MALANG, KOMPAS – Empat mahasiswa Universitas Brawijaya menciptakan alat pendeteksi dini kanker payudara. Inovasi tersebut juga menjadi juara kedua dalam International Student Competition 2026 yang diselenggarakan University Putra Malaysia.
Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) tersebut adalah Dastino Putra Rendy Lovind dan Anggie Fadillah Dwiva. Mereka mahasiswa Program Studi Teknik Bioproses di Fakultas Teknologi Pertanian (FTP). Dua lainnya, Livy Noer Azizah dan Rifda Alfia Safina dari Prodi Ilmu dan Teknologi Pangan FTP.
“Kami mengusung BUDDY (Breast Urgency Detection Device with Thermography). Ini merupakan sistem deteksi dini kanker payudara yang mengutilisasi kamera termal. Sistem ini dapat dijalankan melalui aplikasi di ponsel dan dapat memberikan hasil secara cepat dalam 5-10 detik,” kata Dastino, Selasa (10/03/2026).
Menurutnya, alat pendeteksi dini kanker payudara lahir dari kepekaan tim atas semakin banyaknya masyarakat menderita kanker payudara tingkat akut. Artinya, deteksi dininya belum dilakukan maksimal.
Menurut Dastino, kanker payudara merupakan salah satu kanker yang sebenarnya bisa dideteksi dini dengan dua cara. Pertama lewat pemeriksaan payudara sendiri (sadari). Kedua, dengan pemeriksaan payudara klinis (sadanis).
Akan tetapi, kedua cara itu kerap belum berjalan ideal. Selain ada faktor ketidaknyamanan warga, hal itu dipengaruhi rendahnya edukasi deteksi mandiri.
“Itu sebabnya, kami mencoba membuat alternatif pemeriksaan yang dapat dilakukan sendiri di rumah,” kata Dastino.
Dastino menjelaskan, cara kerja aplikasi buatan mereka sederhana. Setelah diminta mengisi survei, pengguna akan difoto menggunakan kamera termal. Jaraknya 60 sentimeter secara horizontal dari payudara. Selanjutnya, data tersebut akan dikirim ke sistem BUDDY melalui server hosting.
“Kecerdasaan buatan yang telah dilatih lantas menggunakan ribuan foto sampel dari anotasi Roboflow lalu YOLOv8 akan menunjukan hasil analisanya. Deteksinya melingkupi lokasi, ukuran, dan jenis stadium kanker payudara,” kata Dastino.
Garis besarnya, menurut Dastino, aplikasi BUDDY dibagi menjadi dua bagian. Yaitu mata untuk melihat (berupa kamera termal) dan perangkat lunak yang menjadi otaknya. Dia menambahkan, BUDDY, telah didaftarkan hak paten bernomor EC00202467457 dengan tanggal pemohonan 18 Juli 2024.
Akan tetapi, kisah keberhasilan mereka mendeteksi dini kanker payudara dan kesuksesan mereka di Malaysia bukan tanpa drama. Dastino dan tim, misalnya, sempat kesulitan membayar biaya registrasi finalis.
Beruntung, lewat dukungan fakultasnya hingga penggalangan dana mandiri, tim bisa berkompetisi di Malaysia. “Agar mahasiswa berani mengikuti lomba international, kami berharap kampus dapat memberikan bantuan lebih banyak, khususnya pendanaan,” harap Dastino.
Pelajaran lain yang bisa diambil, Dastino dan tim berharap mahasiswa tidak takut mencoba segala macam lomba nasional atau internasional. Alasannya, kemenangan hanya dapat dicapai lewat keberanian mencoba terlebih dahulu.
“Kami berharap ide ini bisa dikomersialisasikan atau dibantu pengembangannya oleh pemerintah,” kata Dastino.
Kepala Subdivisi Kehumasan UB Tri Wahyu Basuki, mengatakan, inovasi dan prestasi tersebut menjadi salah satu indikator keberhasilan menjadi ‘Kampus Berdampak’. Hal itu sesuai program prioritas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
”Kemdiktisaintek berharap transformasi perguruan tinggi menjadi agen perubahan sosial, ekonomi, dan lingkungan. Fokusnya bukan hanya pada lulusan siap kerja, tetapi kontribusi nyata mahasiswa dan dosen dalam menyelesaikan masalah masyarakat,” kata Tri Wahyu.





