REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 3,27 persen menuju level 7.337 pada perdagangan Senin (9/3/2026), di tengah terus bergulirnya konflik perang di Timur Tengah. Menanggapi hal itu, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengomparasikannya dengan kondisi IHSG pada tahun lalu akibat dampak penerapan tarif AS yang dinilai lebih parah.
“Kalau kita lihat kan memang faktor eksternal yang sedang terjadi saat ini menimbulkan ketidakpastian yang sangat tinggi. Tidak hanya di pasar kita, tetapi juga di global market,” kata Penjabat Sementara (Pjs) Direktur Utama PT BEI Jeffrey Hendrik usai menghadiri acara peluncuran IDX Mobile Sharia di Gedung BEI, Jakarta, Senin (9/3/2026).
Baca Juga
BPJS Ketenagakerjaan Gandeng Masjid dan RT/RW untuk Perluas Perlindungan Pekerja Informal
Sidak ke Tanah Abang, Menkeu Nilai Ekonomi RI Masih Aman dari Resesi
Salurkan THR Pensiunan ASN, TASPEN Imbau Peserta Waspada Modus Penipuan
Kendati demikian, kondisi goncangan yang dialami pasar modal Indonesia saat ini dinilai masih cukup kondusif, dibandingkan gonjang ganjing yang terjadi pada tahun lalu. Tepatnya usai Pemerintah AS menetapkan tarif resiprokal kepada negara-negara yang menyebabkan defisit perdagangan AS pada 2 April 2025 lalu, IHSG mengalami kemerosotan hingga menyentuh level 6.000.
“Kalau kita bandingkan dengan fenomena yang terjadi tahun lalu di bulan April, dimana AS juga mengeluarkan kebijakan yang tidak diantisipasi oleh publik pada saat itu, itu juga mengakibatkan penurunan pasar yang sangat tajam. Dan pada saat itu apa yang kita alami lebih buruk dalam konteks pasar daripada hari ini,” ungkapnya.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
“Jadi oleh karena itu sistem infrastruktur dan peraturan di bursa kita sudah siap untuk menghadapi dinamika pasar yang sedang ada,” lanjutnya.