- Anggota DPRD DKI Jakarta, August Hamonangan, mendorong Pemprov dukung pengusaha budidaya maggot untuk atasi sampah.
- Pengolahan sampah organik menggunakan maggot dinilai berdampak besar mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
- Pemprov DKI didesak beri pembinaan dan pelatihan untuk warga yang berminat memulai usaha daur ulang maggot.
Suara.com - Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), August Hamonangan, mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk merangkul para pengusaha budidaya maggot demi mengatasi persoalan sampah di ibu kota.
Langkah strategis tersebut disampaikan August menyusul kondisi pengelolaan limbah yang kian memprihatinkan.
“Kami punya banyak pengusaha pendaur ulang sampah yang menggunakan maggot di Jakarta ini. Jasa-jasanya dalam mengurangi jumlah sampah masyarakat pun tidak bisa dikatakan kecil,” kata August dalam keterangan tertulis, Senin (9/3/2026).
August menilai potensi pengolahan sampah organik menggunakan larva lalat tentara hitam ini memiliki dampak besar dalam mengurangi volume beban tempat pembuangan akhir.
Ia juga menekankan pentingnya pemberian dukungan nyata dari Pemprov berupa pembinaan hingga pelatihan bagi warga yang berminat terjun ke sektor daur ulang tersebut.
“Para pengusaha itu harus didukung. Bahkan, Pemprov DKI juga perlu memberikan bantuan dalam bentuk pembinaan dan pelatihan bagi warga-warganya yang ingin memulai usaha di bidang itu. Semakin banyak pengusaha yang menjalankan usaha daur ulang sampah dengan menggunakan maggot ini, maka lebih baik lagi,” sambung August.
Berdasarkan data terbaru Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2025, volume sampah Jakarta sudah menembus angka 9 ribu ton per hari.
Kondisi tersebut mengakibatkan tempat pembuangan akhir seperti TPST Bantargebang sudah berada pada titik jenuh dan rawan longsor, seperti yang terjadi pada Minggu (8/3/2026) kemarin.
“Kita harus segera mengurangi sampah-sampah yang dihasilkan oleh warga Jakarta dari hari ke hari. Apalagi, tempat-tempat sampah kita juga sudah hampir penuh,” tegasnya.
Baca Juga: Gempur Lapangan Padel Bodong, Pemprov DKI Segel 206 Lokasi
Politisi yang juga penasihat Fraksi PSI itu turut menyoroti minimnya fasilitas pengolahan kompos dan produk kreatif di Jakarta jika dibandingkan dengan jumlah bank sampah yang tersedia.
Merujuk pada data SIPSN, Jakarta saat ini tercatat memiliki 2.867 fasilitas bank sampah, namun hanya didukung oleh 421 fasilitas komposting.
August berpendapat bahwa metode pengelolaan sampah secara konvensional sudah menemui batasannya sehingga memerlukan solusi alternatif yang lebih taktis.
“Cara-cara konvensional dalam mengelola sampah juga memiliki batasan-batasannya. Kita tidak bisa lagi sepenuhnya mengandalkan itu, sampahnya hanya akan bertambah lebih banyak lagi. Pemprov DKI harus mencari solusi-solusi alternatif,” tandasnya.




