Surealis, dari Film India ke Teks Prosa

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Film India. Terutama yang terucap di layar lebar dengan bangunan kemasan hiburan yang begitu tampak menyapa mesra khalayak audiens. Begitulah produk sinematografi dengan ciri khas yang melekat kuat berupa pemberadaan sekuen tarian dan nyanyian serta musik pengiringnya itu, telah lama berbincang karib seatmorfer dengan publik Tanah Air sejak dekade 1950-an.

Kemudian setelah beberapa saat meredup, dekade 1990-an hingga 2000-an, menjadi ledakan popularitas gelombang kedua, lewat film-film romansa seperti Kuch Kuch Hota Hai (1998) dan Kabhi Khushi Kabhie Gham (2001). Selebihnya pada era digital yang terentang dari dekade 2010-an, film-film seperti Dangal (2016) dan RRR (2022) tetap meneguhkan eksistensi popularitas sebagai seni tontonan di gedung bioskop dan platform streaming hingga dewasa ini.

Sisi Surealis

Terdapat sisi surealis dalam film-film India yang masih menjadi ciri khas menarik sebagai penggugah pesona tersendiri. Yaitu adanya unsur tarian dan nyanyian serta tentu saja iringan instrumentasi musik yang melekat secara unik dan menjadi bagian dari penggerak jalan cerita atau narasi.

Dalam RRR (Rise Roar Revolt) , film yang hadir sebagai contoh perfek dari masala film. Genre unik yang memadukan sejumlah elemen. Ada aksi komedi, percintaan, drama, dan ada pula melodrama secara bebas dalam satu karya film. Serta, tentu saja ada semacam “obligasi moral” untuk menjaga muruah film-film India. Lagu, musik, plus tarian. Sering muncul dengan latar belakang lokasi yang indah.

Inilah sisi surealis film India. Dalam RRR ada tarian sebagai penggerak narasi. Adegan ikonik lagu “Naatu Naatu” bukan sempadan hiburan, melainkam bagian dari kehendak plot untuk mengekspresikan perlawanan karakter utama (Bheem dan Ram) menyikapi arogansi peguasa Britania Raya di Negeri Indira Gandhi itu lewat kompetisi tari.

Lagu-lagu dalam RRR, menunaikan fungsi untuk mengekspresikan narasi dan emosi. Seperti lagu “Naatu Naatu” (dengan dialek berbeda pelafalannya “Naacho Naacho”) yang memenangi Piala Oscar 2023, dengan paduan tarian yang energik, Bheem dan Ram, menunjukkan kekuatan dan identitas lokal mereka di hadapan kaum elite Britania Raya yang memandang remeh mereka dalam suatu aktivitas pesta.

Lalu lagu “Dosti” terlantun pada awal hubungan Bheem dan Ram. Menengarai ihwal kebersamaan dan persahabatan dua orang asing yang sesungguhnya mempunyai misi yang berseberangan. Akan tetapi, kuasa takdir telah mempertemukan keduanya dalam satu rengkuh perkawanan.

Seterusnya lagu “Janani” yang begitu emosional dan menjadi jiwa film ini. Bernarasi mengenai pengorbanan dan nasionalisme. Lagu ini merasuk ke dalam sejumlah momen berat manakala karakter harus mengambil keputusan pelik demi tujuan perjuangan mulia untuk bangsa negara. Termasuk di dalamnya pengorbanan keluarga.

Kemudian lagu “Komuram Bheemudo” yang hadir manakala Bheem menderita penyiksaan di depan khalayak ramai. Liriknya menyodorkan kisah mengenai keteguhan hati dan martabat. Sekaligus seruan kepada rakyat untuk meneguhkan perlawanan terhadap penindasan. Raga boleh hancur hingga menjadi kepingan ketakberdayaan, akan tetapi api semangat juang tidak akan dan tidak boleh padam.

Selanjutnya lagu “Raamam Raaghavam” yang membangun energi yang mengiringi transformasi penitisan Dewa Rama pada diri Rama Raju sehingga menjelma menjadi kesatria yang pilih tanding. Lagu ini mendeklarasikan penekanan pada garis keturunan, intervensi takdir, dan kekuatan senjata dalam menggapaituntaskan misi revolusi.

