Fregat Iran IRIS Dena tenggelam pada 4 Maret di perairan lepas pantai Sri Lanka setelah diserang kapal selam AS. Insiden tersebut menewaskan 87 orang, 32 orang berhasil diselamatkan, sementara 61 orang lainnya masih hilang.
EtIndonesia. Media Inggris melaporkan bahwa seorang pria yang mengaku sebagai ayah dari salah satu awak kapal mengatakan putranya sempat menelepon sebelum kapal tenggelam. Ia mengatakan militer AS telah dua kali memperingatkan mereka untuk meninggalkan kapal dan menyelamatkan diri, tetapi permintaan itu ditolak oleh kapten kapal.
Belakangan ini, Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan terhadap Iran, memicu konflik berskala besar yang terus meluas di kawasan Timur Tengah.
Media yang berbasis di London, Iran International, mengutip sumber yang mengatakan bahwa meskipun ancaman sudah sangat dekat, komandan Angkatan Laut Iran tetap menolak perintah agar awak kapal meninggalkan IRIS Dena.
Sumber tersebut juga mengungkapkan bahwa menurut ayah awak kapal itu, pada saat kejadian kapten kapal sempat terlibat pertengkaran sengit dengan para awak kapal. Pada akhirnya hanya 32 orang awak yang berhasil naik ke sekoci dan melarikan diri tepat waktu.
Menanggapi insiden tersebut, Menteri Perang AS Pete Hegseth mengatakan bahwa IRIS Dena merasa aman karena berada di perairan internasional, tetapi akhirnya ditenggelamkan oleh torpedo militer AS.
Ia juga menyatakan bahwa ini merupakan pertama kalinya sejak Perang Dunia II Amerika Serikat menenggelamkan kapal perang musuh menggunakan torpedo.
Sementara itu, laporan Reuters menyebutkan bahwa sebuah telegram internal AS tertanggal 6 Maret menunjukkan bahwa pemerintah AS meminta pemerintah Sri Lanka tidak memulangkan para pelaut Iran yang selamat ke Iran.
Permintaan itu mencakup:
- 32 pelaut yang selamat dari fregat IRIS Dena
- 208 personel militer dari kapal Iran lain, IRIS Bushehr, yang juga berhasil diselamatkan
Sumber : NTDTV.com





