JAKARTA, KOMPAS.com — Menjelang Idul Fitri, trotoar di sejumlah ruas jalan di Jakarta kembali menjadi tempat bertahan hidup bagi sebagian warga yang terpinggirkan secara ekonomi.
Di sepanjang jalur penghubung Jalan Pasar Minggu menuju Jalan Prof. Dr. Soepomo, Jakarta Selatan, sejumlah orang terlihat menjalani keseharian mereka di ruang publik itu—mulai dari memulung hingga sekadar menunggu bantuan dari orang yang lewat.
Di tengah hiruk-pikuk kendaraan, seorang perempuan paruh baya tampak duduk bersila di atas ubin pemandu tunanetra berwarna kuning di trotoar kawasan tersebut, Jumat (6/3/2026).
Idah (52) mengaku sudah sekitar empat tahun menjalani hidup di jalanan di kawasan itu bersama suaminya.
Baca juga: Warga Bogor Tak Terganggu Pengemis Musiman: Mungkin Lagi Susah dan Butuh Uang
Menjelang Lebaran, kata Idah, jumlah orang yang datang ke jalanan biasanya bertambah. Mereka berharap mendapatkan bantuan dari masyarakat, mulai dari makanan, sembako, hingga zakat fitrah.
“Kadang dapat zakat fitrah, baju, atau amplop. Lebaran itu jadi momen juga buat kami karena tidak punya rumah,” kata Idah kepada Kompas.com.
Menurut dia, ada pula orang-orang yang datang hanya pada waktu tertentu, terutama ketika Ramadhan dan menjelang Idul Fitri.
“Banyak juga yang merantau ke sini. Ada yang dari Manggarai, ada juga dari luar daerah,” ujar dia.
Hidup empat tahun di trotoarDi samping Idah, sebuah gerobak kayu berwarna hijau dipenuhi tumpukan kardus, botol plastik, dan karung besar yang diikat rapat. Gerobak itu menjadi alat utama bagi Idah untuk mencari nafkah sebagai pemulung.
Ia mengaku berasal dari Jakarta Timur. Setelah kedua orangtuanya meninggal, ia tidak lagi memiliki tempat tinggal.
“Tidak ada rumah. Orang tua sudah meninggal, jadi saya mencari makan sendiri bersama suami,” kata dia.
Baca juga: Kala Budaya Sedekah Jadi Magnet Pengemis Musiman di Bogor
Selama empat tahun terakhir, trotoar menjadi ruang hidupnya. Pada siang hari, ia memulung barang bekas. Ketika hujan turun, ia beralih menjual jas hujan kepada pengendara motor.
“Kalau hujan saya jual jas hujan. Buat jajan, makan, atau buka puasa,” ujar dia.
Namun penghasilan yang diperoleh tidak menentu. Dari memulung, ia hanya bisa mendapatkan uang puluhan ribu rupiah.
“Hasil mulung kadang Rp 70.000. Kalau lagi ramai bisa Rp 100.000, tapi sekarang harga botol juga lebih murah,” kata Idah.
Untuk mandi dan keperluan dasar lainnya, Idah mengandalkan fasilitas umum di sekitar pasar.
“Mandi di MCK umum di Pasar Jembatan Merah,” kata dia.
Di malam hari, ia dan suaminya tidur di depan sebuah tempat makan. Hidup di jalan, menurut Idah, penuh risiko. Ia harus selalu waspada terhadap berbagai kemungkinan.
“Kalau hidup di jalan harus selalu waspada. Tidak boleh lengah karena bisa terjadi apa saja,” kata Idah.
Trotoar berubah menjadi ruang hidup jelang LebaranPemandangan serupa terlihat di beberapa titik trotoar di sepanjang ruas Jalan Pasar Minggu menuju Jalan Prof. Dr. Soepomo.
Asep (45) dan istrinya Santi (37), misalnya, mengaku berasal dari Bogor. Mereka datang ke Jakarta hanya menjelang Lebaran.
Baca juga: Ramadhan di Jalanan Bogor, Potret Pengemis Musiman Menunggu Belas Kasih Pengendara
“Kami datangnya musiman. Biasanya kalau sudah dekat Lebaran baru ke Jakarta,” kata Asep.
Menurut dia, keputusan datang ke Ibu Kota diambil karena sulitnya mencari pekerjaan di kampung.





