Jakarta (ANTARA) - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjadikan lonjakan harga minyak dunia akibat perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran, sebagai momentum untuk melakukan transisi energi.
“Ini jadi momentum bagi pemerintah untuk terus mempercepat pengembangan energi baru terbarukan,” ucap Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dwi Anggia ketika dihubungi ANTARA dari Jakarta, Senin.
Diberitakan oleh Sputnik, harga minyak mentah jenis Brent sempat mencapai 118 dolar AS per barel untuk kali pertamanya sejak 17 Juni 2022. Harga tersebut lebih tinggi apabila dibandingkan dengan rata-rata harga minyak pada Januari 2026, di mana jenis Brent (ICE) sebesar 64 dolar AS per barel, dan US WTI berada di angka 57,87 dolar AS per barel.
Menurut Anggia, dinamika harga minyak dunia yang terjadi saat ini menjadi pengingat bagi Kementerian ESDM bahwa ketahanan energi tidak boleh hanya bergantung kepada satu sumber energi.
Oleh karena itu, Kementerian ESDM akan mempercepat pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), pembangkit listrik panas bumi (PLTP), pembangkit listrik tenaga air (PLTA), hingga bioenergi.
Lebih lanjut, Anggia menyampaikan pemerintah terus memantau perkembangan geopolitik yang memengaruhi harga komoditas, seperti minyak mentah.
Adapun yang menjadi prioritas bagi pemerintah saat ini adalah menjaga stabilitas energi di dalam negeri. Kementerian ESDM pun telah menyiapkan berbagai skenario untuk menjaga ketahanan energi nasional, seperti mengalihkan impor dari Timur Tengah ke negara-negara lain yang tidak melalui Selat Hormuz.
“Tetapi di tengah dinamika harga minyak global, ini juga berdampak positif untuk PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) sektor migas, karena kita juga punya produksi domestik di atas 600 ribu barel per hari,” ucap Anggia.
Ketegangan regional meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari, yang sejauh ini dilaporkan menewaskan lebih dari 1.000 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, lebih dari 150 siswi sekolah, serta sejumlah pejabat tinggi militer.
Iran telah membalas dengan rentetan serangan besar-besaran yang menargetkan pangkalan AS, fasilitas diplomatik, dan personel militer di seluruh kawasan, serta beberapa kota di Israel. Serangan tersebut terus meningkat.
Pada Minggu (8/3), AS dan Israel melancarkan serangan udara yang menargetkan fasilitas penyimpanan minyak Iran di Teheran dan sekitarnya.
Serangan tersebut menyebabkan kerusakan parah pada sejumlah fasilitas penyimpanan, termasuk Depo Minyak Shahran. Alhasil, harga minyak dunia pun melonjak hingga menembus 100 dolar AS per barel.
Baca juga: Bahlil akan beri insentif konversi motor bensin jadi listrik
Baca juga: Presiden tunjuk Menteri Bahlil jadi Ketua Satgas Transisi Energi
Baca juga: NEXT dorong pemanfaatan EBT untuk kurangi ketergantungan energi fosil
“Ini jadi momentum bagi pemerintah untuk terus mempercepat pengembangan energi baru terbarukan,” ucap Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dwi Anggia ketika dihubungi ANTARA dari Jakarta, Senin.
Diberitakan oleh Sputnik, harga minyak mentah jenis Brent sempat mencapai 118 dolar AS per barel untuk kali pertamanya sejak 17 Juni 2022. Harga tersebut lebih tinggi apabila dibandingkan dengan rata-rata harga minyak pada Januari 2026, di mana jenis Brent (ICE) sebesar 64 dolar AS per barel, dan US WTI berada di angka 57,87 dolar AS per barel.
Menurut Anggia, dinamika harga minyak dunia yang terjadi saat ini menjadi pengingat bagi Kementerian ESDM bahwa ketahanan energi tidak boleh hanya bergantung kepada satu sumber energi.
Oleh karena itu, Kementerian ESDM akan mempercepat pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), pembangkit listrik panas bumi (PLTP), pembangkit listrik tenaga air (PLTA), hingga bioenergi.
Lebih lanjut, Anggia menyampaikan pemerintah terus memantau perkembangan geopolitik yang memengaruhi harga komoditas, seperti minyak mentah.
Adapun yang menjadi prioritas bagi pemerintah saat ini adalah menjaga stabilitas energi di dalam negeri. Kementerian ESDM pun telah menyiapkan berbagai skenario untuk menjaga ketahanan energi nasional, seperti mengalihkan impor dari Timur Tengah ke negara-negara lain yang tidak melalui Selat Hormuz.
“Tetapi di tengah dinamika harga minyak global, ini juga berdampak positif untuk PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) sektor migas, karena kita juga punya produksi domestik di atas 600 ribu barel per hari,” ucap Anggia.
Ketegangan regional meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari, yang sejauh ini dilaporkan menewaskan lebih dari 1.000 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, lebih dari 150 siswi sekolah, serta sejumlah pejabat tinggi militer.
Iran telah membalas dengan rentetan serangan besar-besaran yang menargetkan pangkalan AS, fasilitas diplomatik, dan personel militer di seluruh kawasan, serta beberapa kota di Israel. Serangan tersebut terus meningkat.
Pada Minggu (8/3), AS dan Israel melancarkan serangan udara yang menargetkan fasilitas penyimpanan minyak Iran di Teheran dan sekitarnya.
Serangan tersebut menyebabkan kerusakan parah pada sejumlah fasilitas penyimpanan, termasuk Depo Minyak Shahran. Alhasil, harga minyak dunia pun melonjak hingga menembus 100 dolar AS per barel.
Baca juga: Bahlil akan beri insentif konversi motor bensin jadi listrik
Baca juga: Presiden tunjuk Menteri Bahlil jadi Ketua Satgas Transisi Energi
Baca juga: NEXT dorong pemanfaatan EBT untuk kurangi ketergantungan energi fosil





