Bisnis.com, JAKARTA - Harga perak yang diproduksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengalami perubahan cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir. Pergerakan ini terjadi di tengah dinamika pasar global yang dipengaruhi oleh pergerakan dolar Amerika Serikat dan ekspektasi kebijakan suku bunga.
Pada Senin, 9 Maret 2026, harga perak tercatat mengalami penurunan dari Rp53.100 menjadi Rp51.100 per gram. Penurunan tersebut menunjukkan adanya tekanan pada harga logam mulia ini di pasar. Namun berdasarkan pembaruan terbaru pada Selasa, 10 Maret 2026 melalui laman resmi Logam Mulia, harga perak Antam kembali mengalami penyesuaian.
Update Harga Perak Antam 10 Maret 2026Pada laman resmi Logam Mulia, produk perak Antam tersedia dalam beberapa ukuran gramasi, yaitu 250 gram, 500 gram, serta perak butiran murni dengan kadar 99,95 persen. Sebelum pembaruan harga hari ini, perak Antam dibanderol sekitar Rp13.300.000 untuk ukuran 250 gram dan Rp25.675.000 untuk ukuran 500 gram.
Setelah pembaruan pada 10 Maret 2026, harga perak mengalami kenaikan sebagai berikut:
- Perak 250 gram: Rp14.075.000
- Perak 250 gram + PPN: Rp15.623.000
- Perak 500 gram: Rp27.350.000
- Perak 500 gram + PPN: Rp30.358.500
Perubahan harga ini menunjukkan bahwa pasar perak masih mengalami fluktuasi yang cukup dinamis dalam waktu singkat.
Faktor yang Mempengaruhi Pergerakan Harga PerakPergerakan harga perak tidak terlepas dari kondisi ekonomi global. Salah satu faktor yang memengaruhi perubahan harga adalah melemahnya dolar Amerika Serikat. Selain itu, memudarnya ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) juga menjadi faktor yang memengaruhi pasar logam mulia. Kondisi tersebut sempat mengalahkan permintaan aset aman yang muncul akibat ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga
- Harga Perak Terus Meroket
- Ramalan Terbaru Harga Emas, Perak dan Wanti-wanti untuk Investor Ritel
- Tips Investasi, Mana Lebih Untung Emas atau Perak?
Situasi ini membuat harga logam mulia seperti perak dan emas bergerak fluktuatif karena investor menyesuaikan strategi investasinya terhadap perkembangan ekonomi global.
Lebih Baik Membeli Emas atau Perak Saat Ini?Ketika harga emas dan perak sama-sama melemah atau bergerak fluktuatif, sebagian investor justru melihatnya sebagai peluang untuk masuk ke pasar. Namun sebelum memutuskan berinvestasi, penting untuk memahami perbedaan mendasar antara kedua logam mulia tersebut.
Berikut beberapa perbandingan antara investasi emas dan perak yang dapat menjadi pertimbangan.
1. Stabilitas Harga dan RisikoEmas dikenal memiliki pergerakan harga yang relatif lebih stabil. Fluktuasinya tidak terlalu tajam, baik saat harga naik maupun turun. Karena karakteristik tersebut, emas sering dipilih oleh investor konservatif sebagai aset lindung nilai, terutama ketika inflasi meningkat atau kondisi ekonomi global tidak menentu.
Sebaliknya, perak memiliki volatilitas yang lebih tinggi. Pergerakan harganya dapat naik atau turun secara signifikan dalam waktu singkat. Dalam beberapa periode, volatilitas perak bahkan bisa dua hingga tiga kali lebih besar dibandingkan emas. Hal ini membuat perak berpotensi memberikan keuntungan lebih besar, tetapi juga disertai risiko yang lebih tinggi.
2. Pengaruh Kondisi Ekonomi GlobalPerbedaan penting lainnya terletak pada sumber permintaan kedua logam tersebut. Permintaan emas sebagian besar berasal dari sektor investasi dan penyimpanan nilai. Karena itu, pergerakan harga emas lebih dipengaruhi oleh sentimen pasar, inflasi, suku bunga, serta kondisi geopolitik.
Sementara itu, lebih dari setengah permintaan perak berasal dari sektor industri, seperti elektronik, kendaraan listrik, hingga panel surya. Artinya, harga perak sangat sensitif terhadap perkembangan ekonomi global. Ketika industri berkembang dan ekonomi tumbuh, permintaan perak biasanya meningkat. Namun ketika ekonomi melambat, permintaannya dapat turun cukup signifikan.
3. Fungsi sebagai Pelindung InflasiEmas sering disebut sebagai safe haven asset, yaitu aset yang menjadi tujuan investor ketika kondisi ekonomi tidak stabil. Dalam jangka panjang, emas dinilai mampu menjaga daya beli karena nilainya cenderung bertahan saat inflasi meningkat.
Perak juga memiliki korelasi dengan inflasi, tetapi tidak sekuat emas. Karena sebagian besar permintaannya berasal dari sektor industri, kinerja perak sebagai pelindung inflasi tidak selalu konsisten.
4. Harga dan AksesibilitasDari sisi harga, perak jauh lebih terjangkau dibandingkan emas. Nilai per ons yang lebih rendah membuat perak lebih mudah diakses oleh investor ritel dengan modal terbatas. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa perak sering dilirik oleh investor pemula yang ingin mencoba investasi logam mulia.
Sebaliknya, emas memiliki harga per unit yang lebih tinggi, tetapi lebih efisien untuk menyimpan nilai dalam jumlah besar karena tidak membutuhkan volume fisik yang terlalu banyak.
5. Likuiditas dan Kemudahan Jual-BeliEmas memiliki likuiditas yang lebih tinggi dibandingkan perak. Pasarnya sangat luas dan aktif sehingga selisih antara harga beli dan harga jual relatif kecil. Emas juga mudah dijual kembali kapan saja.
Perak memiliki likuiditas yang lebih terbatas. Permintaannya tidak setinggi emas, sehingga harga jual perak bisa mengalami penurunan lebih tajam ketika minat pasar melemah.
6. Kinerja Investasi Jangka PanjangDalam jangka panjang, emas cenderung memberikan kinerja yang lebih stabil dengan rata-rata imbal hasil historis sekitar 4–5 persen per tahun. Sementara itu, perak memiliki volatilitas yang lebih tinggi. Dalam kondisi tertentu, harga perak dapat melonjak cukup signifikan, tetapi juga berpotensi mengalami penurunan tajam.
Secara umum, emas lebih cocok untuk investasi jangka panjang bagi investor yang mengutamakan stabilitas dan perlindungan nilai. Logam mulia ini juga sering digunakan sebagai penyeimbang portofolio di tengah ketidakpastian ekonomi.
Sementara itu, perak lebih sesuai bagi investor yang siap menghadapi fluktuasi harga lebih tinggi. Potensi keuntungannya bisa lebih besar dalam periode tertentu, terutama ketika permintaan industri meningkat.
Pada akhirnya, pilihan antara emas dan perak sangat bergantung pada tujuan investasi, profil risiko, serta jangka waktu investasi yang diinginkan. Diversifikasi aset juga menjadi langkah penting agar risiko investasi dapat lebih terkendali.



