Apa yang Harus Dilakukan Investor di Tengah Gejolak Perang Iran-AS?

katadata.co.id
6 jam lalu
Cover Berita

Ketidakpastian global yang dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta lonjakan harga minyak dunia dinilai meningkatkan risiko terhadap pasar keuangan Indonesia. Dalam situasi tersebut, investor disarankan untuk lebih berhati-hati dan melakukan diversifikasi investasi guna melindungi nilai aset.

Head of Corporate Finance PT DBS Vickers Sekuritas Indonesia Kristanto Cahyadi mengatakan, terdapat sejumlah tekanan eksternal yang memengaruhi pasar keuangan Indonesia dalam beberapa bulan terakhir, sebelum adanya sentimen perang.

“Salah satunya warning dari MSCI terhadap equity market, kemudian juga peringatan dari lembaga pemeringkat,” ujarnya dalam acara diskusi peluncuran obligasi ORIS oleh PT SMI, Senin (9/3).

Dalam situasi penuh ketidakpastian ini, ia menilai investor tetap perlu berinvestasi dengan strategi yang lebih defensif. Salah satu instrumen yang dinilai menarik adalah obligasi yang memiliki imbal hasil lebih stabil di tengah risiko inflasi.

“Jadi sebagai investor, itu bagaimana kita melindungi funds atau will capital kita dari ancaman atau resiko inflasi di depannya?Jadi kita harus tetap berinvestasi, salah satunya mungkin dari instrumen obligasi yang benar-benar menarik,” katanya.

Kristanto menerangkan, eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya terkait ketegangan dengan Iran, menjadi faktor baru yang perlu diwaspadai investor karena berpotensi memicu lonjakan harga minyak global.

“Dalam kondisi harga minyak naik, saat ini bahkan ada risiko mencapai sekitar US$ 120 per barel. Ini tentu menjadi risiko terhadap inflasi,” katanya. 

Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga energi dapat memberikan tekanan tambahan bagi Indonesia karena masih berstatus sebagai negara pengimpor minyak. Kondisi tersebut dapat berdampak pada inflasi domestik, nilai tukar rupiah, hingga defisit anggaran pemerintah.

“Indonesia masih merupakan net oil importer. Jika harga minyak berada jauh di atas asumsi harga minyak Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP), maka akan berdampak pada inflasi, nilai tukar rupiah, dan juga terhadap defisit anggaran,” jelasnya.

Kristanto juga mengungkapkan bahwa tim riset internal DBS mencatat sedikitnya 16 serangan terhadap infrastruktur energi global dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak dunia.

“Pasar khawatir kenaikan harga minyak akan terjadi karena adanya serangan terhadap infrastruktur minyak dan gas,” ujarnya.

 Tekanan tersebut turut memengaruhi pasar saham domestik. Ia mencatat indeks saham Indonesia sempat mengalami tekanan dengan meningkatnya aksi jual di pasar, terutama dari investor domestik.

“Dalam kondisi yang serba tidak pasti seperti sekarang, kita melihat adanya penjualan di pasar. Bahkan penjualan lebih banyak dilakukan oleh investor lokal dibandingkan investor asing,” katanya.

Di tengah ketidakpastian ini, pasar keuangan memang tengah menghadapi tantangan dengan banyak narasi yang ikut menyebar sejak Januari ini. Sehingga menurutnya pilihan untuk diversifikasi investasi pada obligasi bisa menjadi pilihan saat ini. 

“Jadi sepertinya kalau kita lihat penjualan dari equity market itu menjadi lebih baik dari retail,” katanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kasus Narkoba Eks Kapolres Bima Kota, Bareskrim Buru 2 DPO Jaringan Koh Erwin
• 8 jam lalurctiplus.com
thumb
Bekasi Sharia Festival Semarakkan Ramadan di Grand Galaxy Park Bekasi
• 9 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Hadiri Panggilan Pemeriksaan Lanjutan, Komika Pandji Terima 17 Pertanyaan dari Bareskrim Polri
• 3 jam lalukompas.tv
thumb
Menkes BGS Siapkan 2.700 Posko Kesehatan di Jalur Mudik Lebaran 2026
• 21 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
BKOW Sulsel Berbagi Sembako untuk Warga Salahutu Jelang Idulfitri
• 53 menit laluharianfajar
Berhasil disimpan.