Riset Anthropic: AI Belum Sepenuhnya Menggantikan Pekerjaan Manusia

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Artificial Intelligence (AI) saat ini banyak digunakan oleh masyarakat dunia. AI mempermudah aktivitas manusia dari skala sehari-hari hingga profesional. Cara mengoperasikannya juga mudah dan praktis, bisa digunakan oleh berbagai kalangan.

Tinggal menulis perintah (prompt) yang diinginkan, AI akan mengerjakannya dalam waktu singkat. Karena kemudahannya dalam membantu manusia itulah, muncul asumsi bahwa AI akan "mencuri" pekerjaan manusia dalam waktu dekat.

Anthropic, sebuah perusahaan riset dan keamanan AI, punya temuan menarik soal asumsi tersebut. Mereka justru menunjukkan bahwa penggunaan AI di atas kertas dengan AI di lapangan masih terpaut jauh.

Ukuran Baru: Observed Exposure

Anthropic membeberkan temuan bahwa kecanggihan AI saat ini masih belum bisa seluruhnya menggantikan pekerjaan manusia. Temuan ini dapat dilihat dalam riset berjudul "Labor market impacts of AI: A new measure and early evidence" yang dirilis 5 Maret 2026.

Salah satu kontribusi utama riset ini adalah pengenalan ukuran baru bernama observed exposure—sebuah metrik yang mengombinasikan kemampuan teoritis AI dengan data penggunaan nyata di lapangan.

Berbeda dari pendekatan sebelumnya yang hanya mengukur apa yang bisa dilakukan AI secara teori, observed exposure mengukur tugas-tugas yang benar-benar dikerjakan AI dalam konteks profesional, dengan bobot lebih besar pada penggunaan yang bersifat otomatis penuh dibanding sekadar bantuan.

Penelitian ini menggunakan tiga sumber data: database O*NET yang mendaftar tugas dari sekitar 800 pekerjaan di Amerika Serikat, data penggunaan Claude milik Anthropic, dan penelitian terdahulu dari Eloundou dkk. terkait pengukuran kemampuan LLM (Large Language Model) dalam membantu pekerjaan manusia.

Teori vs Lapangan: Masih Jauh Berbeda

Anthropic menghitung kemampuan AI menggunakan data LLM milik Claude, yang dikelompokkan berdasarkan kode O*NET-SOC—sistem pengkategorian standar pekerjaan di Amerika Serikat.

Secara teoritis, AI paling menguasai bidang komputer dan matematika dengan angka mencapai 94 persen, disusul bidang administrasi dan perkantoran yang mencapai 90 persen.

Namun, jangkauan kemampuan AI secara teori masih terpaut sangat jauh dibandingkan data di lapangan. Contohnya, Claude saat ini hanya bisa menjangkau 33 persen dari semua tugas dalam bidang komputer dan matematika.

Para peneliti Anthropic mengibaratkan dampak AI bukan seperti pandemi COVID-19 yang langsung dan dramatis, melainkan lebih mirip dengan hadirnya internet atau gelombang perdagangan dengan China. Efeknya bersifat bertahap, sulit langsung terdeteksi dari data agregat, dan bisa tertutupi oleh faktor-faktor lain seperti kondisi siklus bisnis.

Pada grafik di atas, garis biru menunjukkan jangkauan AI secara teoritis sedangkan garis merah merupakan hasil di lapangan.

Pekerjaan Paling Terpapar AI

Saat ini, AI terbatas bisa membantu manusia dalam hal menulis, coding, berkomunikasi dengan pelanggan, memasukkan data, dan sejenisnya. Berikut 10 pekerjaan dengan tingkat paparan observed exposure tertinggi:

COVID-19 Lebih Banyak Bikin Orang Pengangguran

Dalam temuannya, Anthropic membeberkan bahwa kemunculan AI tidak serta-merta membuat tingkat pengangguran semakin tinggi. Mereka memberikan contoh kasus yang terjadi di Amerika Serikat menggunakan sumber data dari CPS (Current Population Survey) yang dilakukan oleh U.S. Bureau of Labor Statistics (BLS).

Data di atas terdiri dari dua grafik yang saling berhubungan. Grafik atas menunjukkan tingkat pengangguran dari dua pekerja, yaitu pekerja dengan paparan AI tinggi dan tidak terpapar AI. Garis merah untuk menandai pekerja yang terpapar AI, sedangkan garis biru untuk yang tidak terpapar AI.

