JAKARTA, KOMPAS.com - Lorong-lorong di Pasar Ular, Plumpang, Koja, Jakarta Utara, yang dahulu selalu dipadati pembeli, kini terasa lengang.
Bahkan, beberapa kios justru sudah tertutup rapat karena telah ditutup permanen oleh pemiliknya.
Di sejumlah lorong, hanya tersisa etalase dan gantungan baju yang sudah berdebu, entah siapa pemiliknya. Perlengkapan berdagang tersebut ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya yang sudah enggan kembali berjualan di Pasar Ular.
Baca juga: Ada Aktivitas Pengelolaan Terorganisir di Gunungan Sampah 5,8 Hektare Cilincing
Padahal, pada era 1990-an hingga awal 2000-an, pasar ini pernah menjadi tempat belanja favorit bagi berbagai kalangan, mulai dari masyarakat umum hingga artis papan atas.
Hampir setiap hari, para pembeli datang berbondong-bondong untuk berburu berbagai pakaian dan barang bermerek yang dijual dengan harga miring.
Namun, kemunculan toko online dan Pandemi Covid-19 justru perlahan menghancurkan masa kejayaan Pasar Ular.
"Karena kan kalau beli online penawarannya manis, gratis ongkir, belinya enggak harus ke sini, enggak kehujanan," tutur salah satu pedagang pakaian, Ajis Subeni (55), ketika diwawancarai Kompas.com di Pasar Ular, Jumat (9/3/2026).
Selain itu, pandemi Covid-19 juga menjadi penyebab banyaknya toko di Pasar Ular tutup permanen.
Ketika pandemi melanda pada 2020, aktivitas di Pasar Ular benar-benar dibatasi sehingga para pedagang tidak bisa berjualan seperti biasa.
Padahal, sekitar tahun 1995, saat Pasar Ular berada di puncak kejayaannya, omzet Ajis bisa mencapai Rp 10 juta hingga Rp 20 juta per hari.
Kini, ia justru kerap pulang ke rumah tanpa membawa penghasilan. Meski begitu, ia memutuskan untuk bertahan karena sudah memiliki kios sendiri, sehingga tidak harus membayar sewa.
Baca juga: Wanita di Depok Ditemukan Tinggal Tulang, Sempat Usir Suami Siri Empat Bulan Lalu
Kepraktisan dan efisiensi
Pakar ekonomi M Rizal Taufikurahman menilai, semakin ditinggalkannya Pasar Ular oleh pembeli terjadi karena adanya perubahan dinamika permintaan dalam sektor perdagangan ritel tradisional.
KOMPAS.com/ SHINTA DWI AYU Kondisi Pasar Ular di Plumpang, Jakarta Utara, yang semakin sepi pembeli. Jumat, (6/3/2026).
Aktivitas fisik di pasar sangat dipengaruhi oleh daya beli masyarakat, aksesibilitas, serta preferensi konsumen.
Ketika daya beli masyarakat menurun atau relatif stagnan akibat kondisi ekonomi yang kurang baik, masyarakat cenderung menjadi lebih rasional dalam berbelanja, termasuk saat bertransaksi di pasar.