FAJAR, MAKASSAR — Ramadan menjadi momentum bagi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar untuk memperkuat nilai kebersamaan.
Ini sekaligus meneguhkan komitmen terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Salah satunya melalui kegiatan silaturahmi dan buka puasa bersama yang digelar di Balai Sidang Unismuh Makassar, Jl Sultan Alauddin, Senin, 9 Maret.
Kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda tahunan Ramadan. Lebih dari itu, forum tersebut dimanfaatkan sebagai ruang mempertemukan berbagai generasi yang pernah terlibat dalam perjalanan panjang kampus, sekaligus memperkuat hubungan antara civitas akademika dengan para tokoh Muhammadiyah yang menjadi bagian dari sejarah perkembangan Unismuh.
Rektor Unismuh Makassar, Dr Rakhim Nanda, menjelaskan bahwa kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya kampus dalam menginternalisasi nilai-nilai SDGs dalam aktivitas sosial dan akademik.
“Ramadan merupakan waktu yang tepat untuk memperkuat kepedulian sosial dan solidaritas antarsesama. Apalagi para sesepuh yang pernah mengabdikan diri di Unismuh,” tuturnya.
Ia menyebutkan, kegiatan tersebut sejalan dengan agenda global SDG 1 (Tanpa Kemiskinan) dan SDG 2 (Tanpa Kelaparan). Melalui kegiatan berbagi dan kebersamaan dengan anak-anak panti asuhan, kampus berupaya menanamkan kepedulian terhadap kelompok masyarakat yang membutuhkan.
“Kami tidak hanya menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial untuk mendorong pemerataan kepedulian dan solidaritas,” tuturnya.
Forum silaturahmi yang menghadirkan para sesepuh Muhammadiyah dan Unismuh juga dinilai penting dalam memperkuat jejaring kebersamaan di lingkungan persyarikatan.
Nilai kemitraan yang terbangun dari hubungan lintas generasi tersebut sejalan dengan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).
Penanggung jawab kegiatan sekaligus Wakil Rektor II Unismuh Makassar, Dr Ihyani Malik, mengatakan silaturahmi ini dirancang untuk menjaga hubungan emosional antara kampus dengan para tokoh yang pernah berperan dalam perjalanan institusi.
Menurutnya, seluruh elemen kampus diundang dalam kegiatan tersebut, mulai dari pimpinan universitas, dosen, hingga tenaga kependidikan. Kehadiran mereka menjadi simbol kebersamaan dalam satu keluarga besar Unismuh.
“Kami mengundang para mantan pimpinan universitas yang pernah menjabat pada masanya. Mulai dari mantan rektor, wakil rektor, dekan, hingga pimpinan Badan Pembina Harian (BPH) di periode sebelumnya,” tuturnya.
Para tokoh Muhammadiyah yang pernah menjabat sebagai pimpinan wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan juga turut diundang. Bahkan, jika ada di antara mereka yang telah wafat, keluarga mereka tetap diundang sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa yang pernah diberikan.
“Tujuannya agar komunikasi dan silaturahmi antara Universitas Muhammadiyah Makassar dengan para tokoh yang pernah berjasa tetap terjaga,” kata Ihyani Malik.
Selain para tokoh Muhammadiyah, kegiatan ini juga menghadirkan anak-anak dari 11 panti asuhan milik Muhammadiyah yang berada di Makassar dan Gowa. Kehadiran mereka menjadi bagian penting dari semangat berbagi yang diusung dalam kegiatan tersebut.
Menurut Ihyani, kegiatan seperti ini memang tidak secara langsung menyelesaikan persoalan kemiskinan atau ketimpangan sosial. Namun, upaya kecil dalam bentuk kepedulian dan berbagi tetap memiliki nilai penting dalam membangun kesadaran kolektif.
“Kami manfaatkan momentum Ramadan dimanfaatkan sebagai ruang mempertemukan kembali semua pihak yang pernah menjadi bagian dari perjalanan kampus,” ucapnya. (wis)





