Bisnis.com. JAKARTA — Investor disarankan untuk mengadopsi strategi akumulasi saham yang lebih selektif dan defensif tengah ketidakpastian global akibat lonjakan harga harga minyak dan tensi geopolitik.
Head of Research RHB Sekuritas Andrey Wijaya mengatakan sejumlah saham sektoral yang berpotensi tetap menarik antara lain adalah energi dan batu bara, yang berpotensi mendapat dukungan dari kenaikan harga komoditas.
Selanjutnya shipping atau logistik energi, apabila tarif transportasi meningkat hingga bank-bank besar, yang masih memiliki fundamental kuat serta menawarkan dividend yield yang relatif menarik.
“Strategi yang lebih prudent adalah melakukan akumulasi secara bertahap pada saham dengan fundamental solid dan valuasi yang telah terkoreksi cukup dalam,” ujarnya, Senin (9/3/2026).
Sejauh ini, Andrey mencernati dampak kenaikan harga minyak terhadap kinerja emiten sangat bergantung pada karakteristik sektor masing-masing. Perusahaan energi dan komoditas cenderung diuntungkan karena harga jual yang lebih tinggi dapat meningkatkan pendapatan dan margin.
Dia mencontohkan saham sektor transportasi, manufaktur, dan consumer berpotensi menghadapi tekanan akibat meningkatnya biaya energi dan logistik. Selain itu Perbankan relatif lebih stabil, meskipun dapat terdampak secara tidak langsung jika tekanan inflasi atau perlambatan ekonomi mulai terjadi.
“Dengan demikian, lonjakan harga minyak berpotensi menciptakan perbedaan kinerja yang semakin lebar antar sektor di pasar saham," katanya.
Adapun potensi rebound IHSG tetap terbuka tetapi dalam jangka pendek pergerakannya kemungkinan masih dipengaruhi oleh dinamika global, termasuk perkembangan konflik geopolitik, pergerakan harga minyak, serta arah kebijakan suku bunga global.
Meski demikian, fundamental domestik Indonesia masih cukup solid, ditopang oleh pertumbuhan ekonomi yang stabil, likuiditas domestik yang relatif kuat, serta meningkatnya partisipasi investor lokal, sehingga tekanan eksternal biasanya bersifat sementara.
Dia menyebut sejumlah katalis yang saat ini menjadi perhatian pelaku pasar antara lain kinerja emiten pada kuartal I/2026 hingga kuartal II/2026 terutama dari sektor perbankan dan komoditas. Selanjutnya musim pembagian dividen, yang dapat meningkatkan daya tarik yield saham domestik dan pergerakan harga komoditas global yang lebih stabil.
Di sisi lain, perkembangan koordinasi antara Bursa Efek Indonesia dan Morgan Stanley CapitaI Indonesia atauu MSCI maupun penyedia indeks global lainnya juga dicermati karena dapat memengaruhi aliran dana asing serta arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia dan bank sentral global.
“Apabila beberapa katalis tersebut berkembang positif, IHSG berpeluang mengalami pemulihan secara bertahap setelah periode koreksi yang cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir,” jelasnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





