PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI (BRIS) menunjukkan ketahanan profil kredit yang berbeda dibandingkan bank-bank pelat merah lainnya. Di saat mayoritas bank BUMN mengalami revisi prospek menjadi negatif, lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings justru mempertahankan outlook peringkat BSI pada level 'stabil', Senin (9/3).
Keputusan tersebut terbilang menarik. Sebab, pada saat yang sama, Fitch memangkas outlook peringkat utang jangka panjang empat institusi keuangan negara lainnya dari ‘stabil’ menjadi ‘negatif’. Keempat institusi yang dimaksud yaitu PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI (BBRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI (BBNI), dan LPEI atau Indonesia Eximbank. Penegasan peringkat BSI di level 'BBB' dengan prospek stabil mencerminkan kekuatan fundamental bank syariah terbesar di Indonesia itu.
Analis Fitch Ratings menjelaskan, ketahanan BSI dipicu oleh profil kredit mandiri perusahaan atau viability rating (VR) yang berada di level 'bbb-'. Hal itu membuat peringkat BSI tidak semata-mata bergantung pada dukungan pemerintah, melainkan pada kemampuan internal bank dalam mengelola risiko dan permodalan.
"Kami telah menegaskan VR, GSR, serta IDR jangka panjang dan pendek BSI. Peringkat IDR jangka panjang BSI kemungkinan besar akan tetap bertahan meskipun peringkat dukungan pemerintah (government support rating) diturunkan sejalan dengan peringkat utang negara (sovereign rating)," tulis Fitch dalam laporan resminya, Senin (9/3).
Stabilitas prospek BSI tersebut menjadi pembeda signifikan di tengah awan mendung yang menyelimuti sektor perbankan negara. Sebagai latar belakang, revisi negatif terhadap Mandiri, BRI, dan BNI terjadi akibat terpangkasnya outlook utang Indonesia menjadi negatif pada Rabu (4/3) lalu.
Bagi bank BUMN besar seperti Mandiri, BRI, dan BNI, peringkat mereka sangat terikat dengan kapasitas dukungan finansial pemerintah. Mengingat peran sistemik mereka yang menguasai 10% hingga 21% pangsa pasar simpanan nasional, setiap perubahan pada prospek fiskal negara akan langsung berdampak pada prospek bank-bank tersebut.
Namun, Fitch menilai BSI memiliki bantalan yang cukup kuat untuk berdiri sendiri. Kondisi lingkungan operasional serta stabilitas makroekonomi memberikan kontribusi positif terhadap skor profil perusahaan, meskipun ada catatan kecil pada struktur simpanan dan model bisnisnya.
Kendati demikian, Fitch memberikan catatan bagi manajemen BSI untuk tetap menjaga rasio permodalan di level yang aman. Prospek stabil BSI bisa terancam jika terjadi penurunan tajam pada kualitas aset yang menggerus modal inti perusahaan secara signifikan di masa depan.
"Peringkat BSI hanya akan diturunkan jika terjadi penurunan tajam pada kapitalisasi, misalnya jika rasio modal inti (common equity tier 1) jatuh di bawah 13% tanpa adanya prospek pemulihan yang cepat," kata Fitch menegaskan dalam laporannya.
Selain faktor internal, BSI juga tetap mendapatkan dukungan dari statusnya sebagai bank milik negara dengan peran kebijakan (policy role) yang strategis dalam pengembangan ekonomi syariah. Hal ini memberikan jaring pengaman ganda, baik dari sisi performa mandiri maupun dukungan pemerintah.
Langkah Fitch mempertahankan prospek stabil BSI diyakini akan memberikan sentimen positif bagi investor di pasar modal. Di tengah fluktuasi ekonomi yang menyebabkan prospek negara dan bank BUMN lainnya menurun, BSI muncul sebagai aset yang dinilai memiliki risiko lebih terukur.
Sebagai bagian dari latar belakang sektor, Fitch juga menegaskan peringkat utang senior tanpa jaminan milik Bank Mandiri, BNI, dan BRI. Meskipun prospeknya negatif, peringkat utang mereka tetap berada di level 'BBB', yang menunjukkan kapasitas pembayaran kewajiban yang masih berada pada kategori investment grade.
Dengan hasil evaluasi tersebut, BSI kini berada di posisi unik sebagai bank pelat merah dengan prospek paling stabil dalam radar Fitch Ratings. Keberhasilan menjaga profil kredit mandiri (VR) menjadi kunci utama BSI tidak terseret arus revisi negatif yang menimpa induk semang (BMRI) maupun rekan-rekan sejawatnya di BUMN.
Kini, fokus pasar akan tertuju pada bagaimana BSI mempertahankan rasio modal intinya serta upaya pemerintah memperbaiki prospek kedaulatan agar bank-bank BUMN lainnya dapat kembali ke level prospek stabil.




