Akal imitasi atau AI pada layanan keuangan berbasis teknologi digital bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan telah menjadi detak jantung yang menggerakkan bisnis. Bagi financial technology, AI dapat berfungsi untuk mendeteksi ancaman deepfake hingga mengembangkan asisten virtual.
Salah satu penyedia teknologi keuangan (fintech) yang memanfaatkan AI dalam operasionalnya adalah PT Akulaku Finance Indonesia (AFI). Perusahaan yang fokus pada layanan pembiayaan buy now pay later (BNPL) ini turut mengembangkan AI untuk mendeteksi adanya deepfake.
Deepfake adalah manipulasi gambar, suara, hingga video dengan menggunakan AI untuk tujuan tertentu. Dalam industri jasa keuangan, pelaku kerap menipu korbannya dengan memanipulasi suara bahkan gambar orang yang dekat dengan korban. Pelaku biasanya meminta korban mengirim uang.
Edy Salim, Direktur Teknologi Informasi AFI, mengatakan, deepfake menjadi ancaman bagi industri keuangan digital, termasuk di AFI. ”Secara jumlah saya tidak mention (menyebutkan), tetapi kemungkinan (deepfake) itu pasti ada,” ujarnya di sela-sela temu media di Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Itu sebabnya, pihaknya mengembangkan deepfake AI verification, alat pendeteksi manipulasi gambar, suara, dan video. Teknologi ini dapat mendeteksi adanya manipulasi gambar wajah yang digunakan pelaku. Dengan begitu, potensi kejahatan siber atau penipuan dapat diantisipasi.
Edy mengakui, investasi untuk mengembangkan alat deteksi deepfake di platform AFI tidaklah sedikit. ”Enggak ada pilihan (untuk tidak investasi di sektor ini). Biayanya memang besar, tetapi kalau enggak diimplementasikan, risikonya lebih besar lagi,” ujar Edy yang tak menyebut jumlahnya.
Menurut dia, penggunaan alat deteksi deepfake mulai marak di perusahaan teknologi keuangan dan perbankan. Apalagi, menurut VIDA, penyelenggara sertifikasi elektronik yang menyediakan layanan autentikasi digital, kasus penipuan melalui deepfake terus melonjak di kawasan Asia Pasifik.
Menurut VIDA Fraud Intelligence Report 2025, kasus deepfake fraud di kawasan ini melonjak hingga 1.550 persen. Bahkan, sekitar 97 persen bisnis di Indonesia menjadi target social engineering atau manipulasi psikologis yang mengeksploitasi kelengahan manusia.
Sepanjang 2022–2024, menurut laporan itu, kerugian sektor perbankan akibat penipuan digital di Indonesia, termasuk deepfake, mencapai lebih dari Rp 2,5 triliun, sebagian besar karena lemahnya otentikasi konvensional seperti SMS OTP dan kata sandi.
Itu sebabnya, kata Edy, AFI fokus pada peningkatan sistem keamanan dengan memanfaatkan AI untuk mengantisipasi deepfake. ”Industri ini punya risiko (ancaman penipuan). Kami yang ada di industri ini harus memitigasi risiko ini,” ujarnya.
Selain mendeteksi manipulasi gambar, suara, hingga video, pihaknya juga memanfaatkan AI untuk membuat skor kredit. Teknologi yang menilai kelayakan kredit ini sudah umum di industri keuangan. Apalagi, jika perusahaan teknologi keuangan menangani jutaan transaksi.
”Akulaku Finance memang lahir di era digital. Enggak ada pilihan, kita mesti pakai AI dengan data yang sangat besar. Setahun, kan, ada 40-an juta lebih transaksi. Kalau kita pakai pendekatan statistik saja, itu tidak cukup. Kita mesti pakai AI,” ungkap Edy.
Sepanjang 2025, AFI mencatatkan pembiayaan baru senilai Rp 7,44 triliun (data sebelum audit) dengan realisasi penyaluran pembiayaan meningkat 23 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sekitar 89 persen dari keseluruhan portofolio itu merupakan BNPL.
Presiden Direktur AFI Perry Barman Slangor mengatakan, dengan credit scoring, pihaknya mampu menganalisa lebih dalam terkait perilaku belanja pengguna. Dengan begitu, pihaknya dapat memberikan limit kredit sesuai profil risiko pengguna yang telah ditetapkan.
”Teknologi merupakan hal yang sangat penting, bahkan merupakan detak jantung bagi perusahaan fintech, seperti Akulaku Finance,” ungkap Perry. Dengan perpaduan teknologi AI yang andal, cepat, dan ekosistem yang aman, katanya, AFI dapat tetap tumbuh secara sehat dan berkelanjutan.
Intinya kami harus adaptif menghadapi perkembangan ini, termasuk dengan teknologi.
Perry mengatakan, salah satu manfaat penggunaan AI pada skor kredit adalah terjaganya performa pembiayaan bermasalah (NPF). Tahun lalu, misalnya, NPF tetap di level 1,1 persen. ”Dari tahun ke tahun, NPF kami tidak jauh beda. Ini menunjukkan bahwa AI kita cukup andal dan angkanya berkisar 1,1-1,2 persen,” ungkapnya.
