Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan saat ini proses negosiasi agar dua kapal Pertamina di Teluk Persia masih berlangsung. Kapal bermuatan tersebut belum berhasil melewati Selat Hormuz yang merupakan jalur vital migas Timur Tengah ke Pasar Global.
"Ada dua kapal, dua kargo. Dua kargo. Secara speknya. Tapi sudahlah, itu masih dalam negosiasi kok. Insya Allah sebentar lagi, doain ya, sebentar lagi selesai," kata Bahlil saat ditemui di kantornya, Selasa (10/3).
Bahlil mengatakan, empat kapal tersebut berisi minyak mentah (crude oil). Berdasarkan catatan Katadata, terdapat 4 kapal milik Pertamina yang berada di Timur Tengah saat perang meletus akhir bulan lalu, yaitu:
- Kapal Gamsunoro yang sedang proses loading di Khor al Zubair - Irak,
- Kapal Pertamina Pride yang telah selesai melakukan proses loading dan sekarang sedang berlabuh di Ras Tanura - Arab Saudi,
- Kapal PIS Rinjani yang saat ini sedang berlabuh di Khor Fakkan - UAE,
- Kapal PIS Paragon yang sedang discharge berada di Oman.
Pjs Corporate Secretary Pertamina International Shipping (PIS) Vega Pita mengatakan dari 4 unit kapal milik PIS yang beroperasi di kawasan Timur Tengah, dua kapal tercatat telah beranjak dari area konflik, yaitu kapal PIS Rinjani dan kapal PIS Paragon.
Saat ini, terdapat 2 unit kapal yang masih beroperasi di kawasan Timur Tengah yakni VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro yang berada di Teluk Arab. “Kapal-kapal ini sedang menunggu situasi aman untuk dapat keluar melalui Selat Hormuz. Keduanya dalam kondisi aman,” kata Vega dalam keterangan tertulis, Selasa (10/3).
Dia menyebut kapal Gamsunoro melayani kargo milik konsumen pihak ketiga (third party). Sementara itu, VLCC Pertamina Pride sedang dalam mengangkut pasokan minyak mentah (light crude oil) untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.
Vega mengatakan Pertamina terus memantau intensif 24/7 secara real-time terhadap seluruh posisi armada, kru dan pekerja. Mereka juga menjalin koordinasi erat dengan otoritas maritim dan pihak berwenang setempat guna memastikan keamanan serta keselamatan seluruh kru kapal dan muatan yang dibawa.
Keterangan proses negosiasi dan keberadaan kapal juga menepis beredarnya video AI yang memuat informasi hoax bahwa dua kapal Pertamina sudah melewati Selat Hormuz.




