Lonjakan Harga Minyak Tekan Rupiah ke Level Rp 17.000

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS – Nilai tukar rupiah dalam perdagangan spot pada Senin (9/3/2026) menembus level Rp 17.000 per dolar AS. Tekanan terhadap nilai tukar ini antara lain disebabkan oleh lonjakan harga minyak dunia.

Mengutip data Bloomberg, nilai tukar rupiah pada hari ini dibuka di level Rp 17.017 per dolar AS atau melemah 0,54 persen dibanding penutupan pasar sebelumnya. Secara tahun kalender berjalan, rupiah tercatat terdepresiasi sebesar 2,03 persen.

Pelemahan rupiah ini terjadi seiring dengan menguatnya dolar AS. Indeks dolar AS terhadap mata uang utama (DXY) pada saat yang telah menembus level 99,56 atau menguat sekitar 0,57 persen dibanding penutupan sebelumnya.

Penguatan kurs dolar AS tersebut didorong oleh lonjakan harga minyak dunia. Dalam hal ini, kurs dolar AS dipandang sebagai kelas aset aman (safe haven) sekaligus mata uang negara pengekspor minyak.

Adapun harga minyak mentah Brent saat ini telah menembus 114 dolar AS per barel. Angka ini meningkat sekitar 23,98 persen dibanding penutupan sebelumnya, sedangkan secara tahun kalender berjalan kenaikannya kenaikannya mencapai 88,61 persen.

“Minyak tetap menjadi saluran transmisi ke dalam ekspektasi inflasi, suku bunga, dan pasar mata uang," kata Head of Markets Macro Strategy BNY, Bob Savage, sebagaimana dikutip dari Reuters.

Selain itu, penguatan dolar AS saat ini turut mengingatkan krisis energi yang pernah terjadi pada 2022. Adapun sepekan ke depan akan menjadi ujian bagi pasar dalam melihat konflik di Timur Tengah sebagai guncangan yang terbatas atau memperhitungkan gangguan pasokan yang lebih berkepanjangan.

Investor semakin mengevaluasi kembali ekspektasi terhadap pelonggaran moneter, termasuk bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Kini, pasar memperhitungkan pemotongan suku bunga pada Juli dan Oktober 2026.

Lebih lanjut, para analis memperkirakan, kawasan Asia berisiko akan menanggung dampak terberat dari guncangan harga energi lantaran tingkat ketergantungannya pada pasokan minyak dan gas dari Timur Tengah. Akibatnya, inflasi meningkat seiring konflik yang berkepanjangan dan tekanan nilai tukar.

Di sisi lain, Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro, menyebut, kenaikan harga energi dikawatirkan dapat memicu inflasi global. Selain itu, investor pun mulai menghindari aset-aset berisiko (risk-off) di pasar keuangan.

“Investor semakin mengevaluasi kembali ekspektasi terhadap pelonggaran moneter, termasuk bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Kini, pasar memperhitungkan pemotongan suku bunga pada Juli dan Oktober 2026,” ujarnya.

Berbagai pertimbangan tersebut turut berdampak terhadap pergerakan nilai tukar rupiah. Ia memperkirakan, rupiah pada hari ini cenderung akan bergerak dalam rentang Rp 16.887-Rp 17.045 per dolar AS.

Sementara itu, pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, berpendapat, tekanan terhadap rupiah disebabkan oleh faktor eksternal dan domestik. Dari sisi eksternal, terpilihnya pemimpin tertinggi baru Iran mengindikasikan ketegangan masih akan terus berlangsung, setidaknya sampai enam bulan ke depan.

Sementara itu, dari sisi domestik, muncul kekhawatiran terhadap pelebaran defisit fiskal akibat harga minyak yang melonjak. Bila tidak diantisipasi, lonjakan harga minyak ke level 114 dolar AS pe barel berisiko memperlebar defisit fiskal mencapai 3,6 persen.

“Carut marut inilah yang membuat rupiah pada saat pembukaan pasar terjadi gap up cukup tajam,” katanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Harga BBM di SPBU Masih Stabil di Tengah Lonjakan Harga Minyak Dunia
• 2 jam lalumedcom.id
thumb
Longsor Sampah TPST Bantargebang, 4 Orang Tewas, Berikut Ini Daftarnya
• 10 jam lalujpnn.com
thumb
Lonjakan Harga Minyak Tekan Rupiah ke Level Rp 17.000
• 4 jam lalukompas.id
thumb
Mengenal Body Doubling, Teknik Fokus yang Bikin Lebih Produktif
• 2 jam lalubeautynesia.id
thumb
Gunung Semeru Kembali Menggeliat, 5 Kali Erupsi Sore hingga Malam Ini
• 17 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.