Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tidak khawatir terhadap pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah lantaran perekonomian nasional yang masih ekspansif.
Purbaya Yudhi Sadewa Menteri Keuangan (Menkeu) mengatakan, pihaknya akan mempertahankan ekspansif dan akselerasi yang masih berlangsung hingga saat ini.
“Ekonomi sedang ekspansi. Daya beli kami jaga mati-matian. Boro-boro krisis, resesi aja belum, melambat saja belum. Kita masih ekspansi, masih akselerasi. Itu yang kami jaga terus dalam beberapa minggu ke depan,” kata Purbaya kepada wartawan di Jakarta, Senin (9/3/2026).
Untuk diketahui, IHSG pada perdagangan Senin sore ditutup melemah 248,32 poin atau 3,27 persen ke posisi 7.337,37. Sementara indeks LQ45 atau kelompok 45 saham unggulan turun 25,47 poin atau 3,28 persen ke posisi 750,57.
Adapun rupiah ditutup melemah 24 poin ke level Rp16.949 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya Rp16.925 per dolar AS. Sepanjang perdagangan, rupiah sempat melemah hingga 70 poin.
Purbaya mengatakan, bahwa Indonesia sudah memiliki pengalaman yang cukup memadai dengan beberapa krisis yang terjadi sebelumnya, yakni krisis moneter 1998, krisis keuangan 2008, dan krisis akibat pandemi COVID-19 pada 2020.
BACA JUGA:Rupiah Ditutup Melemah Rp16.949 per Dolar AS, Lonjakan Harga Minyak Jadi Pemicu
Dengan berbagai pengalaman itu, Purbaya yakin pemerintah mampu menyiapkan langkah mitigasi atas segala potensi gejolak yang mungkin terjadi.
“Jadi, investor di pasar saham nggak usah takut. Fondasi kami jaga betul. Pengalaman 2008, 2020, kita bisa menjaga momentum pertumbuhan ekonomi,” tuturnya, seperti dilansir Antara.
Dalam kesempatan yang sama, Purbaya menyatakan daya beli masyarakat masih tetap aman dan perekonomian masih jauh dari krisis.
Purbaya melakukan inspeksi dadakan (sidak) di Pasar Tanah Abang, Jakarta, lantaran mendengar spekulasi bahwa perekonomian nasional sedang menuju resesi.
Sementara, menurut Purbaya, berbagai indikator ekonomi menunjukkan bahwa perekonomian nasional dalam kondisi yang baik.
Terkait potensi tekanan ekonomi akibat konflik Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel, Purbaya memastikan bakal mengambil kebijakan yang bisa meredam dampak lonjakan harga minyak ketika harga sudah di luar kendali Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) nantinya.
Menkeu mengatakan, APBN akan dipersiapkan semaksimal mungkin untuk menjadi peredam atas gejolak ekonomi (shock absorber).
Lebih lanjut, dia juga belum berencana menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi di tengah kenaikan harga minyak dunia. Menurutnya, anggaran fiskal masih cukup untuk menampung gejolak saat ini.(ant/ily/ipg)




