VIVA – Australia akan mengerahkan salah satu pesawat intai militer dengan sistem peringatan dini dan kendali udara E-7A Wedgetail buatan Boeing, selama empat minggu pertama untuk melindungi wilayah udara di atas negara-negara Teluk Persia, kata Perdana Menteri Anthony Albanese pada hari Selasa, 10 Maret 2026, dilansir CNA.
Australia juga akan memasok rudal canggih Air-to-Air jarak menengah ke Uni Emirat Arab, namun Albanese menyatakan Australia tidak akan mengirim pasukan darat ke Iran.
Dukungan tersebut diberikan kepada UEA, setelah panggilan telepon dengan Presiden Mohammed bin Zayed Al Nahyan, tambah Albanese. Albanese menegaskan dukungan militer Australia akan membantu negara-negara Teluk mempertahankan diri dari serangan tanpa provokasi dari Iran. Ia menekankan bahwa Australia "bukanlah protagonis".
"Keterlibatan kami murni bersifat defensif," kata Albanese kepada wartawan. "Dan itu untuk membela warga Australia yang berada di wilayah tersebut serta untuk membela teman-teman kami di Uni Emirat Arab."
Menteri Pertahanan Australia Richard Marles menyatakan bahwa pesawat tersebut diperkirakan tiba di kawasan itu pada pertengahan pekan dan mulai beroperasi pada akhir pekan, demikian bunyi laporan yang disampaikan, Senin.
Sekitar 115.000 warga Australia berada di Timur Tengah ketika konflik dimulai 11 hari yang lalu, dan 2.600 warga Australia kini telah kembali ke rumah melalui penerbangan komersial karena beberapa kota di Teluk dibombardir oleh Iran.
Pada 28 Februari, Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Tehran, yang menyebabkan kerusakan serta korban sipil.
Iran kemudian merespons dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah, sebagai bentuk pertahanan diri.
Perang tersebut secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur penting bagi seperlima minyak dan gas alam cair global, seiring dengan meningkatnya konflik.





