nilainya masih relatif kecil dibandingkan wilayah lain.

Di daerah ini saat ini baru terdapat satu perusahaan penjaminan daerah (Jamkrida), berbeda dengan beberapa provinsi lain yang memiliki lebih dari satu lembaga penjaminan.

Adapun pada sektor modal ventura, pembiayaan juga menunjukkan pertumbuhan sekitar 34 persen dalam setahun, meskipun nilainya masih berada di bawah Rp3 triliun.

Investor Pasar Modal Naik 31 Persen
Sementara itu, aktivitas di pasar modal juga menunjukkan perkembangan yang cukup pesat.

Jumlah investor tercatat meningkat sekitar 31 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Pertumbuhan tertinggi terjadi pada investor saham, yang naik sekitar 40 persen. Jumlah Single Investor Identification (SID) meningkat dari sekitar 490 ribu menjadi 525 ribu investor.

Meski jumlah investor saham meningkat signifikan, secara total reksa dana masih menjadi instrumen dengan jumlah investor terbanyak. Hal ini karena sebagian masyarakat merasa lebih nyaman berinvestasi melalui manajer investasi.

Dari sisi aktivitas perdagangan, nilai transaksi saham juga melonjak tajam. Pada akhir 2025, nilai transaksi tercatat mencapai sekitar Rp41 triliun, naik sekitar 85 persen dibandingkan posisi akhir 2024 yang berada di kisaran Rp23 triliun.

Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh bertambahnya jumlah investor serta meningkatnya nilai transaksi yang dilakukan oleh masing-masing investor.

Literasi Keuangan Diperkuat

Untuk mendorong pemahaman masyarakat terhadap produk keuangan, berbagai program edukasi literasi keuangan juga terus digelar. Salah satunya melalui rangkaian kegiatan yang berlangsung 6 Februari hingga 2 April.

Program tersebut mencakup webinar literasi keuangan, serta berbagai kompetisi kreatif seperti lomba fotografi, film pendek, hingga seni hadrah yang melibatkan generasi muda.

Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan literasi dan inklusi keuangan, sekaligus mendorong masyarakat untuk memanfaatkan berbagai layanan keuangan secara lebih bijak.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bobby Nasution Ungkap Progres Stadion Teladan untuk Gelar Piala AFF U-19
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Terungkap! Diam-Diam Benny Moerdani Persiapkan Jenderal Try Sutrisno Jadi Wapres Soeharto
• 15 jam lalurctiplus.com
thumb
Sindikat STNK-BPKB Palsu Terbongkar! Korlantas Polri Sita 20 Ribu Dokumen dan Puluhan Mobil Bodong
• 14 jam laludisway.id
thumb
Daftar Lokasi Penitipan Kendaraan Gratis dari Polda Metro Jaya Saat Lebaran 2026
• 7 jam lalusuara.com
thumb
Kapolsek Kaliwungu Dikeroyok Sejumlah Pemuda saat Bubarkan Tawuran di Kendal
• 9 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.