Selebihnya, lagu “Etthara Jenda”(“Sholay”) untuk merayakan kemenangan dan persatuan. Ungkapan penghormatan kepada para pejuang kemerdekaan India yang berasal dari pelbagai wilayah. Lagu penutup ini mengemukakan ketegasan semangat nasionalisme yang merupakan pesan utama film ini.

Begitulah lagu-lagu itu hadir sebagai bagian dari sisi surealis bersama tarian dan iringan musik itu hadir di tengah aksi yang intens dalam film RRR. Lagu-lagu itu ikut menggali lebih dalam lagi makna ikatan persahabatan, memproklamasikan jiwa nasionalisme yang meradang menerjang, dan mengguyurkan jeda emosional.

Sementara itu, Dangal sebagai film drama biografi, porsi penggunaan elemen tarian, nyanyian, dan musikalnya yang berada di sisi surealisnya lebih terukur. Tidak ada adegan tarian berkelompok yang muncul secara tiba-tiba sebagaimana film Bollywood klasik. Meski demikian, pembangunan narasi lewat lagu latar yang menyeiringi montase perkembangan nasib para karakter.

Lagu “Haanikaarak Bapu” masih memperoleh fungsi untuk menggelar narasi tentang karakter Geeta dan Babita yang menjalani latihan keras di bawah didikan sang ayah yang menerapkan kedisplinan tingkat tinggi. Lagu ini atau nyanyian ini menunaikan fungsi sebagai dialog batin dan pendeskripsian situasi. Dengan demikian sama saja seperti mengantarkan narasi juga.

Demikiankah, teknik penyajian narasi dalam film India, teristimewa Bollywood yang berbahasa Hindi dan untuk konsumsi komersial, mengintegrasikan realisme narasi konvensional dengan nyanyian, musik, dan tarian. Tiga hal tersebut terakhir inilah yang sering berada dalam ranah anggapan sebagai kepemilikan unsur surealis. Atau lebih tepatnya realisme magis (magical realism) atau realisme surealistik (surrealistic realism).

Realisasi teknik penarasian yang menggotong unsur surealis dalam film India, salah satunya berupa pengintegrasian dua dunia, yang riil dalam konteks naratif dan yang fantasi. Dengan bahasa yang lebih gamblang, film India kerap mengadonkan secara liat, adegan drama realistis (problem sosial, keluarga, dan kemiskinan) dengan adegan musikal yang tampak megah dan menjurus artifisial.

Keberadaan musik di sini sesungguhnya tersedia sebagai bagian dari tindakan para sineas untuk membuka ruang mimpi (dreamspace) yang tidak memperoleh pembatasan realitas sosio-ekonomi, waktu, dan ruang. Teknik penarasian ini memberikan cerminan transisi dari yang konkret (dalam konteks sajian narasi) menuju ke situasi penarasian yang lebih dekat dengan impian. Di sinilah letak watak surealis itu.

Musik dalam hal ini juga merupakan ekspresi bawah sadar. Menurut tatanan konsep narasi populer, lagu atau nyanyian bukan sempadan jeda, melainkan lebih dari itu. Ia pada hakikatnya juga merupakan monolog internal atau ekspresi emosi yang intens (cinta, sedih, kegembiraan) yang lebih menemukan “habitat” pengucapan yang lebih optimal daripada sekadar dengan kata-kata dialog. Nyanyian dan tarian serta tentu saja dengan kelengkapan iringan musiknya untuk mendeskripsikan emosi batin. Acapkali dengan visualisasi fantasi yang melampaui imitasi realitas dunia nyata dalam film.

Sisi surealis dalam film India juga menemukan bentuknya yang kokoh pada “masala” sebagai genre yang melampaui realitas (imitasi realitas dalam dunia film). Genre film masala, kombinasi aksi, komedi, romansa, dan drama tidak jarang menggunakan teknik yang menantang logika atau imitasi logika dari dunia riil.

Misalnya karakter dapat tiba-tiba saja, di antara paparan dialog yang terhidang, menari dan menyanyi dengan latar lokasi berganti-ganti secara drastis dalam satu alunan lagu. Kemudian pemunculan mendadak para penari latar dari lokasi yang tidak masuk akal yang menegaskan adanya gambaran “realisme dari yang irasional”.

