Korban Investasi Bodong BLN Mengadu ke DPR, Sesakti Apa Nicholas Nyoto Prasetyo?

jpnn.com
2 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com - Korban dugaan investasi bodong Koperasi Bahana Lintas Nusantara (BLN) dari berbagai daerah mengadu ke Komisi III DPR RI dalam forum rapat dengar pendapat umum.

Para korban berasal dari berbagai latar belakang, mulai pensiunan guru hingga wanita lanjut usia (lansia).

BACA JUGA: Apa Maksud Panglima TNI Menginstruksikan Status Siaga 1?

Imelda yang berusia 84 tahun mengaku terbang ke Jakarta dari Bali demi menyuarakan keresahan sesama korban. Dia menyebut ada sekitar 1.587 korban Koperasi BLN di Bali.

"Dalam usia saya 84 tahun, dengan tertatih-tatih begini, saya datang dari Bali naik pesawat. Saya usahakan karena saya ingin bela saudara saya di Bali semua, Pak. Ya, jadi saya minta tolong, Pak, dengan hormat dan sangat,” tuturnya di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin.

BACA JUGA: Jimmy Lie, Buronan Korupsi PTSL di Tangerang Tertangkap di Medan

Menurut Imelda, dengan jumlah korban ribuan orang itu, total nilai aset yang sia-sia berkisar Rp1 triliun. Investasi yang awalnya dijanjikan untung 100 persen justru berujung buntung, menyebabkan nasabah resah.

“Mereka itu Pak, sangat sedih, karena Bapak tahu orang Bali kan selalu ikut upacara, upacara ini itu. Ternyata uang itu sudah tidak ada lagi untuk mereka. Apalagi sekarang mau menyambut Hari Raya Nyepi, Pak. Mereka sangat susah dan sangat sedih, Pak,” ucapnya.

BACA JUGA: Kritik Mahasiswa-Masyarakat Sipil kepada Prabowo-Gibran soal ART hingga BOP, Keras!

Imelda merasa ditipu oleh pihak koperasi, terutama oleh Nicholas Nyoto Prasetyo selaku pimpinan.

“Saya ndak tahu sakti apa yang dia punya, Pak. Kekebalan apa yang dia punya kok sampai kita ndak bisa menaklukkan orang satu ini. Saya sangat sedih sekali. Jadi, suara orang Bali, Pak, perlu didengar. Mereka sangat sedih ibaratnya terpuruk. Mereka banyak sekali upacara-upacara membutuhkan biaya, sementara biaya tidak ada turun, diambil alih oleh Nicho,” tuturnya.

Sementara itu, pensiunan guru dari Surakarta, Jawa Tengah, Sunarsih, juga mengalami hal yang sama. Ia bercerita dirinya dirayu oleh pihak koperasi untuk berinvestasi.

“Saya korban BLN. Saya guru 41 tahun masa kerja, menikmati pensiun di Solo baru 4 tahun. Dirayu sama leader BLN ini sebenarnya saya nggak mau, tapi didatangi terus, mungkin kayak hipnoterapi gitu,” katanya.

Sunarsih mengaku tidak ingin bergabung pada mulanya, tetapi terus didatangi hingga akhirnya dia menyerahkan sebagian uang pensiunnya. Ia baru merasakan kejanggalan setelah dua bulan kemudian tidak mendapatkan uang yang dijanjikan.

“Jadi saya mulai masuk itu Februari. Terus Maret, April saya belum ngeh banget. Akhirnya setelah saya sadar, Mei. Itu tahun 2025. Nanti sampai tahun 2039 aku enggak dapat pensiun,” ucapnya.

Dia lantas melapor ke polisi. Namun, hingga kini laporan belum ditindaklanjuti.

Dalam rapat tersebut, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jateng Kombes Pol. Djoko Julianto menjelaskan Koperasi BLN diduga melakukan aktivitas penghimpunan dana dari masyarakat tanpa izin Otoritas Jasa Keuangan (OJK) RI.

Pada 4 Maret 2026, Polda Jateng telah menetapkan satu orang tersangka, yakni Kepala Cabang Koperasi BLN Salatiga Dalyati (D). Keesokan harinya, kepolisian menggeledah kantor administrasi BLN Salatiga serta rumah tersangka D dan pengurus lainnya.

Menurut Djoko, hingga saat ini, Polda Jateng masih melakukan penyelidikan terhadap Nicholas Nyoto Prasetyo yang saat itu menjabat Ketua Koperasi BLN serta pengurus lainnya. Bersamaan dengan itu, polisi menyelidiki dugaan tindak pidana pencucian uang.

Di sisi lain, Komisi III, dalam kesimpulan rapat, meminta kepolisian untuk segera menahan Nicholas Nyoto Prasetyo dan seluruh tersangka lainnya serta segera melakukan pemblokiran rekening atas nama koperasi maupun para tersangka lainnya untuk mencegah terjadinya upaya penghilangan aset dan barang bukti.

Selain itu, Komisi III juga meminta Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dirtipideksus) Bareskrim Polri untuk mengoptimalkan posko pengaduan nasabah Koperasi BLN.(ant/jpnn)


Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pelajar SMA asal Nias Yemisa Zebua curhat ke Prabowo ingin jadi dokter
• 7 jam laluantaranews.com
thumb
Update Longsor di Bantargebang, Satu Korban Lagi yang Tertimbun Sampah Ditemukan
• 10 jam laludisway.id
thumb
Prabowo Resmikan 218 Jembatan di Wilayah Terdampak Bencana Sumatera 
• 9 jam lalueranasional.com
thumb
Sidak ke Pasar Tanah Abang, Menkeu Purbaya Tegaskan Ekonomi Masih Berjalan dan Jauh dari Krisis
• 11 jam lalukompas.tv
thumb
Anggaran Triliunan Tapi Kalah dari Banyumas, Anggota DPRD Kritik Tata Kelola Sampah Jakarta
• 8 jam lalusuara.com
Berhasil disimpan.