TANGERANG, KOMPAS.com — Warga Perumahan Periuk Damai di Tangerang, Banten, menceritakan kepanikan saat banjir tiba-tiba menerjang kawasan mereka ketika sebagian warga sedang menyantap sahur pada Minggu (9/3/2026) sekitar pukul 04.00 WIB.
Air disebut datang secara mendadak tanpa tanda-tanda sebelumnya dan langsung meninggi hingga merendam permukiman.
“Waktu itu kita lagi sahur, tiba-tiba air langsung datang tinggi. Warga pada kaget semua,” ujar Heri (45), salah satu warga terdampak, saat ditemui Kompas.com di lokasi, Senin (9/3/2026).
Baca juga: Banjir di Periuk Tangerang Baru Surut 20 Cm dalam 12 Jam
Heri mengatakan, ia dan keluarganya tidak sempat menyelamatkan barang-barang di dalam rumah karena air datang dengan sangat cepat. Menurutnya, banjir tersebut diduga terjadi setelah tanggul di sekitar kawasan yang baru diperbaiki jebol.
Akibat banjir tersebut, rumah Heri yang memiliki dua lantai hampir seluruh lantai pertamanya terendam air dengan ketinggian mendekati empat meter.
Sejumlah barang rumah tangga ikut terendam, mulai dari kasur, lemari, kursi, hingga peralatan elektronik seperti kulkas dan televisi.
Saat ini, Heri bersama istri dan dua anaknya memilih bertahan di lantai dua rumah karena banjir belum surut. Ia juga menyebutkan, aliran listrik di kawasan tersebut telah padam sejak banjir terjadi.
“Kalau air bersih masih ada, tapi listrik sudah mati total dari kemarin,” kata dia.
Warga lainnya, Rifky (25), mengatakan banjir kali ini merupakan yang paling parah dibandingkan kejadian sebelumnya.
Menurut dia, ketinggian air di sejumlah titik mencapai tiga hingga lima meter, bahkan ada rumah yang hampir seluruhnya terendam dan hanya menyisakan atapnya saja.
Rifky yang telah tinggal di Perumahan Periuk Damai selama 21 tahun mengatakan banjir di wilayah tersebut biasanya terjadi sekitar lima tahun sekali. Namun pada 2026, banjir justru datang lebih parah.
Baca juga: Perumahan Periuk Damai Tangerang Banjir 5 Meter, Warga Bertahan di Lantai 2 Rumah
“Tahun ini sudah dua kali banjir. Biasanya sih musiman, sekitar lima tahun sekali,” kata dia.
Saat banjir terjadi, Rifky sedang bekerja dan baru mengetahui kondisi tersebut sekitar pukul 07.00 WIB ketika air sudah sangat tinggi.
Ia bersama keluarganya kemudian mengungsi ke Masjid Al Jihad yang berada tidak jauh dari kawasan permukiman tersebut. Menurut Rifky, banjir di Perumahan Periuk Damai biasanya baru surut setelah beberapa hari.
“Paling cepat empat sampai lima hari, kadang bisa sampai semingguan baru surut,” kata Rifky.
Ia berharap pemerintah dapat melakukan penanganan yang lebih konkret agar banjir tidak terus berulang di kawasan tersebut.
“Harapannya ke depan jangan banjir lagi, ada penanganan yang konkret dari pemerintah,” ucap dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