Dalam 10 tahun terakhir, lonjakan pengangguran paling besar terjadi di 2020, yaitu saat pandemi COVID-19. Menariknya, pekerja yang tidak terpapar AI mengalami peningkatan pengangguran lebih tinggi dengan angka sekitar 17 persen, sedangkan pekerja yang terpapar AI berada di angka sekitar 11 persen.

Grafik di bawah menunjukkan hasil analisis apakah kemunculan AI mempengaruhi tingkat pengangguran dari dua kelompok. Setelah munculnya ChatGPT pada 2022, tidak ada dampak signifikan terhadap tingkat pengangguran. Garis berfluktuasi di angka -0,0020 yang hampir tidak bisa dibedakan.

Anthropic juga memaparkan bagaimana AI berdampak terhadap para pencari kerja golongan usia 22-25 tahun masih dalam penelitian yang sama.

Data di atas terdiri dari dua panel grafik. Panel atas menunjukkan persentase pencari kerja muda usia 22-25 tahun, terdiri dari garis merah yang berarti pekerja yang terekspos AI dan garis biru yang berarti pekerja yang tidak terekspos AI.

Meski pengangguran belum terpengaruh, ada sinyal awal yang mengkhawatirkan bagi pekerja muda. Anthropic menemukan bahwa peluang pekerja usia 22–25 tahun untuk memulai pekerjaan baru di bidang yang terpapar AI menurun sekitar 14,3 persen dibanding 2022. Artinya, perusahaan mulai lebih jarang merekrut tenaga muda untuk posisi-posisi yang tugas utamanya bisa dilakukan AI.

Temuan ini sejalan dengan penelitian independen lain (Brynjolfsson et al., 2025) yang mencatat perlambatan perekrutan serupa di kalangan pekerja muda. Para peneliti menduga perlambatan ini bukan karena PHK, melainkan karena pengurangan rekrutmen baru.

Sementara itu, selama ini banyak yang mengira AI paling mengancam pekerja bergaji rendah. Ternyata tidak. Anthropic menemukan bahwa pekerja yang paling terpapar AI justru rata-rata bergaji 47 persen lebih tinggi dari yang tidak terpapar.

Mereka juga cenderung lebih tua, lebih banyak perempuan, dan lebih berpendidikan. Pemegang gelar pascasarjana bahkan empat kali lebih banyak ditemukan di kelompok ini. Singkatnya, AI lebih dulu menggeser pekerjaan kantoran berpendidikan tinggi, bukan buruh atau pekerja lapangan.

Negara dengan Indeks Penggunaan Claude AI Terbanyak

Dalam publikasi terpisah, Anthropic merilis peringkat negara dengan indeks penggunaan Claude terbanyak di dunia. Peringkat tersebut dapat dilihat dalam publikasi berjudul 'Anthropic Economic Index: Understanding AI's Effects on The Economy' yang dirilis pada 15 Januari 2026.

Dalam pemeringkatan itu, Claude menggunakan angka 1 sebagai dasar perhitungan (baseline). Angka tersebut merujuk pada angka yang diekspektasikan dari populasi dan ekonomi sebuah negara.

Israel berada di peringkat pertama dengan indeks penggunaan 4,9. Artinya, Israel menggunakan Claude 4,9 kali lebih banyak dari yang diekspektasikan berdasarkan ukuran populasi dan ekonominya.

Di bawah Israel, ada Amerika Serikat yang memiliki indeks penggunaan sebesar 3,69. Selanjutnya adalah Swiss yang berada di peringkat ketiga dengan indeks penggunaan 3,21.

Indonesia sendiri berada di peringkat 75 dari 116 negara berdasarkan indeks penggunaan Claude. Menurut data tersebut, masyarakat Indonesia paling banyak menggunakan Claude bidang instruksi edukasi dan perpustakaan dengan persentase 37,1 persen.

Bidang selanjutnya yang paling banyak digunakan di Indonesia adalah komputer dan matematika, yaitu 19,6 persen. Kemudian, bidang seni, desain, hiburan, olahraga, dan media dengan persentase 4,8 persen.

Penulis: Safina Azzahra Rona Imani


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Al-Zahrawi: Dokter Muslim dan Bapak Bedah Modern yang Ciptakan 200 Alat
• 16 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Prabowo Rapat Bareng Purbaya hingga Bahlil di Hambalang, Bahas ini
• 13 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Politik kemarin, ada pejabat mengecewakan hingga kepala daerah siaga
• 12 jam laluantaranews.com
thumb
Tegas! Kapolda Goronalo Tak Segan Pecat Anak Buah Terlibat Narkoba
• 9 jam lalujpnn.com
thumb
Tarif Tol Batang-Semarang Resmi Naik Mulai 7 Maret 2026, Ini Rinciannya
• 7 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.