Hampir dua bulan, ketersediaan elpiji nonsubsidi di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, langka. Warga tercekik.
Sebelumnya, warga cukup mengeluarkan Rp 250.000 untuk isi ulang tabung gas ukuran 12 kilogram. Kini, warga harus menyisihkan uang lebih banyak. Harganya meroket hampir Rp 400.000 untuk tabung gas berukuran serupa di tingkat pengecer.
Selasa (10/3/2026) pagi, kabar sekelompok orang bergerak terorganisir memborong elpiji dalam jumlah banyak, semakin ramai dibicarakan di Kota Kupang. Para pelakunya disebut datang ke agen penyalur atau supermarket penjual gas nonsubsidi itu.
Tidak hanya isi ulang, mereka bahkan memborong tabung elpijinya sekaligus. Orang tidak dikenal itu berani membayar lebih mahal.
Akibat penawaran menggiurkan itu, sejumlah aturan rawan dilanggar. Agen resmi, misalnya, menetapkan tarif isu ulang lebih tinggi ketimbang harga standar Pertamina. Adapun harga standarnya Rp 250.000 per 12 kilogram.
"Kami baru kasih turun gas, dalam hitungan menit saja langsung habis. Mereka beli langsung dengan tabung. Di sini, isi ulang 12 kg harganya Rp 341.000," kata petugas sekuriti salah satu supermarket di Jalan Amabi, Kota Kupang.
Siapa sebenarnya orang yang berani membayar lebih mahal itu? Kabarnya masih kabur. Petugas keamanan itu, misalnya, mengaku tidak tahu.
Yang jelas, orang-orang ini bergerak begitu cepat di lapangan. Gas yang diborong langsung dimasukan ke dalam mobil. Jejaknya mereka belum terendus.
Penelusuran berikutnya dilakukan ke salah satu agen di kawasan Oepura. Agen itu juga terdaftar di Pertamina. Didatangi pada Senin (9/3/2026) petang, gudang penyimpanan tabung kosong. Hanya truk peti kemas yang terparkir di situ.
Seorang petugas menuturkan, dalam hitungan singkat, ratusan tabung gas di situ ludes. Padahal, mereka mematok harga jual Rp 300.000 untuk isi ulang ukuran 12 kg. Mereka pun tidak mengetahui secara pasti, siapa yang memborong tabung gas.
Warga pun curiga, ada pihak yang menyelewengkannya secara terorganisir. "Pasti ada mafia yang bermain. Bayangankan, barangnya baru tiba dan langsung ludes. Aparat kita dimana? Harusnya ini sudah menjadi atensi mereka," kata Lucky (40), warga.
Lucky menduga oknum yang terlibat dalam rantai distribusi menjadi bagian dari mafia itu. Tujuan, mencari keuntungan di tengah kelangkaan gas di Kota Kupang dan sekitarnya. Terlebih saat ini warga, khususnya umat Islam, sedang menyiapkan perayaan Idul Fitri.
Lucky mengaku sudah lebih dari sebulan tidak mendapatkan gas elpiji. Ia kembali menggunakan kompor minyak tanah untuk kebutuhan masak di rumah. Praktik itu membuatnya semakin pesimis akan mendapatkan gas dengan harga terjangkau.
Langka di agen, harga di pengecer pun naik ugal-ugalan. Pengecer di Jalan Fetor Foenay mematok harga isi ulang Rp 390.000-Rp 400.000 per tabung 12 kg. Harganya naik nyaris dua kali lipat ketimbang sebelumnya, Rp 250.000 per tabung 12 kg.
Karyawan toko tidak menjelaskan darimana datangnya gas tersebut. Apakah dibeli dari agen Pertamina atau dari pihak lain?
"Itu urusan bos (pemilik toko). Kami hanya jual saja," kata salah satu karyawannya.
Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah NTT Komisaris Besar Henry Novika Chandra mengatakan, pihaknya masih menyelidiki keterkaitan antara ulah pemborong, kenaikan harga di tingkat pengecer dan minimnya ketersediaan elpiji.
Polisi sudah mendatangi beberapa agen penyalur dan meminta keterangan dari pemilik. Terkait adanya gerakan terorganisir yang memborong gas, polisi sedang melakukan pendalaman.
"Kami masih selidiki," ucap dia.
Henry menekankan lebih kurang 1.500 tabung elpiji dari Surabaya telah tiba di Pelabuhan Tenau Kupang pada Minggu (8/3). Selanjutnya, elpiji didistribusikan ke agen dan pengecer.
“Kami berkoordinasi intensif dengan pihak distributor serta otoritas pelabuhan untuk memastikan proses bongkar muat berjalan lancar sehingga distribusi ke masyarakat dapat segera normal,” kata Henry.
Saat penyelidikan polisi masih dilakukan, ia mengimbau masyarakat agar tidak panik. Masyarakat diajak tetap tenang menghadapi situasi ini. Menjaga ketertiban distribusi merupakan tanggung jawab bersama agar situasi tetap kondusif.
Terkait gas yang ludes dalam waktu singkat serta harga yang melebihi ambang batas, Pertamina belum memberi keterangan resmi.
Sebelumnya, Ahad Rahedi, Area Manager Communication, Relations, dan CSR Jatimbalinus Pertamina Patra Niaga mengatakan, sejak akhir Februari, penyaluran terkendala. Ini disebabkan kedatangan kapal dan antrian sandar dan muat kontainer di Pelabuhan Surabaya sebagai supply point.
Ia menyampaikan, proses percepatan telah dilaksanakan. Sabtu (7/3), dua peti kemas dari Surabaya telah tiba di Kota Kupang dan menunggu antrian pembongkaran di Pelabuhan Tenau pada Minggu ini.
Dua peti kemas itu membawa muatan 1.381 tabung. Terdiri atas, 868 tabung 12 kg, 60 tabung 50 kg, dan 453 tabung ukuran 5,5 kg. Tabung itu akan langsung didistribusikan segera setelah kargo dibongkar.
Menurutnya, kebutuhan harian gas di Kota Kupang, untuk ukuran 5.5 kilogram sebanyak 46 tabung, 12 kilogram sebanyak 199 tabung, dan 50 kilogram sebanyak 12 tabung.
"Suplai selanjutnya, masyarakat Kota Kupang juga akan menerima tambahan 1.125 tabung LPG yang akan dibagi dalam dua kontainer," kata Ahad.
Bila diklaim cukup tapi warga Kota Kupang masih sulit mendapatkannya, besar kemungkinan ada kebocoran penyaluran elpiji yang belum berhasil ditambal. Siapa pelakunya? aparat harus mengungkapnya.




