Pergerakan harga minyak dunia terus meningkat sejak perang di Timur Tengah yang melibatkan Israel, Amerika Serikat (AS), dan Iran berlangsung pada Sabtu (28/2).
Pada Jumat (27/1) harga Brent masih berada di bawah US$ 71 per barel. Hari ini (9/3), harga Brent dan minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik menjadi US$ 110 per barel.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira Adhinegara, memprediksi harga minyak akan terus naik hingga US$ 150 per barel.
“Proyeksinya US$ 120-150 per barel, eskalasi serangan di Iran masih berlanjut dan menargetkan infrastruktur energi. Perang juga akan berlangsung lama karena belum ada kejelasan kapan damai,” kata Bhima saat dihubungi Katadata, Senin (9/3).
Menurut Bhima, melonjaknya harga minyak dunia saat ini akan berdampak pada melebarnya defisit APBN ke Rp 340 triliun. Kondisi ini juga memberi tekanan inflasi yang merambat dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), pangan, dan daya beli masyarakat.
Kenaikan harga ini juga berpeluang menyebabkan terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang berujung pada naiknya angka pengangguran.
“Sebaiknya pemerintah mulai membahas APBN perubahan dengan DPR. salah satu poinnya adalah realokasi total anggaran MBG, Kopdes MP, dan Food Estate,” ujarnya.
Dia menyebut ketiga program ini jika di moratorium akan menambah Rp 340 triliun anggaran untuk menambal subsidi energi. Meski harga minyak dunia naik, semestinya pemerintah mencegah naiknya harga BBM agar bisa menekan kenaikan inflasi.
“Selain itu pemerintah harus mengeluarkan paket kebijakan berupa bantuan subsidi upah untuk menjaga disposable income pekerja formal dan informal. Diskon tarif listrik 50% selama 6 bulan bisa diberlakukan ke rumah tangga di bawah 2.200 va,” ucapnya.
Senada dengan Bhima, praktisi Migas Hadi Ismoyo juga memprediksi harga minyak dunia bisa melampaui US$ 120 per barel akibat perang Timur Tengah ini.
“Harga akan terus naik, bisa melewati US$ 120 per barel. Saya melihat kemarahan Iran semakin membabi buta karena pimpinannya dibunuh,” kata Hadi.
Hadi juga meminta pemerintah untuk mempertimbangkan segala dampak yang terjadi akibat lonjakan ini. Tapi menurutnya, dampak terbesar yang memungkinkan terjadi adalah naiknya harga BBM.
Menurut Hadi, Indonesia dihadapkan oleh solusi dan pilihan yang sama-sama sulit. “Sebab harus memilih antara menaikkan harga BBM atau menaikkan pagu subsidi BBM,” ujarnya.
Pasokan Aman, Tapi Tidak dengan HargaMenteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pasokan BBM Indonesia hingga hari raya Lebaran atau Idulfitri dalam kondisi aman. Dia menyebut masalah yang dihadapi pemerintah saat ini berkaitan dengan pergerakan harga minyak dunia.
Pergerakan harga minyak dunia terus meningkat sejak perang di Timur Tengah yang melibatkan Israel, Amerika Serikat (AS), dan Iran berlangsung pada Sabtu (28/2). Pada Jumat (27/1), harga minyak Brent masih berada di bawah US$ 71 per barel. Hari ini (9/3), harga Brent menjadi US$ 107,93 per barel, sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik menjadi US$ 107,40 per barel.
“Masalahnya kita sekarang bukan di stok (minyak dan BBM), tapi di harga,” kata Bahlil saat ditemui di Kementerian ESDM, Senin (9/3).
Dia menyebut pemerintah akan melakukan pembahasan untuk menentukan langkah komprehensif ke depannya. Bahlil juga memastikan tidak ada kenaikan harga BBM subsidi hingga Idulfitri nanti.
Bahlil mengatakan saat ini fokus terpenting pemerintah soal keamanan stok hari raya Idulfitri. “(Panic buying) sebenarnya tidak perlu ada,” ucapnya.
Selain membahas stok dan harga, Bahlil menyebut pemerintah juga akan membahas soal harga minyak dunia yang sudah melampaui asumsi APBN 2026 yang sebesar US$ 70 per barel. “Itu nanti urusan pemerintah, pasti ada komunikasi,” ujarnya.




