Kemenperin Pastikan Konflik Timur Tengah Tidak Berdampak Signifikan pada Industri Agro Nasional

pantau.com
8 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Kementerian Perindustrian menegaskan bahwa konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah tidak memberikan dampak signifikan terhadap kinerja industri agro nasional karena sebagian besar bahan baku sektor tersebut berasal dari dalam negeri maupun negara lain di luar kawasan konflik.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika menyampaikan bahwa industri agro Indonesia memiliki ketahanan yang cukup kuat terhadap gejolak geopolitik global.

"Industri agro itu kan pengolahan hasil-hasil alam kita. Jadi untuk bahan baku utama tidak ada isu yang berkaitan langsung dengan konflik di Timur Tengah," kata Putu Juli Ardika saat ditemui di Jakarta.

Sebagian besar bahan baku industri agro seperti minyak goreng, produk pangan olahan, hingga berbagai komoditas berbasis pertanian dipasok dari dalam negeri.

Dengan kondisi tersebut, konflik di kawasan Timur Tengah tidak secara langsung mengganggu ketersediaan bahan baku industri agro nasional.

Selain itu kebutuhan impor bahan baku industri agro juga umumnya tidak berasal dari negara-negara di kawasan Timur Tengah.

Sebagai contoh, gula industri seperti gula rafinasi lebih banyak diimpor dari Australia, Thailand, dan kawasan Amerika Latin.

Untuk bahan baku impor lainnya, sebagian besar juga telah masuk ke dalam negeri sebelum konflik terjadi.

Potensi Dampak pada Biaya Logistik

Meski tidak berdampak langsung terhadap pasokan bahan baku, konflik geopolitik global tetap berpotensi menimbulkan dampak tidak langsung bagi industri agro.

Dampak tersebut terutama berkaitan dengan peningkatan biaya distribusi dan logistik.

"Dampaknya lebih kepada biaya pengangkutan atau logistik," ujar Putu Juli Ardika.

Kementerian Perindustrian terus memantau perkembangan situasi global untuk mengantisipasi potensi gangguan rantai pasok.

Pemantauan tersebut juga dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan perubahan biaya logistik akibat dinamika geopolitik global.

"Alternatif-alternatif juga sudah kami siapkan agar tidak begitu berdampak pada industri agro," kata Putu Juli Ardika.

Pemerintah Waspadai Volatilitas Energi Global

Sementara itu Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa konflik di kawasan Timur Tengah berpotensi memicu volatilitas harga energi global.

Konflik tersebut juga berpotensi mengganggu jalur perdagangan internasional serta meningkatkan biaya logistik dan bahan baku industri.

"Kami terus memonitor perkembangan konflik di Timur Tengah karena kawasan tersebut salah satu pusat energi dunia dan jalur logistik global yang sangat penting. Setiap eskalasi konflik tentu berpotensi memengaruhi harga energi, kelancaran rantai pasok bahan baku industri, serta biaya logistik yang digunakan oleh sektor manufaktur," kata Agus Gumiwang Kartasasmita.

Salah satu faktor yang paling berpengaruh terhadap sektor industri adalah potensi gangguan distribusi energi global.

Hal tersebut berkaitan dengan kemungkinan penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur vital perdagangan minyak dunia.

Sekitar seperlima pasokan minyak dunia diketahui melewati jalur tersebut.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
PTPP Percepat Pembangunan Jalan West Residence IKN, Progres Tembus 65,85%
• 1 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Pemerintah Ini Mulai Hantam Oposisi, 40 Partai Politik Dibubarkan
• 5 menit lalucnbcindonesia.com
thumb
11 Penyerang Pilihan John Herdman di Timnas Indonesia, Siapa yang Paling Menonjol dan Bagaimana Statistiknya Musim Ini?
• 4 jam lalubola.com
thumb
JPU Ungkap Anggaran Pengadaan Chromebook Sentuh Rp 9,3 T, Hanya Dipakai Sekali Setahun
• 16 jam lalukompas.com
thumb
9 Rekomendasi Mobil yang Cocok untuk Gen Z
• 3 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.