Jakarta: Pakar lingkungan dari Universitas Indonesia, Mahawan Karuniasa, menyarankan penanganan longsor di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi dilakukan secara menyeluruh. Hal ini penting dilakukan untuk mencegah terjadinya kejadian serupa.
Kepada Metrotvnews.com, dia menjelaskan, penanganan longsor tumpukan sampah di TPST Bantargebang bisa dilakukan perjangka mulai dari jangka pendek hingga jangka panjang. Metrotvnews.com telah merangkung proses penanganan sebagai berikut.
Baca Juga :
Pakar Lingkungan UI: Longsor Bantargebang Karena Banyak FaktorUntuk jangka pendek, kata Mahawan, perlu ada audit untuk mengecek apakah peristiwa tersebut terjadi karena kelalaian atau bukan. Mahawan menjelaskan, beberapa hal yang bisa diaudit yaitu terkait Standar Operasional Prosedur (SOP), kemiringan lereng, pengendalian air, pemadatan, dan monitoring lingkungan.
"Tentu saja kalau jangka pendek perlu di audit kembali, diperiksa kembali apa yang terjadi sebenarnya di sana," jelasnya, kepada Metrotvnews.com, Senin, 9 Maret 2026.
Foto Antara
Jangka Menengah dan Panjang
Mahawan menerangkan, untuk penanganan jangka menengah, perlu ada penambahan kapasitas pemrosesan sampah. Hal ini tidak hanya berlaku di TPST Bantargebang, tapi juga TPA lain.
"Jadi jangan sampai sampah yang masuk ke TPA, ke TPST, Bantar Gebang ini lebih besar dari outflow-nya," jelasnya.
Dia menekankan, pemrosesan sampah merupakan proses hilir penanganan sampah. Tidak kalah penting adalah memperkuat penanganan sampah di hulu yaitu mengurangi inflow dengan pemilahan sampah.
Selain jangka menengah tersebut, pemangku kebijakan juga harus memikirkan penanganan jangka panjang. Penaganan tersebut adalah memanfaatkan sampah.
"Mulai dari pemilahan, daur ulang, 3R (reduce, reuse, recycle) itu diterapkan di hulu. Sehingga jumlah sampah yang sampai ke TPST Bantar Gebang bisa berkurang," tuturnya.
Sebagai informasi, Gunungan sampah di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi mengalami longsor pada Minggu, 8 Maret 2025. Hingga Senin, 9 Maret 2026, total enam korban ditemukan meninggal dunia.