Pihaknya optimistis dengan adopsi AI, kolaborasi dengan lebih 16 perbankan, hingga ekspansi ke daerah luar Jawa, bisnis AFI tetap tumbuh. Apalagi, tahun ini, pihaknya menargetkan pembiayaan baru mencapai Rp 8,2 triliun. ”Intinya kami harus adaptif menghadapi perkembangan ini, termasuk dengan teknologi,” ujarnya.
Perusahaan fintech lainnya yang mengadopsi AI adalah DANA Indonesia. Sejak 2024, platform digital dengan lebih dari 200 juta pengguna ini menjalin kolaborasi dengan Microsoft untuk mengintegrasikan AI ke dalam operasional bisnis hingga pengembangan produknya.
”Di tengah percepatan transformasi digital, AI menjadi katalis penting untuk menghadirkan layanan keuangan yang lebih relevan, adaptif, dan aman,” ujar Ignatia Suwarna, Vice President of Engineering DANA, melalui keterangan tertulis, Jumat (6/3/2026).
Salah satu pemanfaatan AI di DANA adalah penggunaan GitHub Copilot sebagai coding assistant. Solusi ini membantu mempercepat proses pengembangan aplikasi sekaligus meningkatkan kualitas kode secara signifikan, dengan tingkat penerimaan 23-30 persen di berbagai platform.
Transformasi AI pada DANA juga berlanjut dengan pengembangan asisten virtual atau chatbot Diana, yang didukung oleh Azure OpenAI. Layanan ini menggunakan agen AI yang dapat berdialog sesuai konteks pembahasan hingga memberikan analisis dalam pengembangan layanan.
Agen AI diklaim meningkatkan produktivitas operasional 57 persen, kepuasan pelanggan (13 persen), dan mempercepat waktu layanan (10 persen). ”Penerapan AI bukan sekadar adopsi teknologi baru, melainkan upaya menciptakan dampak nyata bagi pengguna, meningkatkan efisiensi operasional, serta memperkuat kepercayaan dalam ekosistem digital,” ujar Ignatia.
Tidak hanya DANA Indonesia dan Akulaku Finance, berbagai perusahaan tekfin juga telah mengadopsi AI. Laporan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) bersama AC Ventures dan Boston Consulting Group terkait AI untuk layanan keuangan yang diterbitkan pertengahan 2024 merekam hal itu.
Laporan itu mencatat, sekitar 49 persen dari 41 pemimpin bisnis di sektor keuangan Indonesia, termasuk tekfin, yang disurvei memprioritaskan penggunaan AI generatif (Gen AI) untuk meningkatkan layanan pelanggan. Sebanyak 34 persen di antaranya mengaku telah melihat manfaat dari adopsi Gen AI, yang dapat membuat teks, gambar, hingga kode pemrograman.
Beberapa manfaat yang telah dirasakan dari penerapan Gen AI adalah peningkatan layanan pelanggan hingga 24 jam sehari (34 persen) dan interaksi dengan pelanggan (22 persen). Gen AI juga mendeteksi ancaman penipuan (7 persen) hingga memudahkan pemberian pinjaman (5 persen).
Meski demikian, laporan ini juga mencatat tantangan adopsi Gen AI di industri keuangan, termasuk fintech. Tantangan itu, seperti munculnya halusinasi dan bias dalam Gen AI hingga minimnya kesiapan perusahaan. Kesiapan itu berupa infrastruktur, seperti pusat data lokal serta kemampuan sumber daya manusia.
Tantangan lainnya adalah ancaman serangan siber. X-Force Threat Intelligence Index 2026, laporan terkait serangan siber yang diterbitkan perusahaan teknologi IBM, mencatat, industri keuangan dan asuransi menjadi sektor kedua paling banyak terdampak serangan siber, yakni 27 persen dari semua insiden tahun 2025.
Serangan terhadap industri keuangan bertujuan meraup keuntungan finansial. Angka itu hanya terpaut tipis dibandingkan sektor manufaktur yang paling banyak menjadi target serangan siber, yakni 27,7 persen dari total insiden. Penyebaran malware ke sistem perusahaan yang menjadi target juga kerap terjadi, yakni mencapai 55 persen.
Secara terpisah, Kitman Cheung, Chief Technology Officer (CTO) IBM ASEAN, mengatakan, Asia Pasifik menjadi kawasan dengan serangan siber terbesar kedua setelah Amerika Utara. ”Dari sejumlah statistik, Indonesia adalah salah satu negara yang paling banyak diserang di kawasan. Pertahanan siber menjadi kunci mengantisipasi serangan,” ujarnya.
Di tengah perkembangan pesat teknologi digital, adopsi AI di perusahaan tekfin semakin masif. AI meningkatkan keamanan hingga membantu operasional perusahaan. Meski masih menghadapi tantangan dalam penerapannya, AI telah menjadi detak jantung tekfin.