Sinematografer Madhu Neelakandan (lahir 12 Juli 1971) mengemukakan, film-film India sering mengoperasikan realisme magis (magical realism) dalam perjalanan alur narasinya. Ini merupakan cara sineas memikat khalayak audiens dengan elemen-elemen yang sedikit surealis. Meskipun demikian, tetap berakar pada emosi manusia nyata.

Teknik penyajian narasi yang surealis dalam film-film India merupakan sebuah bentuk hibrida. Ia merujuk pada gaya unik ketika realisme narasi konvensional memperoleh jembatan dari musik, nyanyian (lagu), dan tarian sebagai suatu “ruang impian” untuk menghadirkan pengalaman sinematik yang estetis, emosional, dan melompati takaran logika keseharian.

Prosa Surealis

Setelah berbicara tentang sisi surealis film India, kini giliran kita beralih ke prosa surealis. Ia merupakan genre karya sastra fiksi, merujuk pada novel atau cerita pendek, yang mengadonkan realitas (imitasi dari realitas) dengan elemen mimpi, alam bawah sadar, atau fantasi yang tidak logis. Ia melewati batasan realitas konvensional dan menerobos sekatan nalar manusia. Kerap kali dengan memakai asosiasi bebas dan citraan aneh.

Melampaui batasan realitas konvensional. Prosa surealis membebaskan dirinya dari aturan logika, relasi kausalitas (sebab - akibat), dan hukum fisika di dunia nyata. Dalam prosa surealis, meja dapat terbang, waktu bisa ateret (serapan dari bahasa Belanda, achteruit) alias bergerak mundur, atau manusia berubah wujud menjadi benda tanpa adanya dukungan penjelasan logis.

Menerobos sekatan nalar manusia. Prosa surealis tidak berkiblat pada logika rasional atau pemikiran sadar yang telah membangun struktur. Prosa surealis menantang khalayak audiens untuk meminggirkan keinginan mencari makna logis. Arah tujuannya menuju pada upaya mengungkapkan “realitas lebih tinggi” atau super-realitas yang berada di alam bawah sadar manusia, seperti dalam mimpi.

Kerap kali dengan memakai asosiasi bebas. Penulis prosa surealis mengungkapkan gagasan naratifnya acapkali tanpa melalui penyensoran. Mereka membiarkan kata-kata mengalir begitu saja dengan teknik menulis otomatis (automatic writing technic) dalam asuhan alam bawah sadarnya. Gagasan-gagasan naratif yang mengalami proses penggabungan bukan karena adanya hubungan logis, melainkan karena keterkaitan emosional atau psikologis yang tidak terduga.

Dan, terdapat citraan aneh. Penulis prosa surealis mengetengahkan deskripsi, metafora, atau simbolisme yang aneh, tidak wajar, mimpi-mimpi (dreamlike), serta penuh kejutan. Contoh “Jam dinding yang meleleh di atas dahan pohon” atau “Sepasang mata yang tumbuh di punggung tangan”. Dari tilikan kalimat seperti ini, agaknya memang ada kesengajaan untuk tidak logis, fantastis, dan absurd. Untuk melepaskan imajinasi liar dan menjelajahi pikiran manusia. Mirip dengan pengalaman saat bermimpi.

Teks prosa surealis sering tampak mirip dengan sejumlah potongan mimpi yang mengalami penggabungan tanpa menimang pertimbangan logika ruang dan waktu. Di bawah ini contoh prosa pendek dengan gaya penulisan yang surealis.

Pagi itu, ia terbangun dengan jam dinding yang mencair dan mengalir masuk ke telinganya, membisikkan detik-detik yang berubah menjadi butiran pasir hitam.

Ia mencoba melangkah, namun lantai kamarnya telah berubah menjadi permukaan danau yang memantulkan langit masa kecilnya.

Di tengah ruangan, sebuah pohon tumbuh dari lubang kancing kemejanya, ranting-rantingnya membuahkan burung-burung kertas yang langsung terbang menuju jendela yang sebenarnya adalah pintu masuk ke perut raksasa yang sedang tertidur.

Pertanyaan yang menggoda. Mengapa teks prosa di atas berhak menerima predikat surealis?

