EtIndonesia. Analisis The Washington Post terhadap data pelacakan kapal, citra satelit, serta catatan Departemen Keuangan AS menyebutkan dua kapal Iran yang diduga membawa bahan kimia penting untuk bahan bakar rudal, yaitu natrium perklorat (sodium perchlorate). Kapal ini telah meninggalkan pelabuhan kimia di Tiongkok dan berlayar menuju Iran.
Dua kapal tersebut bernama “Shabdis” dan “Barzin”, yang dimiliki oleh perusahaan milik negara Iran, Islamic Republic of Iran Shipping Lines (IRISL). Perusahaan ini oleh AS disebut sebagai “perusahaan pelayaran pilihan bagi para penyebar dan agen pengadaan Iran”, dan telah dikenai sanksi oleh Amerika Serikat, Inggris, serta Uni Eropa.
Kedua kapal itu sebelumnya berlabuh di Pelabuhan Gaolan (Gaolan Port) di kota Zhuhai, wilayah pesisir tenggara Tiongkok. Pelabuhan tersebut memiliki fasilitas pemuatan bahan kimia cair terbesar di Tiongkok selatan, termasuk natrium perklorat, yaitu bahan pendahulu penting bagi bahan bakar roket padat yang dibutuhkan dalam program rudal Iran.
Menurut laporan The Washington Post, kapal “Barzin” juga dikenal oleh para pakar dan media sebagai kapal yang sering digunakan untuk mengangkut natrium perklorat.
Sejak awal tahun ini, lebih dari selusin kapal milik IRISL telah mengunjungi pelabuhan tersebut. Para ahli menekankan bahwa di tengah seruan pemerintah Tiongkok agar “semua pihak menahan diri” dalam konflik di Timur Tengah, mengizinkan kapal yang membawa material terkait senjata menuju Iran memiliki makna simbolis yang jelas.
Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi pada Minggu (8/3) mengatakan kepada wartawan bahwa posisi Tiongkok dalam perang di Timur Tengah adalah “objektif dan adil”, serta menegaskan bahwa prinsipnya adalah “mendorong gencatan senjata dan mengakhiri permusuhan”.
Peneliti senior di Carnegie Endowment for International Peace, Isaac Kardon, mengatakan: “Tiongkok sebenarnya bisa saja menahan kapal-kapal tersebut di pelabuhan dengan berbagai cara—misalnya menunda secara administratif, membuat alasan penahanan bea cukai, atau langkah birokrasi lainnya. Tetapi mereka tidak melakukannya. Ini adalah pilihan kebijakan yang disengaja.”
Mantan pejabat Kementerian Keuangan AS, Miad Maleki, juga menilai kapal-kapal tersebut membawa natrium perklorat. Ia menambahkan bahwa Pelabuhan Gaolan memiliki terminal penyimpanan bahan kimia cair terbesar di Tiongkok selatan.
Selama bertahun-tahun, Amerika Serikat menuduh pemerintah Tiongkok membantu Iran dengan teknologi dan bahan terkait rudal. Namun, natrium perklorat bukanlah zat yang dikontrol oleh Missile Technology Control Regime (MTCR), dan Perserikatan Bangsa-Bangsa juga tidak secara eksplisit melarang ekspor bahan tersebut ke Iran. Karena itu, pihak Tiongkok menyatakan bahwa tuduhan Amerika Serikat telah melebih-lebihkan isu penggunaan ganda antara militer dan perdagangan sipil.
Meski demikian, natrium perklorat dapat digunakan untuk memproduksi amonium perklorat, yang merupakan bahan yang diawasi oleh MTCR dan dilarang untuk diekspor ke Iran.
Pada April 2025, Amerika Serikat telah menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah perusahaan Tiongkok yang dituduh mentransfer natrium perklorat ke Iran, termasuk Shenzhen Amos Logistics dan China Chlorate Tech Co., Ltd.
Pada September 2025, AS juga menjatuhkan sanksi terhadap sebuah jaringan pengadaan lintas negara yang disebut telah membeli dan mengirim ratusan ton bahan baku propelan rudal dari Tiongkok sejak 2023.
Sumber : NTDTV.com





