Nilai tukar rupiah di pasar spot menguat ke level Rp16.894 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Selasa (10/3/2026).
IDXChannel - Nilai tukar rupiah di pasar spot menguat ke level Rp16.894 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Selasa (10/3/2026). Mata uang Garuda naik 0,33 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di posisi Rp16.949.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.48 WIB, penguatan rupiah terus berlanjut hingga mencapai Rp16.889 per dolar AS atau menguat 0,35 persen. Pergerakan ini terjadi di tengah pelemahan indeks dolar AS yang turun 0,12 persen ke level 98,84.
Meskipun dibuka menguat, pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memprediksi rupiah tetap berisiko ditutup melemah di rentang Rp16.950 hingga Rp17.000 per dolar AS. Faktor utama yang menekan rupiah yaitu eskalasi konflik antara AS-Iran yang memicu lonjakan harga minyak mentah secara ekstrem.
"Harga minyak melonjak hingga 30 persen, jauh melampaui USD100 per barel dan mendekati level tertinggi yang terlihat selama awal perang Rusia-Ukraina pada 2022," kata Ibrahim, dikutip Selasa (10/3/2026).
Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, dinilai pasar sebagai sinyal bahwa kelompok garis keras masih memegang kendali penuh, sehingga konflik diprediksi tidak akan mereda dalam waktu dekat.
Dari sisi global, pasar juga mencermati data ekonomi China di mana inflasi konsumen tumbuh 1,3 persen secara tahunan pada Februari 2026, laju tercepat dalam tiga tahun terakhir. Namun, inflasi produsen masih mengalami kontraksi, menciptakan ketidakpastian mengenai keberlanjutan tren permintaan pasca-liburan.
Sementara itu, dari dalam negeri, investor menaruh perhatian serius pada ketahanan fiskal Indonesia. Harga minyak dunia yang menyentuh USD92 per barel telah melampaui asumsi makro APBN 2026 yang dipatok di level USD70 per barel.
"Ini akan menaikkan defisit sebesar Rp6,8 triliun. Apabila harga minyak terus meroket hingga mendekati atau bahkan melampaui USD100 per barel, dampaknya bakal fatal bagi fiskal nasional. Defisit APBN terhadap PDB bisa terdongkrak hingga mendekati 4 persen," ujarnya.
Ketegangan antara harga energi global dan disiplin fiskal domestik ini menjadi sentimen krusial yang menentukan arah nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu ke depan.
(Febrina Ratna Iskana)