Pertama, karena ada bentuk metamorfosis yang tidak logis di dunia nyata, yaitu “jam dinding yang mencair dan mengalir masuk ke telinga” dan “lantai kamarnya telah berubah menjadi permukaan danau”.

Kedua, ada visual bawah sadar. Pemakaian simbol “langit masa kecil” dan “burung kertas” lebih mengarahkan mata kail pancing pada emosi spesifik, yaitu nostalgia atau kecemasan, daripada menerangjelaskan alur narasi.

Ketiga, fragmentasi, tidak ada kejelasan apakah karakter “ia” dalam teks prosa sebagaimana terkutip pada uraian terdahulu itu telah benar-benar terjaga dari tidurnya atau yang bersangkutan masih terperangkap di dunia mimpinya. Di sini, batas realitas dan khayalan di alam impian, dengan sengaja mengalami pengaburan. Alias tidak ada tabir pembatasnya.

Makna teks prosa surealis sangat tergantung pada resonansi emosi khalayak audiens. Mari kita melakukan pembedahan simbolis! “Jam dinding yang mencair ke telinga” menyimbolkan kecemasan terhadap waktu. Sebab, waktu tidak lagi menjadi ukuran yang linear. Akan tetapi, sesuatu yang meresap dan membebani pikiran dan perasaan karakter. “ia”.

“Membisikkan detik” mempertontonkan betapa sang karakter “ia” tidak mampu menghentikan pengejaran ataupun mengatasi penghantuan usia atau masa lampau. Kemudian “lantai yang menjadi danau” dan “langit masa kecil” adalah simbol regresi atau kerinduaan terhadap naungan rasa aman di masa silam.

Lantai merupakan simbol sebagai pijakan realitas yang relatif stabil. Manakala lantai itu mengalami metamorfosis (menurut penalaran surealis) menjadi air (permukaan danau) yang memantulkan bayang kenangan masa kecil (langit masa kecil karakter “ia”).

Hal itu mengindikasikan kondisi jiwani karakter bersangkutan tengah berada dalam posisi kehilangan pegangan terhadap dunia nyata atau riil. Dan, selanjutnya “tenggelam” kembali ke dalam kenangan atau trauma masa kecilnya.

Sementara itu, “pohon dari lubang kancing dan kemudian ranting-rantingnya membuahkan burung-burung kertas”. Ini menggendong makna tentang manifestasi dari harapan yang sedemikian rapuh.

Sebuah pohon yang tumbuh menyimbolkan sesuatu yang tengah hidup dan tumbuh dari dalam diri karakter “ia”. Akan tetapi, yang menjadi buahnya adalah burung-burung kertas. Sesuatu yang bisa terbang, hanya sayang begitu gampang rusak. Cuatan makna yang muncul dari sini, ada gagasan, ada karya, ada keinginan yang hendak menghempas lepas ke dunia nyata. Namun ada torehan atribut semu atau rapuh.

Selebihnya “jendela yang ternyata merupakan pintu menuju ke perut raksasa yang sedang tertidur” memperlihatkan makna tentang perasaan terperangkap (klaustrofobia). Jendela lazim menerima simbolisasi kebebasan atau jalan keluar.

Namun, arahnya membawa karakter “ia” masuk ke dalam perut raksasa. Ini deskripsi, tentang sejauh apa pun dirinya berupaya untuk mencoba terlepas dari belenggu masalah, pada gilirannya hanya akan masuk ke dalam masalah lain atau ketidaksadaran lain yang bahkan lebih kompleks.

Bila kita merangkai semua bagian narasi yang menggunakan penalaran surealis tersebut, maka khalayak audiens akan tiba pada kesimpulan bahwa teks prosa sebagaimana terkutip pada uraian terdahulu sama sekali tidak sedang menceritakan karakter “ia” yang bangun pagi.

Teks prosa tersebut tengah mengisahkan dengan gaya surealis, karakter “ia” yang tengah berada dalam kondisi jiwani terlibas dalam krisis identitas atau depresi. Karakter “ia” merasa terasing dari dinamika waktu kekinian. Sebaliknya, justru terjebak dalam panggilan kenangan masa silam. Dan, gigitan perasaan, apa pun usahanya untuk membebaskan diri, akan terbentur pada tembok kesia-siaan.

