Produksi Dipangkas, RI Amankan 150 Juta Ton Batu Bara Buat Domestik

cnbcindonesia.com
9 jam lalu
Cover Berita
Foto: Batu Bara Black Diamond (Dok: Black Diamond Resources)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan pasokan batu bara untuk kebutuhan domestik akan tetap diprioritaskan. Sekalipun pemerintah tengah mengevaluasi produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 sekitar 600 juta ton.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan bahwa pihaknya telah mengamankan sekitar 150 juta ton batu bara untuk kebutuhan domestik melalui skema Domestic Market Obligation (DMO). Angka ini mengacu pada ketentuan kewajiban pasokan domestik sebesar 30% dari total produksi batu bara.

"Artinya 150 juta kita amankan dulu. Nah nanti kan kita untuk smelter itu tidak diakui, tidak kita akui sebagai DMO. Mudah-mudahan kalau misalnya nanti ini, terus nanti misalnya ada kekurangan yang kita naikkan," kata Tri di Kementerian ESDM, dikutip Selasa Selasa (10/3/2026).


Baca: Harga Minyak Dunia Melonjak, Pemerintah Kaji Dampak ke Harga BBM

Lebih lanjut, Tri membeberkan alokasi DMO tersebut terutama diperuntukkan bagi sektor-sektor strategis seperti pembangkit listrik dan industri pupuk. Khususnya yang sangat bergantung pada pasokan batu bara domestik.

Sebelumnya, Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLSI) buka suara mengenai kondisi terkini suplai batu bara untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batu Bara. pada intinya, pada tahun ini ada pengurangan suplai dari para badan usaha pertambangan.

Ferry Dwi Nugraha, Wakil Ketua Komite Primary Energy Value Chain APLSI menyampaikan, bahwa sempat terjadi penurunan suplai batu bara dari supplier lantaran belum jelas produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.

"Kalau dua bulan lalu ada disruption, tapi mulai normal karena ada penugasan ke beberapa produsen batu bara," terang Ferry dalam Mining Forum CNBC Indonesia, "Apa Kabar Industri Tambang RI?", Jumat (6/3/2026).

Jika suplai batu bara terus tersendat, Ferry menilai, dampaknya kemungkinan PLTU akan mengalami shutdown dengan mematikan setengah dari kapasitas yang ada. Bahkan, yang terburuk, pemadaman listrik.

"Masih jauh mungkin, PLN memperhitungkan dulu baru pemadaman. PLN akan menyalakan pembangkit BBM, mungkin bisa bahan bakar minyak tapi gak terlalu lama (listriknya), karena biaya produksi listrik batu bara Rp 1.200/kWh sementara BBM Rp 5.000/kWh," terang Ferry.


(pgr/pgr) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Pro dan Kontra Kebijakan RKAB 2026, DPR RI Dukung Pemerintah

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Update Korban Longsor TPST Bantargebang: 6 Tewas, 6 Selamat, 1 Hilang
• 20 jam laluokezone.com
thumb
Pramono Anung Ingatkan Dampak Konflik Timur Tengah terhadap Ketahanan Ekonomi
• 19 jam lalutvrinews.com
thumb
Mau Beli Mobil Listrik buat Mudik? Cek dulu Harganya!
• 10 jam lalumedcom.id
thumb
KPK Turut Tangkap Wakil Bupati Rejang Lebong dalam OTT
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Irene Red Velvet Umumkan Tanggal Comeback untuk BIGGEST FAN-TASY
• 12 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.