JAKARTA, KOMPAS.com - Longsornya gunungan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, telah menyebabkan lima orang tewas.
Adapun longsor terjadi pada Minggu (8/3/2026) sekitar pukul 14.30 WIB, saat sejumlah truk sampah tengah mengantre untuk membuang muatan di area pembuangan.
Longsor terjadi secara tiba-tiba ketika para sopir truk sedang menunggu giliran membuang sampah di TPST Bantargebang.
Baca juga: Kelola Sampah Perkotaan, Mendagri: Perlu Strategi dan Kepemimpinan yang Kuat
Sampah yang menggunung di TPST Bantargebang sendiri pernah disorot khusus oleh Presiden Prabowo Subianto.
Tidak tanggung-tanggung, persoalan TPST Bantargebang disinggung Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna terkait kinerja satu tahun pemerintahannya di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/10/2025).
Lantas, seperti apa sorotan Prabowo terhadap menggunungnya sampah di TPST Bantargebang yang disebutnya menimbulkan bahaya?
Baca juga: Prabowo Ingin Setiap Kelurahan Punya Alat Pengolah Sampah
Sampah yang Menggunung MembahayakanDalam sidang kabinet paripurna itu, Prabowo menyoroti pengelolaan sampah yang semakin mendesak untuk segera ditangani pemerintah.
Lantas, ia mendapatkan laporan soal menggunungnya sampah di TPST Bantargebang yang telah mencapai sekitar 55 juta ton.
Kondisi tersebut berpotensi membahayakan masyarakat yang tinggal di wilayah sekitar apabila tidak segera ditangani dengan pengelolaan yang tepat.
"Kalau tidak salah di Bantargebang itu saya dapat laporan sudah mencapai puluhan juta ton, 55 juta ton sudah menggunung. Kalau terjadi hujan deras dia bisa bisa membahayakan banyak kampung di sekitar situ," kata Prabowo.
Baca juga: Mendagri Dorong Integrasi Hulu–Hilir, Pengelolaan Sampah Tak Bisa Parsial
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Prabowo mengungkapkan bahwa Badan Pengelola Investasi Danantara akan membangun 34 pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa).
Pembangunan fasilitas tersebut tidak hanya dilakukan di Bantargebang, tetapi juga di sejumlah daerah lain yang menghadapi persoalan penumpukan sampah.
Selain untuk mengatasi masalah lingkungan, Prabowo menilai proyek PLTSa juga memiliki dampak strategis terhadap sektor pariwisata.
“Ini sangat strategis karena ini menyangkut kebersihan kesehatan ya, bagaimana kita berharap paling tidak bisa membersihkan sampahnya. Bisa kita bayangkan mau enggak turis datang ke tempat yang kotor yang jorok. Jadi ini strategis,” kata Prabowo.
Baca juga: Prabowo Panggil Mendiktisaintek ke Istana, Bahas Teknologi Pengelolaan Sampah Mikro
Pemerintah menargetkan pengolahan sekitar 33.000 ton sampah per hari yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik melalui sistem waste to energy.
Sistem tersebut direncanakan diterapkan di daerah yang menghasilkan lebih dari 1.000 ton sampah setiap hari.
Adapun kota dan wilayah yang menjadi prioritas awal pembangunan instalasi ini antara lain Yogyakarta, Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul, Denpasar, Kabupaten Badung, Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Depok, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Kota Tangerang, Medan, Kabupaten Deli Serdang, serta Kota dan Kabupaten Semarang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