Fungsi Surealisme

Dari paparan contoh, sedikitnya dapat terengkuh kesimpulan, penulis prosa surealis sering menggunakan teknik otomatisasi (automation). Menulis apa saja yang terlintas dalam pikiran tanpa melakukan sensor rasional. Lalu, teknik penjajaran (juxtaposition) dua objek yang berlainan, tidak berhubungan, secara berdampingan guna menghadirkan makna baru.

Paham surealis hadir menyapa karya sastra genre prosa, untuk mengungkapkan kedalaman dan kekayaan alam bawah sadar manusia. Di samping itu, juga merupakan upaya penulis untuk menjelajahi isu-isu kemanusiaan lewat metafora yang fantastis. Prosa surealis mengajak khalayak audiens untuk melupakan logika cerita yang tertata secara realis. Akan tetapi, untuk merasakan emosi dan citraan bawah sadar dari sang penulis.

Prosa surealis berada di ruang yang kedap logika realis atau yang biasa terangkum dalam pernyataan “tidak masuk akal”. Khalayak audiens tidak perlu repot-repot mempertanyakan “mengapa peristiwa naratif yang tidak masuk akal itu terjadi”. Atau, tidak kelewat memusingkan urutan sebab - akibat yang logis. Sebab, cerita surealis itu absurd, fantastis, dan melanggar hukum fisika atau logika. Mirip alur mimpi.

Penulis surealis fokus pada emosi dan citraan bawah sadar. Tujuannya untuk mengeksplorasi pikiran terdalam, kehendak tersembunyi, dan rasa ketakutan yang tidak tersadari. Penulis mengharapkan khalayak audiens merasakan suasana dan ekspresi puitis serta emosi yang timbul dari rangkaian citraan yang terajut. Sama sekali bukan untuk memahami plot secara rasional.

Penulis prosa surealis menggabungkan kenyataan naratif dengan situasi kejadian yang hanya mungkin ada di alam impian untuk menciptakan pengalaman puitis yang irasional. Pendek kata, prosa surealis memuat pengalaman subjektif. Khalayak audiens membiarkan imajinasi mereka menyusuri alur absurd guna membacai dengan saksama pesan emosional yang tersirat.

Karakteristik lainnya dari teks prosa surealis, penulisnya memang sengaja menimbulkan suatu perasaan tidak nyaman, canggung, atau aneh dalam tangkapan resepsi khalayak audiens, dengan performa deskripsi atau suasana yang ganjil. Ada ketidaklogisan yang menyengaja kehadirannya. Ada upaya menampik gagasan konvensional tentang realitas. Ada strategi mencampur aduk dunia nyata, spiritual, dan fantasi.

Demikianlah surealisme. Ia hadir sebagai gerakan budaya, sastra, dan seni yang secara resmi memulai tarikh eksistensinya pada 1924 di Paris, Prancis. Tokoh kunci gerakan ini, seperti André Breton (Februari 1896 - 28 September 1966), menerbitkan Manifesto Surealisme (1924) untuk meneguhkan teknik bernarasi dengan pendekatan mimpi, halusinasi, dan imajinasi liar.

Gerakan surealisme ini merupakan reaksi terhadap kondisi sosial-politik dan kebudayaan pada masa itu. Mereaksi trauma Perang Dunia I (28 Juli 1914 - 11 November 1918) yang telah menghadiahkan efek kehancuran di berbagai bidang kehidupan. Banyak seniman kala itu yang beranggapan dan merasakan, betapa rasionalisme dan logika Barat telah gagal karena memicu perang dalam skala besar. Mereka pun mereaksinya dengan memasukkan unsur-unsur tidak logis dalam karya masing-masing.

Selain itu ada jamahan pengaruh dari pemikiran Psikoanalisis Sigmund Freud (6 Mei 1856 - 28 September 1939) mengenai alam bawah sadar (subconscious mind) dan mimpi. Para surealis meyakini, alam bawah sadar merupakan sumber kreativitas yang jujur, bebas, dan menjadi kendali moral atau rasional.

Di samping itu, surealisme menapakkan pemberadaannya sebagai revolusi pemikiran. Surealisme bertekad memerdekakan kreativitas dari pengekangan akal sehat, aturan sosial, dan norma konservatif. Ada pula yang menengarai adanya pengaruh Dadaisme yang lahir sebelumnya. Menentang konvensi seni tradisional dengan gaya aneh dan tidak logis.

