Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin mengungkap angka percobaan bunuh diri pada remaja di Indonesia meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan hasil survei kesehatan pelajar, jumlah remaja yang mencoba bunuh diri meningkat hingga 2,7 kali lipat.
Budi mengatakan, temuan tersebut berasal dari Global School-based Student Health Survey yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan bersama World Health Organization, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional.
“Yang diukur apa? Dua hal. Anak-anak yang berpikir mau bunuh diri, sama anak-anak yang sudah mencoba untuk bunuh diri. Dan yang surprising ke kita adalah angkanya naik tinggi," ujar Budi dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Senin (9/3).
"Yang berpikir untuk bunuh diri itu naik dari 5,4% ke 8,5%, jadi naik 1,6 kali. Yang mencoba, naiknya lebih tinggi dari 3,9% sampai 10,7% atau naik 2,7 kali lipat,” tambah dia.
Selain data survei tersebut, pemerintah juga mencatat kasus bunuh diri pada anak melalui laporan lembaga perlindungan anak dan layanan bantuan kesehatan mental. Data menunjukkan ratusan anak telah mengakhiri hidupnya dalam dua tahun terakhir.
“Data dari KPAI dan data Healing 119 itu sama KPAI itu Komite Perlindungan Anak Indonesia ya. Yang menunjukkan data dia periode 2023-2024 ada 115 anak yang bunuh diri mengakhiri hidupnya ya. Mayoritas usia tadi 11 sampai 17,” kata Budi.
Menurutnya, penyebab utama anak dan remaja mengalami dorongan bunuh diri bukan hanya karena kondisi psikologis individu, melainkan juga berasal dari faktor lingkungan terdekat mereka.
“Yang nomor satu, surprisingly bukan dari psikologi anaknya tapi dari keluarganya ya. Jadi kalau keluarganya keluarga konflik, kemudian ada masalah di pola pengasuhan, itu menjadi salah satu penyebab yang paling tinggi untuk bunuh diri,” ujarnya.
Faktor berikutnya berasal dari lingkungan sosial dan pendidikan, terutama perundungan serta tekanan akademik di sekolah.
“Yang kedua adalah lingkungannya tuh. Lingkungan tuh saya lihat yang perundungan dan tekanan akademik. Perundungan itu dari lingkungan teman-temannya, tekanan akademik dari lingkungan pembelajarannya,” kata Budi.
Sementara itu, faktor psikologis dari anak sendiri justru berada pada urutan ketiga sebagai pemicu masalah kesehatan mental tersebut.
“Faktor yang ketiga adalah dari diri mereka sendiri, masalah psikologisnya,” ujarnya.
Melihat kondisi tersebut, pemerintah menilai pencegahan harus dilakukan sejak dini dengan memperbaiki pola asuh keluarga dan lingkungan sekolah. Budi menekankan peran orang tua dan guru sangat penting karena anak menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah dan di sekolah.
“Karena kalau kita bisa menjaga pola asuh yang bagus ya di level keluarga, kita bisa menjaga pola sosial dan pola pendidikannya bagus di sekolah, karena ini kan terutama mereka spend time-nya di sekolah kan, perundungan itu terjadi, itu bisa menurunkan secara drastis penyebab dari masalah kesehatan jiwa sehingga anak-anak ingin bunuh diri,” kata Budi.





