Jakarta, CNBC Indonesia - Diplomat tertinggi China, Wang Yi, memberikan sinyal interaksi langsung antara Presiden Xi Jinping dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Wang Yi menyebut persiapan sedang berlangsung untuk rencana pertemuan antara kedua pemimpin negara, di tengah ketegangan akibat perang di Iran dan persoalan tarif perdagangan, Minggu.
Ia mengungkapkan bahwa agenda pertukaran tingkat tinggi sudah masuk dalam pembahasan resmi kedua belah pihak. Menurutnya, langkah krusial yang harus dilakukan saat ini adalah mematangkan persiapan guna meminimalisir hambatan yang mungkin muncul menjelang pertemuan tersebut.
"Agenda pertukaran tingkat tinggi sudah ada di atas meja," ujar Wang kepada wartawan dalam bahasa Mandarin, sebagaimana diterjemahkan secara resmi oleh CNBC International, Senin (9/3/2026).
"Apa yang perlu dilakukan kedua belah pihak sekarang adalah melakukan persiapan yang matang, menciptakan lingkungan yang sesuai, mengelola risiko yang ada, dan menghilangkan gangguan yang tidak perlu," tambahnya.
Lebih lanjut, Wang memperingatkan risiko besar jika kedua kekuatan ekonomi dunia tersebut memilih untuk memutus komunikasi. Ia menekankan bahwa konfrontasi hanya akan memberikan dampak negatif yang luas, tidak hanya bagi kedua negara, tetapi juga bagi stabilitas global secara keseluruhan.
"Saling membelakangi hanya akan menyebabkan salah persepsi dan salah perhitungan di antara kedua belah pihak. Tergelincir ke dalam konflik atau konfrontasi hanya akan menyeret seluruh dunia ke bawah," tegas Wang Yi.
Setelah pertemuan tatap muka di Korea Selatan (Korsel) pada musim gugur lalu, Xi Jinping dan Trump telah mengindikasikan rencana untuk saling mengunjungi negara masing-masing. Trump dijadwalkan mengunjungi China pada 31 Maret hingga 2 April mendatang, yang akan menjadi kunjungan pertama presiden AS yang menjabat ke China sejak tahun 2017.
Meski demikian, pihak Beijing hingga kini belum mengonfirmasi tanggal pasti kunjungan Trump tersebut. Wang Yi tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai jadwal tersebut, namun ia mencatat bahwa interaksi tingkat tinggi antara kedua presiden sangat krusial bagi masa depan hubungan bilateral.
"Interaksi tingkat tinggi antara presiden AS dan China telah memberikan perlindungan strategis yang penting bagi hubungan China-AS untuk membaik dan melangkah maju," kata Wang.
Beberapa analis sempat meragukan apakah kunjungan tersebut akan terlaksana sesuai jadwal, mengingat situasi geopolitik yang memanas. Keraguan ini muncul setelah serangan gabungan AS-Israel ke Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, serta penangkapan pemimpin Venezuela Nicolas Maduro oleh pihak AS.
Wang tidak menyebutkan nama-nama individu tersebut secara spesifik dalam keterangannya kepada pers pada Minggu pagi. Namun, ia menegaskan kembali seruan Beijing untuk segera melakukan gencatan senjata dalam konflik di Iran yang terus bereskalasi.
"Ini adalah perang yang seharusnya tidak pernah terjadi. Ini adalah perang yang tidak membawa kebaikan bagi siapa pun," tutur Wang.
Berdasarkan catatan resmi, Wang telah melakukan pembicaraan telepon dengan setidaknya tujuh menteri luar negeri-termasuk dari Rusia, Iran, dan Israel-sejak serangan gabungan ke Iran dimulai pada 28 Februari. Pernyataan ini disampaikan di sela-sela pertemuan parlemen tahunan China yang berlangsung selama delapan hari dan dijadwalkan berakhir pada hari Kamis.
Terkait isu ekonomi, Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng diperkirakan akan bertemu akhir pekan ini di Paris. Pertemuan tersebut bertujuan untuk membahas kesepakatan bisnis yang berpotensi disetujui oleh kedua presiden jika pertemuan mereka terealisasi sesuai rencana.
Hingga berita ini diturunkan, pihak China belum memberikan komentar resmi mengenai laporan rencana pertemuan di Paris tersebut. Saat ini, para pemimpin tinggi China, termasuk Presiden Xi Jinping dan Perdana Menteri Li Qiang, masih terus melakukan pertemuan dengan para delegasi di Beijing.
(tps/sef) Add as a preferred
source on Google