Surealisme mulai masuk ke Indonesia di kisaran dekade 1960-an. Danarto (27 Juni 1941 - 10 April 2018) hadir dengan lukisan surealis “Si Hitam dan Si Putih” (1963) sebagai ungkapan kritik terselubung terhadap Pemerintah Orde Lama. Dari sosok yang sama terciptakanlah buku kumpulan cerita pendek Godlob (1975). Buku ini merupakan pelopor gaya surealis dalam karya sastra prosa Sastra Indonesia modern.

Godlob mengejutkan tradisi sastra realisme Indonesia yang umum pada saat itu. Karya prosa ni memainkan dunia magis, tasawuf, dan pewayangan yang bersifat surealistis. Mendamaikan harmoni perjalanan bersama unsur-unsur surealisme dengan mistisisme Jawa.

Sisi surealis yang memperkokoh eksistensi karya-karya Danarto, tidak sedikit di antaranya yang mengetengahkan kejadian naratif yang melampaui logika, seperti percakapan dengan benda mati atau situasi naratif yang mendeskripsikan perubahan wujud. Dan, memang Godlob mendapat pengakuan luas sebagai karya yang mengusung surealisme ke dalam kesadaran Sastra Indonesia Modern.

Buku antologi ini terdiri atas sembilan cerita pendek, yaitu “Godlob” (sekaligus judul antologi), “Rintrik”, “Armageddon”, “Abracadabra”, “Sandiwara Alas Sandiwara”, “Nostalgia”, “Labyrinth”, “Asmarandana”, dan “Compound of Conquest”. Sebelumnya pernah dimuat di Majalah Sastra Horison sejak 1968.

Kemudian diterbitkan pertama kali sebagai buku oleh Rombongan Penulis Jakarta (1975). Dua belas tahun kemudian oleh Pustaka Utama Grafiti atau Grafiti Pers (1987). Pada 2004, terbit dua kali, yaitu dari Penerbit Matahari (melanjutkan estafet dari Grafiti Pers seperti edisi cetakan lama setebal 224 halaman) dan Tikar Publishing (edisi alternatif). Serta, Penerbit Basabasi pada 2017 sebagai edisi populer setebal 252 halaman.

Cerpen “Godlob” mengetengahkan karakter utama Sang Ayah. Sinis dan terkena deraan konflik batin mendalam. Dia membunuh putranya di tengah medan perang sebagai bentuk “pengorbanan” atau paradoks keimanan. Sementara itu, karakter Sang Anak (Lelaki Muda) mempunyai sifat pasrah.

Karakter Sang Ibu menggenapi dinamika konflik keluarga di tengah suasana perang yang absurd. Adapun Para Pembesar, yaitu sekumpulan karakter antagonis yang menyaksikan atau memicu situasi tragis itu. Pun ada elemen latar yang begitu kuat dan seakan-akan “hidup”, seperti burung-burung gagak serta tumpukan mayat di medan perang. Ini mempertegas raut surealis mistik berikut timpukan keras absurditas.

Begitulah “Godlob”, cerita pendek yang mengembarakan narasi mengenai perjuangan batin mencari Tuhan. Kutipan ikonik dari karya ini: “Matahari sudah condong, bulat-bulat membara dan membakar padang gundul, yang berkaparan tubuh-tubuh yang gugur”. ***


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Siapkan Rp1 Triliun, Emiten RS Mitra Keluarga (MIKA) Gelar Buyback Saham
• 18 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Klasemen Liga Italia Hari Ini, Senin 9 Maret 2026: AC Milan Jaga Asa Scudetto usai Permalukkan Inter di Laga Derbi
• 20 jam lalutvonenews.com
thumb
6 Teknologi Invisible Wellness 2026, Bikin Masa Depan Rumah Sehat
• 12 jam lalumediaindonesia.com
thumb
25 Juta Penduduk Jabar Diprediksi Mudik 2026
• 3 jam lalurepublika.co.id
thumb
Raymond/Joaquin Bawa Pulang Rp343 juta dari All England 2026, Bagaimana dengan Pemain Indonesia Lainnya? Ini Daftar Hadiahnya
• 17 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.